Dampak Corona: Harga Telor Ayam Negeri Terjun Bebas?


Siang tadi, saat lewat di jalan, banyak warung dan mobil yang berjualan telur ayam negeri atau ras. Harganya terbilang murah. Rata-rata mereka menjual dengan harga Rp15.000/Kg. Saya tahu karena mereka memasang kertas bertuliskan Rp15.000/Kg. Penasaran, saya tanya teman saya yang punya kios di pasar dan warung di rumah. Katanya dia jual Rp17.000/Kg di warung rumah.

“Kok harganya murah sekali, dhe?” tanyaku.

Regone amblek goro-goro (harganya jatuh) ditolak masuk Jakarta, efek corona,” kata teman saya yang biasa dipanggil Plompong.

Cerita teman istri hampir sama. Bahkan dia bilang sempat jual telur ayam negeri (lehor) dengan harga Rp10.000/Kg. Katanya, daripada ngga laku karena tidak bisa dijual ke Jakarta dan kota-kota lain karena adanya kebijakan PSBB dan Corona, lebih baik dijual saja walaupun Cuma Rp10.000/Kg.

Semakin penasaran, saya coba baca-baca berita terakhir dan nanya kawan-kawan lainnya. Hasil penelusuran ternyata tak jauh berbeda dengan pernyataan kawan saya dan teman istri. Jatuhnya harga telur ayam negeri di daerah karena dampak corona. Namun, di Jakarta, harga telur ayam negeri masih tinggi, mencapai Rp30.000/Kg.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) Abdullah Mansuri menyatakan, di Jakarta dan sekitarnya, tren harga telur berada di kisaran Rp28ribu hingga Rp30 ribu per kg. Padahal seharusnya, Harga Eceran Tertinggi (HET)-nya hanya Rp24 ribu per kg. Sementara di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang selama ini mensuplai kebutuhan telor di wilayah Jakarta dan sekitarnya harganya jatuh bebas, Rp10.000 sampai 15.000/Kg.

Perbedaan harga yang sangat jauh ini terjadi karena pengiriman pasokan telur dari daerah penghasil terkendala oleh terbatasnya akses distribusi, baik karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah maupun keterbatasan angkutan logistik.

Situasi ini makin bertambah kacau dengan kehadiran telur ayam infertil atau yang biasa disebut juga dengan telur HE (hatched egg) di pasar. Telur ayam infertil di pasar dijual dengan harga Rp200/butir. Telur HE adalah telur fertil yang tak ditetaskan perusahaan breeding. Telur ini seharusnya tak dijual sebagai telur konsumsi di pasar. Lalu kenapa dijual ke pasar? Kemungkinan alasannya, antara lain suplai anakan ayam DOC (day old chick) yang sudah terlalu banyak, sehingga biaya menetaskan telur lebih mahal dari harga jual DOC.

Karakteristik telur HE dengan telur ayam negeri sangat mirip. Ukuran telurnya relatif sama. Cuma bedanya, telur HE berwarna lebih pucat atau lebih putih. Telur HE juga lebih cepat membusuk. Biasanya setelah lewat satu minggu. Berdasarkan Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, telur HE tidak boleh dijualbelikan di pasar sebagai telur konsumsi. Pemerintah hanya mengizinkan perusahaan breeding untuk memusnahkan telur HE atau dibagikan ke masyarakat sebagai bagian dari CSR.

Setelah menelusur lebih jauh, kita perlu lebih hati-hati dalam membeli telur dengan harga murah. Jangan sampai niat membeli telur ayam negeri tapi ternyata yang dibeli telur ayam HE. Walaupun sebenarnya telur ayam HE disebut layak konsumsi, namun mengingat telur ini disebut lebih cepat membusuk, daripada nanti menyesal setelah membeli telur ternyata telur busuk semua, lebih baik dicek kembali telur murah yang akan dibeli tersebut. Kalau khawatir bingung tak bisa membedakan antara telur ayam negeri dan telur ayam HE, tak ada salahnya untuk mencoba konsumsi telur bebek saja. Kebetulan saya jualan telur bebek. Kalau ada yang berminat bisa kontak saja. 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: