Anda Pemilih Jenis Apa?


Sumber: Merdeka.com

Pemungutan suara sudah dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada Rabu, 17 April 2019. Sedangkan bagi WNI yang berada di luar negeri, pemungutan suara dilaksanakan pada 8 hingga 14 April 2019. Belum ada catatan resmi jumlah pemilih yang menggunakan hak suaranya. Namun yang pasti, KPU menyiapkan 801.838 TPS baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Bagi pemilih yang berada di luar DKI Jakarta, pencoblosan dilakukan sebanyak 5x. Pertama, pemilihan pasangan Presiden dan Wakil Presiden. Selanjutnya, pemilihan partai politik beserta calon legislatif di DPR, DPRD I, dan DPRD II. Terakhir atau yang kelima, pemilihan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Setiap orang memilih sesuai pilihannya masing-masing didasarkan atas berbagai macam alasan.

Kalau boleh saya membagi jenis para pemilih, terdapat 2 (dua) jenis pemilih besar yaitu pemilih rasional dan pemilih emosional.

Pemilih rasional adalah pemilih yang mendasarkan pertimbangan-pertimbangan yang lebih mendahulukan aspek rasional dan akal sebagai pijakan dalam memilih suatu partai politik atau kontestan. Diantara pemilih kategori rasional diantaranya adalah pemilih yang memilih karena alasan program kerja, pencapaian kerja, atau track record dan yang semisalnya.

Pemilih rasional ini tidak atau kurang memiliki loyalitas pada partai politik atau kontestan tertentu. Bila programnya dinilai masuk akal dan menarik, mereka akan memilih partai politik atau kontestan tersebut. Namun apabila pada pemilihan berikutnya program yang dicanangkan tidak menarik dan tidak terimplementasikan, maka partai politik atau kontestan tersebut tidak akan menjadi pilihannya. Apalagi jika partai politik atau kontestan lain memiliki program yang dianggap lebih baik.

Pemilih emosional adalah pemilih yang mendasarkan pertimbangan-pertimbangan yang lebih mendahulukan aspek non rasio dan akal sebagai pijakan dalam memilih suatu partai politik atau kontestan. Diantara pemilih kategori rasional diantaranya adalah pemilih yang memilih karena alasan ideologi/platform, agama, suku, asal daerah, keturunan, dan hal-hal lainnya yang sifatnya tidak rasional.

Dalam praktiknya, pemilih emosional tetap memperhatikan aspek-aspek rasional tertentu. Namun, aspek emosional lebih didahulukan dan diutamakan. Misalnya, ada 2 kontestan. Satu kontestan Muslim bersuku Jawa yang berasal dari kota Jakarta yang memiliki program kerja membangun jembatan. Kontestan lain seorang non Muslim bersuku Jawa yang memiliki program kerja membangun jalan dan jembatan tetapi ia berasal dari kota Solo.

Melihat 2 kontestan tersebut, ada seorang pemilih dari kota Solo yang memutuskan memilih kontestan kedua dengan pertimbangan karena disamping kontestan pilihannya berasal dari Solo, juga mempertimbangkan programnya yang lebih bagus. Sementara ada pemilih lain yang juga berasal dari Solo justru memilih kontestan pertama dengan pertimbangan karena kontestan pilihannya memiliki keyakinan agama yang sama dengannya walaupun tidak berasal dari Solo.

Sementara menurut rektor Universitas Paramadina Prof. Firmanzah, Ph.D. dalam buku Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), perilaku pemilih dapat diklasifikasikan dalam 4 (empat) jenis.

  1. Pemilih Rasional

Pemilih yang lebih mengutamakan kemampuan partai politik atau calon kontestan dalam program kerjanya tanpa memperhatikan aspek ideologi suatu partai atau kontestan.

  1. Pemilih Kritis

Pemilih jenis ini merupakan perpaduan antara tingginya orientasi pada kemampuan partai politik atau seorang kontestan dalam menuntaskan permasalahan bangsa maupun tingginya orientasi mereka akan hal-hal yang bersifat ideologis.

Menurut Firmanzah, proses menjadi pemilih kritis bisa terjadi melalui dua mekanisme. Pertama, jenis pemilih ini menjadikan nilai ideologis sebagai pijakan untuk menentukan kepada partai politik dan kandidat mana mereka akan berpihak dan selanjutnya mereka akan mengkritisi kebijakan yang akan atau yang telah dilakukan. Kedua, bisa juga terjadi sebaliknya, pemilih tertarik dulu dengan program kerja yang ditawarkan sebuah partai atau kontestan baru kemudian mencoba memahami nilai-nilai dan faham yang melatarbelakangi pembuatan sebuah kebijakan.

  1. Pemilih Tradisional

Pemilih yang memiliki orientasi yang sangat tinggi dan tidak terlalu melihat kebijakan partai politik atau seorang kontestan sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan.

  1. Pemilih Skeptis

Pemilih yang tidak memiliki orientasi ideologi cukup tinggi dengan sebuah partai politik atau seorang kontestan, juga tidak menjadikan kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Dalam pemungutan suara, biasanya mereka melakukannya secara acak atau random.

***

Saya pribadi, pada pemilu 2019 ini mengkategorikan diri saya sebagai pemilih emosional karena dasar pilihan saya ditentukan lebih kuat karena alasan dorongan sisi ideologis dan agama. Barangkali kalau menurut Firmanzah, saya tergolong tipe pemilih kritis.

Sebelum pemilu tahun 2019, saya tidak pernah menggunakan hak suara saya dalam pemilihan presiden. Tahun 2018, pertama kali saya memilih dalam Pilkada. Tahun 2019 merupakan pertama kalinya saya mencoblos dalam Pilpres. Dasar keputusan utama saya mencoblos pun karena adanya “fatwa” para ulama untuk menggunakan hak pilih capres-cawapres tertentu. Selanjutnya, untuk memilih partai politik, saya pun mempertimbangkan saran dari ustadz Abdul Somad untuk memilih salah satu diantara 2 partai yang direkomendasikan. Dalam mempertimbangkan diantara 2 partai yang direkomendasikan, saya mempelajari satu per satu caleg-caleg diantara kedua partai tersebut dan kemudian memutuskan berdasarkan kesimpulan saya pribadi membaca rekam jejak para caleg dari kedua partai.

Sekarang, pertanyaan saya, Anda Pemilih Jenis Apa? Bagaimana cara anda memutuskan memilih pada tanggal 17 April 2019 kemarin?

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon doakan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kami, dosa keluarga kami, dan memanjangkan umur kami dalam ketakwaan kepada-Nya. Mohon doakan juga supaya Allah selalu memberi kami rezeki yang halal, melimpah, mudah, dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: