Pro-Kontra Full Day School

Tabel PendidikanBelum genap 1 bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy membuat sebuah gagasan atau wacana yang dibuka ke publik, yaitu Full Day School (FDS). Tak perlu waktu lama, gagasan itu pun menuai polemik dan pro-kontra di masyarakat. Hal sama pula yang terjadi saat isu ini penulis bagi di beberapa group Whatsapp.

Dari sejumlah group Whatsapp, mereka yang menyatakan setuju dengan ide dan gagasan itu mensyaratkan dalam FDS tidak ada Pekerjaan Rumah (PR), tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Tapi cukup di kota-kota besar saja yang orangtuanya kebanyakan sama-sama kerja. Sebagian lain setuju gagasan FDS dengan pertimbangan “daripada anak di rumah sama pembantu atau main-main tanpa arah sebelum orang tua pulang dari kerja”. Ada juga yang setuju dengan gagasan itu karena mereka merasa sekolah FDS mampu memberikan hasil pendidikan yang lebih baik. Baik dari sisi akhlak, perilaku, akademik, atau bakat. Baca lebih lanjut

Surat Instruksi Dinas Pendidikan Boyolali Mobilisasi Siswa Ikut Goyang INBOX SCTV

Instruksi Dikpora Kabupaten Boyolali tentang mendatangi acara INBOX

Instruksi Dikpora Kabupaten Boyolali tentang mendatangi acara INBOX

Lagi-lagi, ada-ada saja kelakuan lembaga pendidikan pemerintah di Indonesia. Kali ini yang nyeleneh giliran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Disdikpora Boyolali diketahui melakukan mobilisasi siswa SMA dan SMK secara resmi kelembagaan untuk menonton pertunjukkan program musik Inbox stasiun televisi SCTV. Instruksi itu dituangkan melalui Surat Edaran (SE) bernomor 421.3/453/14/2014 perihal edaran kegiatan Inbox Live di Alun Alun Boyolali. Surat itu diteken Kepala Bidang (Kabid) SMA dan SMK, Suyanta, ditujukan kepada seluruh kepala sekolah SMA dan SMK negeri dan swasta (gambar surat lihat di atas). Baca lebih lanjut

Pendiri Universitas Tertua di Dunia Seorang Wanita Muslimah?

Universitas Qairuwan

Universitas Qairuwan

Dunia boleh terpana dengan kewibawaan dan gengsi kampus-kampus besar di dunia seperti Harvard, Oxford, atau Al Azhar. Saat ini kampus itu boleh dibilang merupakan kampus-kampus populer di seantero jagad. Namun kampus populer bukan berarti kampus tertua. Meskipun kampus-kampus itu saat ini terkenal, namun bukan dari situ pendidikan tinggi bermula. Mereka memang termasuk kampus-kampus tua di dunia, tapi bukanlah kampus yang pertama.

Menurut collegestats.org, kampus yang pertama kali didirikan di dunia ini adalah Universitas Al Karaouine (Al-Qarawiyyin). Menurut situs tersebut, kampus Al-Qarawiyyin didirikan pada tahun 859 M di kota Fes, Maroko. Hebatnya, pendirinya seorang wanita muslimah bernama Fatima Al Fihri.

Baca lebih lanjut

Pahami Kosakata Asing Dengan Lebih Utuh!

Pahami Kosakata Asing Dengan Lebih Utuh!

Barusan ubek-ubek file notepad lama yang nongkrong di hardisk ternyata ada rintisan tulisan yang belum selesai ditulis berbicara tentang penerjemahan bahasa. Awalnya tulisan ini merespon atau melengkapi atau justru bikin ruwet posting Asop pada tanggal 6 Juni 2010 silam. Saat itu Asop berbicara tentang kosakata rule dan ruler yang diterjemahkan berbeda di dalam bahasa Indonesia. Rule sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai aturan atau menguasai. Sementara ruler diterjemahkan dengan penggaris atau penguasa.

Dalam bahasa Inggris kita sering mengenal kosakata-kosakata berakhiran -er seperti ruler, runner, dan boxer yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya biasanya berawal pe- seperti pengatur, pelari, dan petinju. Seolah-olah kata bahasa Inggris berakhiran -er serta merta diartikan dalam bahasa Indonesia dengan awalan pe- begitu saja.

Dalam beberapa kesempatan, penerjemahan seperti itu memang lebih memudahkan. Namun jika kita mencoba memahami kosakata-kosakata asing yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia umumnya memilki makna yang lebih luas dari terjemahannya. Sebagai misal kata RULE yang kusebut di atas.

Kata RULE kalau dalam bahasa Inggris memiliki beberapa arti antara lain: 1. Governing power or its possession or use; authority, 2. A usual, customary, or generalized course of action or behavior, dll. Sementara di dalam bahasa Indonesia, kata RULE bisa diterjemahkan ke dalam beberapa arti seperti: kb. 1 peraturan. 2 kebiasaan. 3 kekuasaan. 4 kaidah. 5 belebas, mistar. -kkt. 1 menguasai (s.o.). 2 memerintah (a country). 3 mengepalai (an office). 4 menguasai, mengendalikan (o’s possions). 5 memutuskan. 6 menggarisi. –ruling kb. Putusan. Memperhatikan arti-arti kata RULE di atas, sebenarnya bisa kita artikan bahwa RULE memiliki arti yang berhubungan dengan unsur-unsur mengatur atau menguasai. Baca lebih lanjut

Upacara SD dan Mars Lagu NDM

Satu hal yang tak terlupa di zaman SD dulu adalah saat upacara, baik upacara bendera setiap hari Senin atau upacara hari-hari besar nasional seperti hari Kartini, hari Pendidikan Nasional, hari Kebangkitan Nasional, dan lain-lain. Hampir setiap upacara, pasti ada saja murid-murid yang di-strap di halaman depan lapangan upacara. Itulah yang bikin upacara (khususnya upacara bendera setiap hari Senin) sebagai pengalaman mengesankan sekaligus menjengkelkan yang tak terlupakan.

Sudah merupakan sebuah aktivitas rutin kala itu bagi segenap warga sekolah dasar Islam NDM, pada setiap hari Senin pagi tepat pada pukul 07.00, diadakan upacara bendera di halaman sekolah berukuran sedang. Sebagaimana halnya perilaku dan tingkah polah anak SD pada umumnya, perlu dikomandoi bu guru dan pak guru dengan teriakan dan ancaman pecutan penggaris kayu atau rotan terlebih dahulu barulah kami -para murid-murid- bisa berbaris rapi dan diam.

Regu kelas 6 berada di sisi sebelah selatan halaman. Sementara kelas 5 berada di sisi sebelah barat halaman paling ujung selatan. Kemudian berturut-turut di sisi sebelah utaranya diikuti regu kelas 4 dan kelas 3. Kelas 1 dan kelas 2 berada di sisi sebelah utara halaman. Sedangkan sisi sebelah timur diperuntukkan kepada Bapak / Ibu guru serta para petugas upacara. Khusus bagi yang terlambat, diminta membuat barisan kelompok sendiri di sela-sela antara kelompok kelas 3 dan kelas 2. Terkadang, siswa yang terlambat disuruh berada di luar sekolah menunggu pintu gerbang dibuka seselesainya upacara. Baca lebih lanjut

“Mahasiswa Yang Suka Demo Dilarang Menjadi PNS”

Komentar Kawan Dalam Diskusi di Facebook

Komentar Kawan Dalam Diskusi di Facebook

Mahasiswa Yang Suka Demo Dilarang Menjadi PNS”

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi MahasiswaMahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh? & Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

Lebih jauh lagi, seorang kawan mempertegas komentarnya yang lebih tidak masuk akal di otakku. Ia menulis, “Note : yg suka demo,sya harap tidak mendftar PNS, menjilat ludah sndiri namany jika mengkritik negara akhrnya jdi abdi negara.”

Barangkali kawanku itu tidak bisa berdiskusi dengan membuat rumusan pembatasan masalah yang sedang dibicarakan. Berawal dari pembicaraan tentang isu demonstrasi dan mahasiswa bodoh serta isu bencana, akhirnya menyeret kepada LARANGAN atau himbauan untuk mendaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Logika yang disusun kawanku itu barangkali adalah menggunakan kaidah, “Jika biasanya mengkritik negara, pemerintah, dan semua unsur-unsurnya; bila akhirnya justru menjadi seorang abdi negara (PNS), maka disebut dengan menjilat ludah sendiri.” Baca lebih lanjut

Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

 

Jangan Diam!!! (Sumber Solindo - klik pada gambar)

Jangan Diam!!! (Sumber Solindo - klik pada gambar)

Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi Mahasiswa & Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?

Aku pribadi merupakan seseorang yang tidak mudah untuk melakukan aksi unjuk rasa atau berdemonstrasi dengan cara turun ke jalan. Aku pun juga boleh dikata salah seorang manusia yang membenci konsep demokrasi. Dan pada saat ini aku menulis sisi demonstrasi mahasiswa dalam sudut pandangan demokratis (meskipun sekali lagi aku membenci sistem kenegaraan demokrasi).

Masih melanjutkan pembicaraan tentang mahasiswa dan demonstrasi, ada seorang kawan yang berkomentar bahwa demonstrasi adalah bentuk sikap egoisme dan egosentris. Hanya mementingkan kepentingan pribadi dan tidak memiliki solusi. Puncaknya, dia membenci setiap aktivitas dan kegiatan yang bernama demonstrasi. Okelah, membenci dan menyukai sesuatu pada prinsipnya adalah sah-sah saja dan hak setiap orang untuk menyukai atau membenci sesuatu tersebut. Namun, di dalam negara demokrasi (yang sekali lagi kutegaskan bahwa demokrasi adalah sistem yang sangat kubenci) aktivitas demonstrasi sangat diperbolehkan dan bahkan menjadi salah satu ciri sebuah negara dikatakan demokratis atau tidak.

Sekelompok mahasiswa atau kelompok manapun dan siapapun yang melakukan demontrasi, pada hakikatnya diperbolehkan dan dilegalkan di negara demokrasi. Jika kita membenci demonstrasi dan berniat menghilangkannya dari kehidupan kita, maka langkah strategis yang ditempuh adalah mengakhiri kekuasaan demokrasi di negara ini. Meskipun hal itu tidak menjamin hilangnya demonstrasi. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: