Logika Islam Dalam Memandang Non Muslim


logika-logika*LOGIKA ISLAM DALAM MEMANDANG NON MUSLIM*

Ketika kekufuran meraih kemenangan, kekufuran tetaplah salah. Keimanan yang tetap benar. Pada suatu masa, kekuasaan penjajah Belanda sedang merajalela. Salah seorang ulama Nusantara bernama Syaikh Abd Shomad Al-Falimbani lalu menulis kitab _Nashihah al Muslim wa Tadzkirah al Mu’minin fi Fadhail al Jihad fi Sabilillah wa Karamah al Mujahidin fi Sabilillah._ Di dalamnya, Syaikh al Falimbani menjelaskan, *WAJIB* hukumnya bagi kaum Muslim untuk melakukan jihad melawan mereka.

***

Sebagian orang salah atau gagal paham, jika Muslim memilih pemimpin Muslim, seolah-olah Muslim itu pasti memusuhi kaum non Muslim. Tentu saja itu *salah*.

Kedudukan non-Muslim dalam Islam sudah sangat jelas. Merujuk riwayat Ibnu Abbas RA, dalam _Kitab Sahih Bukhari_ (5266), klasifikasi non Muslim itu antara lain:
1. _Harbi_ (memerangi Islam)
2. _‘Ahdi_ (punya kesepahaman janji)
3. _Dzimmi_ (dalam perlindungan Islam)
4. _Musta’min_ (jaminan keamanan)

Sepanjang sejarah peradaban Islam sampai di masa keemasan kekuasaan Islam, umat Islam telah memberikan keteladanan yang luar biasa bagi dunia dalam membangun toleransi beragama dan penghormatan kepada non Muslim. Seorang penulis Yahudi, Martin Gilbert, mencatat kebijakan penguasa Muslim Spanyol terhadap Yahudi. Dia mengatakan, para penguasa Muslim mempekerjakan sarjana-sarjana Yahudi di bidang sains dan ilmu pengetahuan.

Karena Islam adalah agama wahyu, konsep keimanan, ibadah, dan juga sosial kemsyarakatan didasarkan kepada wahyu, bukan budaya. Tidak setiap *LAWAN* berarti *MUSUH*. Non Muslim bukanlah musuh orang Islam, *selama mereka tidak memusuhi Islam.* Kaum Muslim pun tidak menganggap LAWAN sebagai musuh. Non Muslim adalah _ummatud da’wah_ (umat yang menjadi objek dakwah).

Dari sudut pandang kebangsaan, Muslim dan Non Muslim adalah warga negara yang terikat oleh hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun dalam persepektif akidah Islam, non Muslim adalah kaum yang dimurkai Allah (QS Al Mumtahanah: 13). Bagaimana mungkin kalian (umat Islam_red) menjadikannya (non Muslim_red) sebagai wali dan mengambilnya sebagai teman dan kawan dekat (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4: 427 Dar al Fikr, 1404/1994).

Non Muslim dari kalangan Harbi (memerangi Islam) adalah kategori musuh. Nabi Muhammad SAW berkali-kali terlibat peperangan dengan non Muslim Harbi. Rasulullah SAW dan para sahabat pun melaknat mereka dalam doa-doa, doa qunut misalnya.

Al Quran mengingatkan umat Islam agar berhati-hati dengan kekufuran dan kemunafikan. Kekafiran diabadikan dalam surat Al Kafirun sedangkan kemunafikan diabadikan dalam surat Al Munafiqun. Kekafiran memiliki jiwa kemunafikan. Orang-orang munafik adalah musuh, maka berhati-hatilah. “Humul ‘aduwwu fahdzar-hum” (QS al Munafiqun: 4).

Itulah logika dan pola pikir Islam. Intinya merupakan penjagaan terhadap keimanan. Bagi Muslim, landasan sahnya amal adalah Iman. Jika Iman hilang, amal menjadi sia-sia, laksana fatamorgana, tiada nilai sama sekali.

( _disarikan oleh Ahmed Fikreatif dari artikel tulisan Syamsul Bahri Ismail berjudul *Logika Islam untuk Jakarta* di rubrik Islamia, Republika, 17 November 2016_ )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: