Pak Dwiatmo, Pejuang PJKA Sejak 1985


image

*PAK DWIATMO, PEJUANG PJKA SEJAK 1985*

Perjalanan naik KA Progo dari Jakarta menuju Yogyakarta semalam (23/11), tak seperti biasanya. Nyaris tak ada sedulur2 PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), yang terlihat batang hidungnya di Stasiun Pasar Senen. Maklum, hari Rabu malam.

Di antara para penumpang KA Progo relasi Pasar Senen – Lempuyangan berangkat tanggal 23 November 2016, saya bertemu dengan pak Dwiatmo, seorang PJKA senior.

_”Akhirnya dapat temen ngobrol sedulur PJKA juga,”_ kataku dalam hati. Maklum, perjalanan kereta semalam saat _weekdays_, bukan _weekend_. Sedulur2 PJKA biasanya memadati Pasar Senen setiap Jumat malam.

Pak Dwiatmo saya sebut PJKA senior tak semata karena usianya yang sudah tua, tetapi juga karena sudah lama menjalani perjalanan bolak-balik pulang-pergi Solo-Jakarta sejak tahun 1985. Pada tahun itu, saya belum lahir.

Jika dihitung sampai sekarang (tahun 2016), maka pak Dwiatmo sudah menjalani kehidupan PJKA selama 31 tahun.  Lebih dari separuh usia yang dijalaninya sampai saat ini.

Pejuang PJKA asal Bekonang, Sukoharjo ini telah lama bekerja  sebagai pendidik di Yayasan Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelum memantapkan hati mencerdaskan anak bangsa di Al Azhar, ia cukup lama mengawali karir di Yayasan Labschool, juga sebagai tenaga pendidik. Sempet ditawari sebagai karyawan tetap oleh Prof. Dr. Arif Rahman (Pembina Labschool), pilihan hatinya mengarahkan ke Al Azhar.

Banyak hal yang kami obrolkan selama perjalanan semalam memanfaatkan waktu karena keterlambatan kereta. Diantara pelajaran hidup yang disampaikan bapak yang sudah memiliki cucu ini kepada saya ini adalah imbauan untuk bersedekah.

_”Banyak-banyak sedekah ternyata memang terbukti membuat perjalanan hidup kita terasa berjalan lebih mudah,”_ jelasnya.

_”Saya sejak dulu membiasakan untuk sedekah setiap hari walau hanya sedikit. Dua ribu rupiah misalnya sekarang. Alhamdulillah, walaupun saya hidup jauh dari keluarga, keluarga saya tidak mengalami kesulitan hidup, rumah tangga selalu harmonis, dan anak-anak juga tidak aneh-aneh. Alhamdulillah, itu semua saya syukuri mas,”_ urainya panjang.

Ia juga mengaku sering didekati rekan-rekan wanita yang dikenalnya yang memintanya untuk menikahi atau memacarinya. Sebuah godaan yang biasa melintas di kalangan sedulur-sedulur PJKA. Namun karena tekad dan niat yang kuat bahwa tujuan hidupnya di Jakarta adalah untuk mencari rezeki yang halal buat keluarga di Sukoharjo, dengan diiringi ibadah yang baik, godaan-godaan itu mampu dilewatinya.

Ada yang menarik, salah satu anaknya yang bekerja di Pegadaian menikah dengan putri dari rekan PJKA pak Dwiatmo. Namanya pak Muhtadin. Berawal dari persaudaraan di kereta, pak Dwiatmo dan pak Muhtadin pun jadi besanan. Tapi anak-anak mereka tidak menjadi Pejuang PJKA karena tinggal di daerah Delanggu, Klaten.

Sekarang, masa bakti pak Dwiatmo sebagai Pejuang PJKA tinggal 1 tahun. Ia mengatakan, _”satu tahun lagi saya pensiun, mas.”_

Semoga kita semua, khususnya para _sedulur-sedulur_ PJKA bisa banyak mengambil pelajaran dari sebagian kisah hidupnya yang diceritakan pak Dwiatmo kepada saya. Salam. _Paseduluran Saklawase._

Iklan

Satu Tanggapan

  1. suka dengan kata2 ini : Banyak-banyak sedekah ternyata memang terbukti membuat perjalanan hidup kita terasa berjalan lebih mudah, terbukti mas pastinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: