Pak Dwiatmo, Pejuang PJKA Sejak 1985

image

*PAK DWIATMO, PEJUANG PJKA SEJAK 1985*

Perjalanan naik KA Progo dari Jakarta menuju Yogyakarta semalam (23/11), tak seperti biasanya. Nyaris tak ada sedulur2 PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), yang terlihat batang hidungnya di Stasiun Pasar Senen. Maklum, hari Rabu malam.

Di antara para penumpang KA Progo relasi Pasar Senen – Lempuyangan berangkat tanggal 23 November 2016, saya bertemu dengan pak Dwiatmo, seorang PJKA senior. Baca lebih lanjut

Iklan

Kado Kesedihan Yang Hinggap Di Setiap Lebaran

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Seharusnya, lebaran menjadi hari yang membahagiakan. Namun realitanya, tidak setiap orang merasakan kebahagiaan secara personal. Di tengah-tengah kebahagiaan merampungkan puasa Romadhon selama 1 bulan dan keindahan berkumpul bersama keluarga serta kenikmatan memetik hasil ‘pembakaran’ menjadi pribadi yang bertakwa, ada saja beberapa kisah kesedihan yang menjadi kado tak diharapkan oleh beberapa orang. Kisah tabrakan saat mudik misalnya, menjadi sebuah contoh kado yang tak pernah diharapkan oleh siapapun juga. Dan siapapun juga pasti tidak mau menerima kado kesedihan apapun bentuknya apalagi di hari yang istimewa. Namun hal itu terjadi pada seorang kawan, sebutlah namanya Rizal.

Selama tiga tahun terakhir,  Rizal selalu saja menerima sebuah kado kesedihan di tengah-tengah kebahagiaan di hari lebaran. Apakah sebuah kebetulan semata atau sebuah pelajaran yang seharusnya Rizal petik. Yang lebih membuat heran, kesedihan Rizal selalu berhubungan dengan urusan hati. Baca lebih lanjut

Tulang Rusuk-ku

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Sutrisno dan Titin duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Titin pun memulai meminta kepastian. Ya,tentang cinta.

Titin : “Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?”
Sutrisno : “Kamu dong?”
Titin : “Menurut kamu, aku ini siapa?”
Sutrisno : (Berpikir sejenak, lalu menatap Titin dengan pasti)
“Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Titin dan Sutrisno mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kian mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Baca lebih lanjut

Semua Hanya Wang Sinawang….

Wang Sinawang

Wang Sinawang

Pada sebuah kesempatan kumpul bareng. Taufik, Arief, Wawan dan Bayu (bukan nama sebenarnya) terlibat obrolan santai seputar keadaan mereka dengan masing-masing aktivitas keseharian mereka.

“Enak ya kamu…, gaji lumayan besar. Status tetap. Sudah dapat remunerasi. Tunjangan masih dapat macam-macam. Belum uang plus-plus yang lain yang bisa diperoleh..”, ujar si Taufik, pegawai honorer sebuah perusahaan swasta kepada Arief yang bekerja di Kantor Pajak.

“Ah, nggak juga. Kamu lebih enak. Kerjanya tidak terlalu bersinggungan dengan hal yang syubhat. Bersih dan barokah. Santai dan masih bisa kemana-mana. Masih berada di pulau Jawa. Dekat dengan orang-orang yang dicinta. Sementara aku harus berada di luar Jawa dan berada di daerah yang jauh dari aktivitas perkotaan.” Jawab Arief.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, paling enak dan beruntung itu Wawan. Lulus kuliah langsung bekerja dicarikan orangtua. Tidak perlu susah-susah mencari. Orangtua mu sudah cukup lebih dari kaya. Mobil sudah dibelikan. Motor disediakan. Rumah dibuatkan. Posisi sangat dekat dan tinggal sekota bahkan serumah dengan keluarga di Solo. Masuk pagi biasa pulang kantor sore hari. Kalau malam masih bisa angkringan. Betapa nyamannya ya Wan.” Ujar Bayu memotong pembicaraan antara Taufik dan Arief sekaligus mengungkapkan pendapatnya yang beda dengan keduanya.

“Wah, kalau dilihat dari luar sih memang begitu Bay. Seolah-olah aku ini di mata kalian memang enak. Semuanya serba disiapkan orangtua. Tapi hatiku merasa tidak nyaman bro. Apapun itu, kerja dengan melalui proses nepotisme itu tetaplah tidak mengenakkan ghati dan selalu bertentangan dengan hati nurani. Apalagi perusahaan itu bukanlah perusahaan keluargaku sendiri. Selain itu, justru dengan banyaknya bantuan orangtuaku membuat hidupku ini seolah tidak pernah bisa lepas dari kebebasan. Aku cenderung didikte mereka. Mau gini tidak boleh, gitu tidak boleh. Aku tidak menjadi diri sendiri. Bahkan di usiaku yang sudah mau menginjak umur 30 tahun ini pun aku belum memperoleh sinyal perizinan untuk menikahi seorang wanita. Sementara kalian khan sudah menikah dan menikmati keluarga. Apapun itu, yang enak hidup dengan kebebasan tanpa ada paksaan bro. Kebebasan yang biasa saja lah sudah cukup. Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan menjadi wayang bagi kedua orangtuaku.” Jawab Wawan, merespon pendapat Taufik.

“Paling enak justru kamu Bay. Hidup bebas. Kerja tidak di bawah tekanan siapapun. Mau berangkat jam 7 bisa, jam 9 pun tidak apa-apa. Kebebasan kamu itu sebenarnya justru merupakan hal yang paling indah Bay. Jika aku, Taufik, dan Arief harus bekerja dengan durasi waktu rutin begitu-begitu saja dan masih sering kena marah atasan. Kalau kamu khan bebas. Kamu-lah yang mungkin justru memarahi anak buah kamu. Masalah uang juga, kamu memperoleh penghasilan yang tidak sedikit dari usahamu. Setiap hari bisa nongkrong di Angkringan. Mau mencari pacar atau calon istri punya keleluasaan akses. Kamulah yang beruntung Bay.” Tambah Wawan mengungkapkan pendapatnya tentang Bayu, yang memiliki sebuah usaha sendiri.

***

Diskusi di atas adalah sebuah diskusi biasa yang sering kulihat dan kusaksikan serta kualami pada obrolan-obrolan antar teman atau sahabat yang memiliki aktivitas keseharian yang berbeda-beda yang biasanya muncul saat pertemuan bersama atau reuni (kecil-kecilan atau besar-besaran). Baca lebih lanjut

[Inspiratif] Hari Ini Aku Belajar Dari Seekor Siput [A Must Read]

Siput

Siput

Hari Ini Aku Belajar Dari Seekor Siput

Jangan pernah meremehkan siapa dan apapun di segala bidang! Demikian sebuah pesan yang benar-benar kutanamkan dan kupertahankan dalam dadaku. Kalimat itu menurutku perlu kutanamkan kuat-kuat karena kecenderungan seseorang yang mudah meremehkan orang yang dianggapnya lebih rendah dalam hal tertentu.

Sebuah ungkapan yang selalu kuingat untuk meredam dan mengikis sikap meremehkan orang lain dari dadaku adalah dengan melihat peran sebuah rantai, mur, baut, roda, atau sekedar karet pentil pada sebuah sepeda atau motor. Meskipun peran organ-organ kecil itu seolah remeh, namun tanpa mereka sebuah sepeda atau motor tidak bisa berjalan dengan lancar dan baik.

Nah, hari ini aku diberikan banyak pelajaran dari seekor siput kecil yang menjijikkan bagi sebagian orang. Silakan anda memerhatikan foto-foto atau gambar-gambar di bawah ini. Foto ini pertama kali kulihat di sebuah forum (KASKUS-klik di sini) yang di-post oleh seorang “Kaskus Addict” ber-ID VodkaHijau, seorang bonek Surabaya yang menjadi member fanatik Kaskus. Entah darimana VodkaHijau memperoleh foto itu aku tidak menanyakannya. Namun dugaanku sih yang lebih awal meng-upload foto ini adalah seseorang ber-ID creacker_october, di situs Photobucket. So, jika ada yang mengklaim foto di bawah ini adalah karya anda, maka aku mohon maaf sekaligus minta izin untuk menampilkannya di blog ini. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: