Sakit Gigi Saat Pandemi (1)


Skrining di Puskesmas

Meggy Z dalam lagunya mengatakan “lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati”. Saya tak setuju dengan kata-kata salah satu penyanyi dangdut Indonesia yang terkenal itu. Saya yakin Anda yang pernah mengalami sakit gigi sependapat dengan saya.

Menurut pengalaman, sakit hati bisa disembuhkan sendiri dalam beberapa hari dengan membiarkannya mengalir begitu saja. Sedangkan sakit gigi jika tak diobati, bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa sebulan membuat kita terkapar di dalam kamar. Sakit hati tak perlu obat, sakit gigi butuh obat.

***

Pertengahan Maret setelah Pemkot Surakarta menetapkan Surakarta KLB Corona, sakit gigi saya kumat. Kali ini gigi saya tak hanya sakit tapi juga pecah berlubang. Untuk mengurangi sakit dan berharap sembuh, saya tetesi dan oleskan gigi yang sakit dengan Minyak Cengkeh. Sesaat sakitnya hilang. Tapi sehari kemudian terasa sakit lagi. Saya coba ganti minyak cengkeh merek lain hasilnya sama. Sakitnya masih bisa berulang sewaktu-waktu.

Melihat saya lumayan kesakitan saat sakit gigi kumat, istri menyarankan saya ke dokter gigi. Karena ada Corona dan ada himbauan agar menunda dulu pergi ke dokter gigi, saya pun mengikuti himbauan itu. Setiap gigi terasa sakit, saya kumur garam atau oles tetesi dengan minyak cengkeh. Hari demi hari minggu demi minggu hingga kemudian mulai masuk bulan Ramadhan, Corona bukannya mereda tetapi malah makin meningkat. Sementara sakit gigi juga tidak hilang-hilang. Seorang teman dokter gigi menyarankan untuk mengkonsumsi obat Kalium Diclofenac.

Mulai masuk Ramadhan saya minum obat Kalium Diclofenac. Awalnya 2 kali sehari, sekali saat sahur, dan sekali saat buka puasa. Masuk pertengahan, saya mulai minum sekali sehari, saat sahur.

Alhamdulillah, selama hampir sebulan puasa, sakit gigi nyaris tak terasa kecuali sedikit nyeri saja sesekali waktu. Sampai suatu saat di hari terakhir Ramadhan, dari mulai pagi saya merasa sakit gigi saya sangat sakit. Siang hari setelah dzuhur, rasanya pengin tidur tapi tak bisa. Mau duduk sakit, aktivitas sakit, dibawa tidur juga sakit dan tak bisa tidur. Saat itu rasanya sudah seperti ingin mokah untuk minum obat karena sakitnya ampun-ampun. Alhamdulillah, setelah ditahan-tahan, puasa tak sampai batal. Begitu azan maghrib, buka puasa langsung minum obat dan sakitnya mereda. Alhamdulillah, saya masih bisa takbiran dan lebaran #dirumahaja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: