Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Dengan Opium

Candu dan Opium dalam Revolusi Indonesia

Sambil menunggu istri kontrol dokter di RS. PKU Muhammadiyah Surakarta selama lebih dari 3 jam, saya membaca buku Opium dan Revolusi: Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950). Buku selesai dibaca selepas isya’ sekira pukul 20.30 WIB. Secara singkat, kesimpulan umum yang dapat saya tarik dari membaca buku ini adalah besarnya peran opium/candu dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di masa pergolakan revolusi (1945-1950).

tanggal 8 Maret 1948, Kementerian Keuangan menyurati Kementerian Pertahanan untuk meminta kepolisian agar membantu memperdagangkan candu yang akan digunakan untuk delegasi Indonesia ke luar negeri, delegasi Indonesia di Jakarta dan membayar pegawai-pegawai RI – Djogdja Documenten no.230 ANRI Baca lebih lanjut

Iklan

Bacaan Pekan Ini, Unsur-Unsur Islam Dalam Pewayangan

image

Pekan ini saya dapat bacaan menarik. Judulnya, Unsur-unsur Islam Dalam Pewayangan, telaah atas penghargaan Wali Songo terhadap wayang untuk media dakwah Islam. Penulisnya Effendy Zarkazi. Penerbit bukunya, Yayasan Mardikintoko, Sala. Baca lebih lanjut

Pengumuman Naskah Ikhwan-Akhwat Jatuh Cinta [Kisah Nyata]

Copyright Gambar @ Mas Ardi Wonogiri - Pesma Arroyyan Solo

Copyright Gambar @ Mas Ardi Wonogiri - Pesma Arroyyan Solo

Tak mudah memang untuk memilih naskah yang terbaik diantara ratusan naskah yang tersaji di depan kita. Selama satu bulan lebih beberapa hari ini, aku cukup disibukkan untuk membaca puluhan naskah yang berisi kisah-kisah jatuh cinta orang-orang yang selama ini dikenal atau sering disebut dalam komunitas Ikhwan-Akhwat. Ada kenikmatan tersendiri ketika membaca kisah-kisah nyata yang ditulis puluhan orang itu. Namun menyeleksi tak semudah yang kubayangkan. Aneka kesibukanku dengan pekerjaan kantor yang terus mengalir tak henti-hentinya menjadi hambatan sekaligus tantangan tersendiri bagiku untuk segera bisa menyelesaikan membaca naskah yang di depan mata.

Setelah melalui proses panjang dan berliku-liku serta cukup melelahkan, akhirnya aku (untuk sementara) berhasil menyelesaikan naskah-naskah yang kubaca. Baca lebih lanjut

#3 Kebudayaan Penduduk Pantai Utara Papua

Sistem Kekerabatan

Suatu rumah didiami oleh keluarga-batih. Ayah, ibu, menantu, cucu, atau saudara perempuan isteri dengan suaminya. Seorang kepala keluarga batih tercatat dalam buku gereja yang juga merupakan register desa dengan nama Kristen.

Kalau mereka hendak menikah ada syarat yang penting yaitu mengumpulkan mas kawin atau krae. Yang terdiri dari rangkaian kerang dengan hiasan kerang bundar disebut sebkos (bulan) sebuah kalung dari bitem, tali kulit kayu yang disebut weimoki. Adapun benda toko antara lain piring, perabot dapur bahan makanan kaleng. Selain benda-benda tersebut suatu krae jugaditambah dengan uang. Baca lebih lanjut

#2 Kebudayaan Penduduk Pantai Utara Papua

Bentuk Desa dan Pola Perkampungan

Rumah di desa Daerah Pantai Utara merupakan suatu bangunan persegi panjang. Di atas tiang-tiang dengan tinggi keseluruhan adalah 4,50 meter, dengan didalamnya satu-dua ruangan lain untuk tempat tidur. Rangka rumah dibuat dari balok-balok dengan tali rotan; dinding-dinding terbuat / terdiri dari tangkai-tangkai kering lurus panjang dari daun sagu yang disusun sejajar rapi dan diikat dengan tali rotan juga, dinding tersebut dengan nama Ambon-nya dinding gaba-gaba. Lantai terdiri dari srip-strip panjang dari kulit pohon bakau, yang disusun rapi dan bercelah hampir 1 meter yang bisa menjobloskan kaki. Penempatan rumah baru menurut adat istiadat Pantai Utara pada umumnya memerlukan pesta besar, bernama nuanyadedk dengan adanya penukaran pemberian antara kerabat isteri si penghuni dengan kerabatnya sendiri yang menjadi tamu pada upacara tersebut. Baca lebih lanjut

#1 Kebudayaan Penduduk Pantai Utara Papua

Sumber :  Klik Aja Pada Gambar

Sumber : Klik Aja Pada Gambar

Sebuah ringkasan dari buku Koentjoroningrat

Identifikasi

Kebudayaan penduduk Papua (Irian Jaya) tidak merupakan suatu kesatuan, tapi beraneka ragam. Pada umumnya dapat dibedakan dari penduduk cendrawasih, penduduk rawa-rawa di daerah pantai utara, penduduk pegunungan Jaya Wijaya, penduduk di sungai dan rawa di bagian selatan dan penduduk daerah sabana di bagian selatan. Dan ada pula berbagai daerah kebudayaan yang berbeda di Papua Nugini.

Ada bahasa Irian Jaya yang termasuk keluarga bahasa Melanesia, disamping itu ada juga bahasa Irian. Keluarga bahasa-bahasa Irian tersebut dapat dibagi menjadi beberapa keluarga khusus dan yang satu dengan yang lain tak ada sangkut pautnya. Terutama Irian Jaya bagian Teluk Cendrawasih dan daerah pantai utara. Di daerah tersebut ada bahasa yang hanya diucapkan 100 orang bahkan ada bahasa yang lebih kecil lagi. Baca lebih lanjut

Selesai Membaca Negeri 5 Menara

Novel Negeri 5 Menara

Gara-gara sakit, atau lebih tepatnya kurang enak badan, alhamdulillah aku justru bisa beristirahat di rumah selama liburan di Solo. Sambil istirahat, aku juga bisa merampungkan membaca novel Negeri 5 Menara yang sepekan sebelumnya kubeli di Kwitang, Jakarta Pusat dengan harga Rp. 18.000,-.

Negeri 5 Menara atau disebut pencintanya dengan N5M adalah novel motivasi yang ditulis oleh seorang alumni Kulliyatul Mu’allimin (KMI) pondok pesantren modern Gontor, Ahmad Fuadi. Ia merupakan seorang santri yang berhasil melanjutkan sekolah dan studinya hingga ke luar negeri, tepatnya di Amerika Serikat. Ia berhasil menaklukkan The George Washington University di kota Washington DC dan Royal Holloway, Universitas London, Inggris, dan menggondol gelar MA. Puluhan beasiswa juga berhasil ia raih sebagai bukti prestasinya.

Mungkin karena ingin mengabadikan kesannya saat masuk di sebuah pesantren di Ponorogo itu, Fuadi lantas menuangkannya dalam tulisan berbentuk karya sastra berjudul novel Negeri Lima Menara. Novel itu sendiri sebenarnya berkisah tentang kehidupan para santri di sebuah pesantren di Ponorogo. Fuadi menyebutkan pesantren itu dengan nama Pondok Madani (PM) yang sebenarnya tidak lain tidak bukan adalah Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo itu sendiri. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: