Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Dengan Opium


Candu dan Opium dalam Revolusi Indonesia

Sambil menunggu istri kontrol dokter di RS. PKU Muhammadiyah Surakarta selama lebih dari 3 jam, saya membaca buku Opium dan Revolusi: Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950). Buku selesai dibaca selepas isya’ sekira pukul 20.30 WIB. Secara singkat, kesimpulan umum yang dapat saya tarik dari membaca buku ini adalah besarnya peran opium/candu dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di masa pergolakan revolusi (1945-1950).

tanggal 8 Maret 1948, Kementerian Keuangan menyurati Kementerian Pertahanan untuk meminta kepolisian agar membantu memperdagangkan candu yang akan digunakan untuk delegasi Indonesia ke luar negeri, delegasi Indonesia di Jakarta dan membayar pegawai-pegawai RI – Djogdja Documenten no.230 ANRI

Di tengah masa-masa sulit zaman revolusi saat Republik Indonesia baru diproklamirkan (bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia karena NKRI baru muncul setelah PM Natsir dari Masyumi menyampaikan Mosi Integral dan kemudian RIS dinyatakan dibubarkan_pen), rakyat Indonesia harus menghadapi berbagai pergolakan politik baik di dalam maupun di luar negeri. Dari dalam, pergolakan politik muncul dari kelompok-kelompok perjuangan dengan latar belakang ideologi, afiliasi, dan kepentingan yang beraneka macam diantara bangsa Indonesia. Sementara dari luar, masuknya sekutu dibonceng NICA atau Belanda membawa misi penguasaan wilayah Indonesia kembali ke dalam bagian wilayah Belanda melalui Agresi Militer.

Pengaruh pergolakan politik di zaman revolusi membawa persoalan ke berbagai bidang seperti sosial budaya dan ekonomi. Di umur yang sangat muda setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia belum banyak memiliki keuangan atau kas negara. Sentra-sentra industri perkebunan dan pertanian yang menjadi penyokong utama zaman Hindia Belanda telah banyak yang rusak dan terksploitasi di zaman penjajahan Jepang. Devisa negara yang sedianya diperoleh dari perdagangan internasional dengan luar negeri juga diblokade oleh Belanda. Sementara sebagai sebuah pemerintahan, negara harus mengeluarkan biaya untuk pegawai, tentara, dan keperluan-keperluan pemerintahan.

Situasi yang sulit itulah yang kemudian memicu pemerintahan Republik Indonesia melakukan perdagangan opium/candu secara sembunyi-sembunyi. Opium/Candu diproduksi untuk dijual ke luar negeri sebagai barter pembelian senjata, seragam, dan keperluan tentara dalam upaya mempertahankan Republik Indonesia dari serangan dari dalam (Pemberontak) maupun dari luar (Sekutu dan Belanda). Tanpa adanya senjata, RI akan kesulitan menghadapi Belanda yang memiliki persenjataan militer yang lengkap dan canggih karena tentara Indonesia hanya memiliki senjata-senjata dari melucuti tentara Jepang.

Tak banyak yang tahu kegiatan-kegiatan penyelendupan opium/candu ke luar negeri. Secara struktural, hanya Wakil Presiden, Kementerian Keuangan, Kementerian Pertahanan bagian Intedance, dan sebagian badan-badan perjuangan yang mengetahui detail kegiatan produksi dan distribusi opium/candu. Untuk mempermudah, bahkan Pemerintah membentuk sebuah badan khusus dengan nama Kantor Besar Regi Candu dan Garam di Surakarta untuk menanganinya. Kantor yang berpusat di Surakarta itu dibantu beberapa kantor cabang di Kediri dan Yogyakarta.

Secara formal, pemerintah RI melarang rakyat memperdagangkan opium/candu, tetapi pemerintah menggunakan candu sebagai dana perjuangan dengan memperdagangkannya di luar negeri. Sejumlah pedagang-pedagang candu/opium ilegal di Surakarta yang menjual untuk rakyat tercatat ada di kawasan Pasar Nusukan, Pasar Gede, dan Bekonang. Kebanyakan pedagang tersebut adalah orang-orang Cina yang di zaman kolonial Belanda menjadi bandar-bandar candu besar di Jawa.

Singkat kata, buku ini menceritakan sejarah bahwa bangsa ini penah bertumpu pada benda haram. Surakarta yang pada masa revolusi adalah kota perpindahan kekuasaan kala RI berpindah ibukota ke Yogyakarta, tak hanya berisi para pejuang yang menggerakan aksi-aksi revolusioner tapi juga menjadi tempat konsumen candu terbanyak.

Judul Buku: OPIUM DAN REVOLUSI PERDAGANGAN DAN PENGGUNAAN CANDU
Penulis: JULIANTO IBRAHIM
Jumlah Halaman: XVII + 157 HAL
Penerbit: PUSTAKA PELAJAR
Harga: Rp35.000 (saya beli di Bukalapak dapat harga Rp24.500 sudah termasuk ongkir)

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon doakan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kami, dosa keluarga kami, dan memanjangkan umur kami dalam ketakwaan kepada-Nya. Mohon doakan juga supaya Allah selalu memberi kami rezeki yang halal, melimpah, mudah, dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Satu Tanggapan

  1. Bagus ya bukunya. Sambil menunggu waktu luang dimanfaatkan membaca buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: