Pikun, Apa dan Bagaimana Menghindarinya?


(Selama sepekan liburan lebaran kemarin (1438H), saya banyak memperoleh pelajaran dari hasil silaturahmi ke sana ke mari. Ini adalah pelajaran seri #2 yang saya peroleh pada hari ke-1 Lebaran Idul Fitri, berlindung dari kepikunan)

Simbah putri saya memiliki banyak saudara baik saudara kandung, seibu, maupun seayah/sebapak. Dalam sebuah kesempatan, simbah putri menceritakan perihal kepikunan salah seorang kakaknya yang seibu. Sebut saja mbahde.

Di usianya yang telah lanjut, mbahde mengalami kepikunan hampir secara total. Ia nyaris tak mengingat apapun yang sebelumnya pernah diingatnya kecuali memori yang sangat sedikit. Diantara kepikunannya, mbahde sudah tak ingat shalat, tak ingat puasa, tak memiliki rasa malu, dan tak memiliki memori tentang keluarga apalagi saudaranya dan kerabat-kerabatnya yang lebih jauh. Tak jarang, sejumlah perilaku mbahde kerap membuat malu keluarga khususnya anak-anaknya, seperti buang air sembarangan, menggoda wanita, dan hal-hal memalukan lainnya jika dilakukan oleh seorang yang normal.

Apa itu Pikun?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pikun artinya kelainan tingkah laku (sering lupa dan sebagainya) yang biasa terjadi pada orang yang sudah berusia lanjut; linglung; atau pelupa (cek https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pikun). Sedangkan menurut ilmu kedokteran, pikun disebut demensia, yaitu merupakan kemunduran proses intelektual yang terjadi secara bertahap, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari penyandangnya (lihat: http://medisian.blogspot.co.id/2012/10/demensia.html).

Menurut dr Rizaldy Pinzon, Mkes, SpS, kejadian demensia akan semakin meningkat dengan pertambahan usia. Kejadian demensia adalah 1,4% pada usia 65-69 tahun, 2,8% pada usia 70-74 tahun, 5,6% pada usia 75-79 tahun, dan 23,6% pada usia 85 tahun. Sebagian kasus demensia adalah demensia Alzheimer. Semakin tua seseorang akan semakin rentan untuk terkena demensia. Penyebab demensia terbanyak adalah demensia Alzheimer. Penyebab lain demensia adalah demensia vaskuler (akibat gangguan pembuluh darah otak), demensia akibat penyakit parkinson, dan demensia sekunder akibat obat atau penyakit infeksi (lihat: http://medisian.blogspot.co.id/2012/10/demensia.html).

Sementara di dalam Islam, fase kepikunan disebut ulama sebagai bagian dari isyarat salah satu fase hidup ardzalil umur (أَرْذَلِ الْعُمُرِ ). Menurut Buya Hamka, kata ardzalil umur disebut Allah dalam Al Quran sebanyak 2 (dua) kali yaitu di dalam Surat An-Nahl (16) ayat 70 dan Surat Al-Hajj (22) ayat 5.

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS An Nahl: 70).

Ketika menafsirkan ardzalil umur itu terdapatlah satu tafsir dari Ibnu Abbas demikian bunyinya: “Asal saja dia taat kepada Allah di masa-masa mudanya, meskipun dia telah tua sehingga akalnya mulai tidak jalan lagi, namun buat dia masih tetap dituliskan amal shalihnya sebagaimana di waktu mudanya itu jua, dan tidaklah dia akan dianggap berdosa lagi atas perbuatannya di waktu akalnya tak ada lagi itu. Sebab doa adalah beriman. Dia adalah taat kepada Allah di masa mudanya.” (http://tafsir.cahcepu.com/attiin/at-tiin-4-8/)

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas dan Ikrimah: “Barangsiapa yang mengumpulkan Al-Qur’an tidaklah akan dikembalikan kepada ardzalil umur. Kepada tua pikun. Insya Allah!”

Ketika menafsirkan Surat An Nahl ayat 70, Ibnu Katsir mengutip sebuah riwayat dari Ali r.a. bahwa usia yang paling lemah atau usia pikun ialah tujuh puluh lima tahun. Dalam usia ini seseorang akan memudar kekuatannya dan menjadi lemah, tubuhnya rapuh, hafalannya buruk (pelupa), dan pengetahuannya berkurang. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا}

..supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. (An-Nahl: 70). Artinya, pada mulanya seseorang menjadi orang yang berpengetahuan, kemudian dalam usia pikun jadilah dia orang yang pelupa dan linglung (Aplikasi Tafsir Ibnu Katsir berbasis Playstore bersumber kampungsunnah.org).

Bagaimana agar Terhindar dari Kepikunan?

Berkenaan dengan persoalan pikun tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar membaca doa agar terlindung dari kepikunan sebagaimana hadis Imam Bukhari:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مُوسَى أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَعْوَرُ، عَنْ شُعَيب، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان يَدْعُو: “أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ، وَالْهَرَمِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ“.

Telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Musa Abu Abdullah Al-A’war, dari Syu’aib, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. pernah berucap dalam doanya: Aku berlindung kepada Engkau dari kekikiran, malas, pikun, umur yang paling lemah, siksa kubur, fitnah Dajjal serta fitnah kehidupan dan kematian.

Dalam riwayat lain:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْهَرَمِ، وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ»

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, pikun, bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah hidup dan mati.” (HR. Muslim) (https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html)

Semoga kita semua terhindar dari kepikunan. Amin. Wallahu a’lam.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon doakan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kami, dosa keluarga kami, dan memanjangkan umur kami dalam ketakwaan kepada-Nya. Mohon doakan juga supaya Allah selalu memberi kami rezeki yang halal, melimpah, mudah, dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: