Kenapa Harga Rumah Nyaris Tak Terbeli?


*KENAPA HARGA RUMAH TINGGI NYARIS TAK TERBELI?*

Semalam, obrolan di sebuah group Whatsapp alumni sekolah yang saya ikut di dalamnya membahas tentang mahalnya harga rumah. Sejumlah anggota menyampaikan alasan-alasan penyebab kenapa harga rumah saat ini sangat tinggi seolah tak terbeli para buruh seperti kami. Ada yang menyampaikan, tingginya harga rumah salah satunya disebabkan karena makin kuatnya pengaruh sistem ribawi dalam perekonomian Indonesia yang cenderung kapitalistik.

Kemudian, anggota lain menyampaikan pengalaman sekaligus masukan yang terinspirasi dari para orang-orang tua zaman dahulu. Ia menceritakan, orang tua dan simbah-simbahnya dahulu bisa dibilang hidup dengan meminimalisir riba. Orang-orang tua zaman dahulu membiasakan diri menabung bukan dengan tabungan di Bank tetapi tabungan berwujud harta yang berwujud. Harta berwujud yang dimaksud misalnya emas, ternak/unggas, tanah/sawah, dan lainnya.

Saya pun teringat dengan pengalaman orangtua saya sendiri. Secara nominal gaji, penghasilan orang tua saya nampak mustahil untuk mampu membeli tanah, rumah, kendaraan, dan menyekolahkan anak2nya hingga kuliah. Namun realitanya, orang tua saya bisa.

Caranya, mereka berusaha menabung dalam wujud uang terlebih dahulu selama beberapa waktu, lalu tabungan yang sudah terkumpul dibelikan atau diwujudkan emas. Secara rutin, mereka mampu menabung sebatang demi sebatang emas yang disimpan selama beberapa tahun. Ketika dianggap cukup, tabungan emas itu dijual diwujudkan tanah, rumah, biaya haji, kendaraan dan kebutuhan bernilai besar lainnya.

Pengalaman lebih keren barangkali pada simbah buyut saya. Menurut ibu saya, konsep simbah buyut yaitu menabung uang, setelah uang cukup dibelikan emas atau ternak/unggas, dan kalau emas/ternak/unggasnya cukup dibelikan sawah/ladang. Kebutuhan sehari-harinya sudah banyak tercukupi dari hasil produksi sawah/ladang dan ternak/unggas, Sehingga, walaupun memiliki anak lebih dari 10 orang, simbah buyut tetap masih bisa menyekolahkan anak-anaknya (baca: simbah-simbah saya) sampai ke luar kota. Hebatnya, tanpa harus menjual aset-aset tanahnya yang kemudian setelah meninggal diwariskan kepada semua anak-anaknya.

Gambaran kehidupan masa lalu di masa orang tua hingga simbah buyut saya jelas menggambarkan kehidupan yang bagi saya menampakkan suasana yang minim riba dan kapitalisme. Hal itu seperti berkebalikan dengan masa sekarang. Banyak orang bekerja dengan (mengejar) gaji tinggi, mobil pribadi banyak di jalan menghiasi, penampilan pun sangat rapi necis berdasi tetapi mayoritas adalah produk utang atau kredit produk bank ribawi. Nyaris tak ada orang seusia 30 tahun mampu membeli rumah secara tunai. Dan bodohnya, itu juga terjadi pada diri saya yang harus tercebur dalam lubang berlumpur dosa besar bernama riba KPR. Semoga Allah SWT segera menjauhkan saya dari sini.

Jadi, kenapa harga rumah sekarang sangat mahal? Lalu, gimana cara kamu menabung dan membeli rumah? Bagi tipsnya dong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: