Sakit Gigi Saat Pandemi (2)


Skrining di RSGM

Setelah lebih dari 2 bulan menahan sakit gigi, hari pertama lebaran, saya berharap sakit gigi sudah hilang. Ternyata tidak, sakit gigi masih terasa. Gigi rasanya ngilu cekot-cekot. Kepala ikut sakit. Leher juga merasakan sedikit sakit. Lagi-lagi saat sore hari, saya coba bawa tidur. Lagi-lagi gagal.

Hari kedua lebaran, istri mulai “memaksa” saya untuk pergi ke dokter. Masalahnya, berdasar nanya-nanya seluruh dokter masih tutup praktek. Secercah cahaya muncul Ketika ada kawan mengabarkan kalau Puskesmas sudah mulai buka pada hari ketiga lebaran. Di Puskesmas ada praktek dokter gigi.

Pagi hari ketiga lebaran, saya dan istri berangkat ke Puskesmas. Setelah mendaftar dan menunggu sekitar 1 jam, saya dipanggil untuk diperiksa. Sebelum masuk, saya diminta cuci tangan dengan hand sanitizer terlebih dahulu.

Di Puskesmas, petugas dan dokter mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang cukup lengkap. Sebelum masuk, seluruh pengunjung di-skrining singkat dan dicek suhu badan dengan Thermogun. Petugas yang melakukan skrining mengenakan APD lengkap. Setelah skrining, semua pengunjung diharuskan mencuci tangan dengan sabun. Pengunjung diminta duduk di kursi yang disediakan dengan #JagaJarak atau #SocialDistancing. Di ruang pemeriksaan, petugas dan dokter juga mengenakan APD yang lengkap.

Di Puskesmas, saya hanya diperiksa oleh dokter gigi. Dokter tidak berani melakukan Tindakan lebih lanjut dengan alasan hasil diagnosa, sakit gigi saya terlalu dalam dan peralatan kurang lengkap. Dokter juga tak memberikan obat apapun. Saya disarankan untuk memeriksakan diri ke Rumah Sakit (RS) agar diperiksa dan dilakukan tindakan lebih lanjut oleh dokter gigi spesialis konservasi gigi (SpKG). Di Puskemas, saya membayar Rp7.500,-.

Dari Puskesmas, saya melanjutkan ikhtiar ke RS terdekat yang membuka praktek dokter gigi SpKG. Saya berusaha menghindari RS yang menjadi rujukan pasien Covid-19. Setelah bertanya ke kawan dan googling, pilihan saya jatuh ke RS Ortopedi karena di sana ada dokter gigi SpKG yang sudah buka.


Sampai di RS Ortopedi, saya hanya dicek suhu badan dengan thermogun lalu ditanya keperluan oleh petugas satpam di Gedung Rawat Jalan. Saya bilang kalau saya mau periksa ke dokter gigi SpKG. Oleh petugas dijawab, pemeriksaan gigi di RS Ortopedi sampai saat ini hanya akan dilakukan pada tingkat pemeriksaan, tidak sampai pada tahap penindakan. Hal ini dikarenakan adanya wabah Covid-19. Karena dibilang dokter gigi SpKG tidak berani melakukan tindakan jika diperlukan adanya tindakan lebih lanjut, maka saya mengurungkan niat periksa.

Saya coba tanya ke teman-teman lain lagi mencari dokter gigi SpKG yang mau melakukan pemeriksaan dan tindakan. Rata-rata saran teman-teman ke klinik-klinik dokter gigi SpKG non rumah sakit. Itupun masih menunggu jadwal buka praktek mereka. Saya kemudian baru terpikir untuk ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Dari RS Ortopedi, saya meluncur ke RSGM. Pemberlakuan protokol kesehatan di RSGM juga seketat di Puskesmas. Sebelum masuk pendaftaran, saya di-skrining terlebih dahulu oleh petugas yang mengenakan APD lengkap. Setelah dicek thermogun, saya juga dicek dengan Oximeter, sebuah alat digital yang ditempelkan di jari-jari. Kata petugas, pengecekan dengan oximeter untuk mengetahui mengetahui dan mengukur kadar oksigen di tubuh sehingga bisa menjadi indikator awal untuk mengecek kinerja paru-paru dan pernafasan secara cepat tanpa memasukkan alat apapun ke dalam tubuh. Setelah skrining, saya dicek tensi dan selanjutnya diminta menunggu beberapa saat.

RSGM merupakan RS baru khusus perawatan gigi dan mulut. Mungkin karena masih baru, rumah sakit ini masih sepi. Banyak tersedia meja-meja dan kursi baru ala dokter gigi yang masih terbungkus rapi dengan plastik.

Setelah menunggu pemeriksaan sekitar 30 menit, dokter gigi SpKG tidak sedang praktek. Adanya dokter gigi biasa. Dengan harapan dokter gigi di RSGM berani melakukan tindakan lebih lanjut, saya putuskan untuk tetap periksa ke dokter gigi non spesialis. Pemeriksaan oleh dokter gigi juga ditangani dengan mengenakan APD lengkap. Gigi saya yang berlubang di-ogrok-ogrok selama beberapa menit. Kata si dokter gigi, gigi didiagnosa berlubang sampai ke syaraf dalam. Penanganannya perlu dirujuk ke dokter gigi SpKG. Dia bilang tidak memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan lebih lanjut, kecuali hanya menambal sementara dan memberikan obat dan anti biotik untuk 3 hari.

Si mbak-mbak dokter gigi itu kemudian menjelaskan kalau nanti di dokter gigi SpKG akan ditangani lebih lanjut dengan tindakan pembersihan gigi sampai ke lubang dalam dan setelah akar syaraf gigi dimatikan, baru akan dilakukan penambalan secara permanen. Tapi bisa juga dokter gigi SpKG nantinya memiliki penilaian lain yang lebih tepat sesuai kompetensinya. Saya dijadwalkan periksa ke dokter gigi SpKG 3 hari lagi. Di RSGM, saya mengeluarkan uang untuk pemeriksaan dan obat serta charge biaya APD yang dikenakan petugas sampai sebesar Rp550.000,- ☹

Entah berapa duit nanti yang harus saya keluarkan saat periksa di dokter gigi SpKG untuk menyembuhkan sakit gigi saya secara tuntas ini setelah menahan tidak berobat lebih dari 2 bulan karena pandemi Coroa. Saya doakan semoga Anda semua selalu sehat. Kalau sakit saja bagaimanapun tidak mengenakkan, apalagi jika harus sakit di tengah wabah Covid-19. Trust me, nggak enak blas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: