Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal

KH. Hasan Abdullah Sahal

KH. Hasan Abdullah Sahal

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor saat pembekalan untuk calon Orang Tua Santri kemarin.

“Kalau mau punya anak bermental kuat, orang tua-nya harus lebih kuat, punya anak itu jangan hanya sekedar sholeh tapi juga bermanfaat untuk umat, orang tua harus berjuang lebih..ikhlas..ikhlas.. ikhlas..”

“Anak-anakmu di pondok pesantren gak akan mati karena kelaparan, gak akan bodoh karena gak ikut les ini dan itu, gak akan terbelakang karena gak pegang “gadget”.”

“Insya Allah anakmu akan dijaga langsung oleh Allah karena sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Alquran..yakin.. yakin..harus yakin..”

“Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu, karena menuntut ilmu agama dari pada kamu nanti yen wes tuwo nangis karena anak-anak mu lalai urusan akhirat.. kakean mikir, rebutan bondo, pamer rupo..lali surgo..

(kalau sudah tua menangis karena anak-anak kamu lalai terhadap urusan akhirat….kebanyakan memikirkan urusan dunia, berebut harta, pamer rupa wajah…lupa surga).

Gontor, 16 Juli 2016

Saran & Nasehat Unik Untuk Para Jomblo

Sebuah nasehat untuk para perjaka, jomblo, dan segala nama sinonimnya……………..

Jomblo is my way?

Jomblo is my way?

Yakin mau bilang gitu?
Yakin mau hidup terus menerus jadi jomblo?Yakin mau sampai mati terus jomblo?
Terlalu lama menjomblo itu ngga enak lho bro. Sumpah deh…. Baca lebih lanjut

Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Belajar

 

Ilustrasi [Copyright @ Benny Sugiarto Eko Wardojo | sumber: http://www.pixoto.com/]

Ilustrasi [Copyright @ Benny Sugiarto Eko Wardojo | sumber: http://www.pixoto.com/%5D

Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Belajar

Seorang pria tua duduk di baris terdepan. Rambut dan janggutnya sudah sangat sempurna beruban. Dengan peci putih dan rompi biru yang menutupi baju koko, ia duduk bersila menatap menyimak seksama. Matanya tertuju ke layar LCD di depan sebelah kanan. Sesekali perhatiannya tertoleh ke kiri kepada pemateri. Ia nampak mencoretkan sejumlah keterangan di kertas catatan.

Namanya Mukhlisun. Pak Mukhlis, aku memanggilnya. Berasal dari Buton, ia terbang ke Purwakarta mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan Khilafatul Muslimin, sebuah ormas Islam. Ia merupakan peserta pelatihan paling tua diantara lebih dari dua puluh orang yang datang dari penjuru nusantara. Baca lebih lanjut

Antara Kendi dan Genthong, Sebuah Pelajaran Hari Ini

Ilustrasi Ilmu Adalah Cehaya

Tahukah kamu apa itu Genthong? Genthong (Jawa) dalam bahasa Indonesia lebih dikenal atau disebut dengan istilah Tempayan. Yaitu, sejenis tempat / wadah yang terbuat dari tanah liat (tembikar) yang memiliki ciri bermulut besar, dengan perut yang juga besar, dan tidak memiliki lubang aliran selain dari mulutnya. Biasanya, Genthong atau tempayan digunakan untuk menampung air atau menyimpan beras dan bahan makanan lainnya. Menurut wikipedia, Genthong (selanjutnya disebut tempayan) berasal dari negeri China, dan biasa digunakan untuk menyimpan barang, makanan, air dan sebagainya. Bahkan di beberapa tempat, tempayan malah digunakan untuk menyimpan mayat di kalangan orang pribumi Borneo. Selebihnya, beginilah bentuk tempayan.. (arahkan mouse kamu di sini atau klik di sini).

Sementara kendi, sejauh yang kutahu dalam bahasa Indonesia juga dikenal dengan istilah kendi (CMIIW), adalah tempat air seperti teko yang terbuat dari tanah liat. Ciri khas kendi adalah memiliki mulut yang relatif kecil dan memiliki perut yang cukup besar, namun memiliki lubang untuk mengalirkan air dari dalamnya selain lubang mulutnya. Kendi dikenal di seluruh dunia dan berkembang di Mesir, China, Jepang, Thailand, dan tentunya Indonesia. Biasanya, kendi dimanfaatkan untuk minum dan upacara adat Jawa. Selebihnya, beginilah bentuk kendi.. (arahkan mouse kamu di sini atau klik di sini).

Lantas, ada apa dengan Kendi atau tempayan ?? Tidak ada apa-apa. Nah Lho 😀 !!! Baca lebih lanjut

Jangan Lemah !

Jangan Lemah !

DIHARAMKAN bagi seorang manusia beriman untuk bersikap LEMAH dan DIHARAMKAN PULA (mudah) bersedih hati, padahal (JIKA KAMU BERIMAN) MAKA sebenarnya KAMULAH orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 139) Baca lebih lanjut

Pentingnya Huruf N Dalam Hidup

Pentingnya Huruf N

Posting kali ini sangat sederhana dan pendek saja. Aku ingin berkontemplasi serta brainstorming simpel bersama kamu tentang betapa pentingnya arti huruf N dalam kehidupan menuju masa depan yang senantiasa kita rintis entah sampai mana akan berujung. Kita tak tahu karena semua yang terjadi pada masa depan hanya Allah sajalah yang Maha Tahu. Subnahallah wal hamdulillah wallahu akbar.

Oke langsung saja, sadarkah kalian betapa dalam mengarungi hidup ini kita butuh perjuangan ? Alhamdulillah jika kamu meng-iya-kannya. Artinya kita memiliki satu kesamaan tentang arti hidup yang membutuhkan perjuangan. Artinya kita sepakat bahwa tak ada sesuatu yang dapat kita raih begitu saja tanpa berusaha.

Hal sederhana, minum misalnya, tak mungkin bisa kita lakukan tanpa adanya sebuah usaha. Kita perlu memiliki energi yang cukup untuk bisa menuangkan teko berisi air ke dalam gelas dan mengangkat gelas. Bagi kita orang yang sehat aktivitas minum air tentu terlihat biasa dan tak ada istimewanya. Tetapi bagi seorang anak bayi atau seseorang yang sakit, sebutlah stroke berat, aktivitas minum yang kita katakan sangat ringan itu bagi dia merupakan sebuah perjuangan yang membutuhkan energi besar. Iya khan? Itulah contoh sederhana tentang arti perjuangan dan berusaha. Demikian pula halnya dengan hal yang lebih komplek, tentu saja akan lebih keras usahanya.

Di sinilah peran huruf N menjadi sangat signifikan. Kita perlu ketahui bahwa alfabet abjad huruf N adalah sebuah abjad yang menjadi pembatas antara orang-orang yang mau berusaha dengan orang-orang yang enggan berusaha atau menyerah kepada keadaan yang ia peroleh begitu saja. Kok bisa? Baca lebih lanjut

Sumpah Pemuda: Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu !!

 

Sekitar 82 tahun lampau, ratusan pemuda dari beraneka latar belakang suku, dan daerah berkumpul di sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat, sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Pada rapat penutup di c di Jalan Kramat Raya 106 itu, para pemuda yang hadir mengucapkan suatu Sumpah Setia yang dikemudian hari dikenal dengan Sumpah Pemuda.

 

Sumpah Setia itu merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

 

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa ormas pemuda memboikot kongres tahun 1926 karena ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda. Lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peran Theosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I (1926) itulah yang kemudian menjadikan para pemuda memboikot kongres (lihat: Jejak Sejarah Yahudi di Indonesia, Ridwan Saidi). Isi Sumpah Pemuda versi orisinal tersebut adalah

[1]:

Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Demikian isi Sumpah Pemuda yang merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya, tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: