KH. Ahmad Azhar Basyir, ‘Santri NU’ Jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pesantren Tebuireng kedatangan seorang santri yang hendak mengadu kepada KH. Hasyim Asy’ari, pada suatu hari di awal abad ke-20. Santri itu bernama Basyir, berasal dari Kauman, Yogyakarta. Santri Basyir mengadu perihal seorang tetangganya yang baru pulang dari Makkah, yang membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat di kampungnya.

Siapa namanya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari.

Ahmad Dahlan,” jawab Basyir.

Bagaimana ciri-cirinya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari lagi.

Lalu, santri Basyir menggambarkan ciri-cirinya.

Oh!  Itu Kang Darwis!” kata Hadlratusy Syaikh berseru gembira.

Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia.”  Baca lebih lanjut

Iklan

Pro-Kontra Full Day School

“sometimes words are much sharper than swords”

Tabel PendidikanBelum genap 1 bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy membuat sebuah gagasan atau wacana yang dibuka ke publik, yaitu Full Day School (FDS). Tak perlu waktu lama, gagasan itu pun menuai polemik dan pro-kontra di masyarakat. Hal sama pula yang terjadi saat isu ini penulis bagi di beberapa group Whatsapp.

Dari sejumlah group Whatsapp, mereka yang menyatakan setuju dengan ide dan gagasan itu mensyaratkan dalam FDS tidak ada Pekerjaan Rumah (PR), tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Tapi cukup di kota-kota besar saja yang orangtuanya kebanyakan sama-sama kerja. Sebagian lain setuju gagasan FDS dengan pertimbangan “daripada anak di rumah sama pembantu atau main-main tanpa arah sebelum orang tua pulang dari kerja”. Ada juga yang setuju dengan gagasan itu karena mereka merasa sekolah FDS mampu memberikan hasil pendidikan yang lebih baik. Baik dari sisi akhlak, perilaku, akademik, atau bakat.

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

%d blogger menyukai ini: