Jutaan Kebaikan Tanpa Keimanan, #AMBYAR!!!


(Belajar dari Kisah Abdullah bin Jud’an)

Istri saya tetiba teringat dengan ibu kosnya dulu di Klaten, sebut saja Mbah Uti. Mbah Uti memiliki banyak kebaikan yang disaksikan istri saya selama berinteraksi bersama. Mbah Uti sering menolong orang. Sering memberikan kelebihan makanan kepada orang-orang. Menurut istri, Mbah Uti tak pernah mengobrolkan sesuatu yang sifatnya ngrasani atau menyakitkan hati orang lain. Mbah Uti juga sering mengingatkan anak-anak yang nge-kos di rumahnya untuk shalat. Namun sayangnya, dari sekian banyak kebaikan Mbah Uti, istri saya tak pernah melihatnya menunaikan shalat hingga meninggal. Sungguh sangat disayangkan.

Pernah suatu ketika suami Mbah Uti hendak ke masjid, istri saya bertanya, “Mbah Kung, Mbah Uti mboten diajak shalat sekalian?”

“Opo gelem to Ma…. Ma…. (nama istri saya Ima). Ra pernah gelem diajak sholat mbahmu kae,” jawab Mbah Kung sebagaimana diceritakan istri saya.

Singkat kata, sampai meninggal, Mbah Uti sampai meninggalnya diketahui tidak pernah shalat. Setiap saya mendengar cerita orang-orang yang baik dalam hidupnya tetapi tidak pernah sholat, tetap dalam kesyirikan, atau belum masuk Islam, ada sesuatu yang menyesakkan dada saya dan membuat sedih. Sayang dan sungguh sangat disayangkan.

Perasaan seperti itu juga pernah dirasakan oleh istri Rasulullah SAW Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq saat bertanya kepada Rasulullah SAW perihal nasib dan status kerabatnya yang sangat baik dan humanis, Abdullah Bin Jud’an bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah (عبد الله بن جدعان التيمي القرشي الكناني).

Aisyah RA bertanya, “Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyyah selalu bersilaturrahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu memberikan manfaat untuknya?”

Rasulullah SAW menjawab: “Tidak. Itu tidak memberinya manfaat, karena dia belum mengucapkan, ‘Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.”

Padahal Rasulullah SAW disebut oleh Ibnu Qutaibah dan ulama lain bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah berlindung di bawah piring besar Abdullah bin Jud’an pada waktu Zhuhur.”

***

Adullah bin Jud’an merupakan salah seorang pembesar Mekkah yang sangat baik dan terkenal baik oleh banyak kalangan. Kebaikan utamanya adalah menghormati tamu, senantiasa menyambung silaturahmi, dan senantiasa melindungi dan memberi makan orang miskin. Abdullah bin Jud’an juga tak pernah menghalang-halangi dakwah Nabi Muhammad SAW. Abdullah bin Jud’an merupakan tuan rumah dalam peristiwa yang disebut dengan Hifzul Fudhul yang sangat dikenang oleh Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW mengatakan:

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الإِسْلامِ لأَجَبْتُ

“Sungguh aku pernah menghadiri sebuah perjajian di rumah Abdullah bin Jud’an. Saya lebih senang dengan perjanjian ini daripada unta merah. Sekiranya aku diundang lagi (untuk menyepakati perjanjian ini) di masa Islam, niscaya aku akan memenuhinya.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra no 12110, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.1900).

Perjanjian itu dalam catatan sejarah dikenal dengan sebutan Hilful Fudhul. Peristiwa penting tersebut terjadi sebelum Muhammad diutus sebagai Nabi. Peristiwa itu adalah berkumpulnya sejumlah orang Quraisy di zaman Jahiliyyah di rumah Abdullah bin Jud’an untuk bersepakat bersama dalam menolong orang yang dizhalimi. Pertemuan ini turut dihadiri oleh Nabi Muhammad SAW, sebelum beliau diutus menjadi Nabi.

Dikisahkan bahwasanya ada seseorang dari kabilah Zubaid (dari Yaman) datang ke kota Mekkah membawa sejumlah barang dagangan yang kemudian dibeli oleh Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi. Akan tetapi Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi mengambil barang dagangan tersebut tanpa membayarnya. Akhirnya dia naik ke atas Gunung Jabal Abi Qubais ketika orang-orang Quraisy sedang berkumpul. Dia berteriak dengan suara yang lantang menuntut haknya agar dia ditolong.

Salah satu Paman Nabi yang bernama Zubair bin ‘Abdil Muththalib mengatakan agar orang ini tidak boleh ditelantarkan, dia harus ditolong. Akhirnya Bani Hasyim, Bani Zuhrah dan Bani Taim bin Murroh berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an kemudian bersepakat untuk bersatu padu menolong orang ini. Mereka pun berhasil menuntut Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi agar membayar uang kepada orang Yaman Az-Zubaidi yang tidak dibayar haknya tersebut. Nabi SAW juga hadir dalam pertemuan itu dan pada saat itu beliau belum diangkat menjadi seorang Nabi. Pertemuan di zaman jahiliyah tersebut ternyata masih senantiasa diingat oleh Nabi Muhammad SAW jauh di kemudian hari setelah Nabi SAW diutus sebagai Nabi dan Rasul.

Cerita kedermawanan dan kebaikan Abdullah bin Jud’an sendiri bermula saat Abdullah bin Jud’an menemukan sebuah patung ular dari emas yang kedua matanya terbuat dari batu yaqut permata. Permata itu ditemukan Abdullah bin Jud’an di sebuah gua di gunung di Mekah yang di dalamnya terdapat beberapa makam raja-raja Jarham. Diantaranya adalah Al Haris bin Madhadh yang lama menghilang dan tidak diketahui ke mana ia pergi. Ia mendapati di arah kepala mereka prasasti dari emas. Di sekitarnya terdapat permata, intan, emas, dan perak dengan jumlah yang sangat banyak. Setiap harta yang ada di tangannya berkurang, ia pergi menuju gua itu lalu mengambil sesuai kebutuhannya, kemudian kembali.

Ia lalu bersikap dermawan dengan hartanya itu sehingga pada akhirnya sering dijadikan perumpamaan dalam hal kedermawan di kalangan masyarakay Mekah. Ia diceritakan memiliki sebuah piring yang sangat besar khusus untuk menjamu tamunya yang sangat besar yang untuk makan diperlukan tangga yang disandarkan di piring tersebut.

Kebaikan yang sangat besar yang dilakukan Abdullah bin Jud’an sepanjang hidupnya, ternyata tak memberikan manfaat apa-apa di hari kiamat karena kesyirikan. Jutaan kebaikan tanpa keimanan, hasilnya hampa.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika engkau berbuat kesyirikan niscaya akan terhapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumār 65)

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon doakan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kami, dosa keluarga kami, dan memanjangkan umur kami dalam ketakwaan kepada-Nya. Mohon doakan juga supaya Allah selalu memberi kami rezeki yang halal, melimpah, mudah, dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: