Pratiwi Sudarmono, “Astronot” Wanita Asia Pertama dari Indonesia


Taufik dan Pratiwi

Taufik dan Pratiwi

Astronot (kalau menurut kbbi, yang tepat astronaut) artinya awak pesawat antariksa. Indonesia pernah terlibat dalam misi luar angkasa NASA, STS-61-H yang dijadwalkan berangkat pada 24 Juni 1986. Misi ini bertujuan mengorbitkan tiga satelit komersial Skynet 4A (Inggris), Palapa B3 (Indonesia), dan Westar 6S (AS) dengan pesawat ulang alik. Indonesia mengajukan nama Pratiwi Sudarmono dan Taufik Akbar.

Dua nama itu merupakan hasil saringan dari sekitar 200 orang yang diseleksi langsung oleh NASA. Saat mengikuti seleksi, Pratiwi baru saja menggondol gelar doktor bidang biologi molekuler dari Osaka University. Sementara Taufik Akbar adalah insinyur telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Taufik merupakan pendamping Pratiwi dalam misi itu.

Keberanian wanita kelahiran Bandung itu benar-benar menyedot perhatian publik pada masa itu. Media mem-blow-up Pratiwi dengan sebutan *wanita Asia pertama yang akan menjelajah luar angkasa*. Tentu saja, prestasi itu tak hanya menjadi simbol kemajuan wanita Indonesia, tapi juga kemajuan pengetahuan Indonesia.

Seperti yang dikutip dari JPNN, menurut Pratiwi, keberhasilannya masuk dalam tim yang berangkat dalam misi pesawat ulang alik itu berlangsung cukup panjang. Dia sampai menghabiskan waktu 12 tahun untuk mempelajari seluk-beluk luar angkasa.

Sayang, misi STS-61-H terpaksa dibatalkan akibat musibah Challenger pada 28 Januari 1986, lima bulan sebelumnya. Pratiwi pun gagal menjadi astronot Indonesia dan astronot wanita dari Asia yang pertama. Kesempatan tersebut benar-benar hilang 11 tahun pascamusibah itu. Yakni, saat pemerintah benar-benar menggagalkan misinya pada 1997 karena badai krisis moneter. ”Itu bukan bantuan (NASA), tapi pemerintah harus bayar,” kata Pratiwi, dikutip dari JPNN.

Sekarang, aktivitas wanita kelahiran 31 Juli 1952 itu lebih banyak dihabiskan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Saat ini ia menjabat Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan. Selain tugas sehari-hari di FK UI, waktunya banyak tersita untuk beberapa penelitian penyakit TBC dan tifus. ”Saya gemas banget dengan dua bakteri itu. Dari dulu sampai sekarang tak pernah ada obatnya yang manjur,” ungkapnya.

Taufik dan Pratiwi 02

Di usianya yang mulai senja, Pratiwi memprihatinkan lambannya pembangunan teknologi di Indonesia saat ini. Kata dia, di era Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie, dunia riset Indonesia sangat maju dan terukur. ”Ke mana arah pengembangan penelitian jelas. Misalkan penelitian kedelai, arah pemerintah ke mana juga sangat terang,” jelasnya.

Perkembangan masyarakat dewasa ini, lanjut dia, juga kian tak jelas. Jarang sekali anak-anak atau remaja yang membanggakan sosok ilmuwan. Pratiwi menyebut negeri ini kehilangan sosok yang bisa dibanggakan. Dulu kalau ditanya soal cita-cita, anak SD akan mengatakan ingin seperti Pak Habibie. Kalau sekarang, kira-kira siapa?

(sumber bacaan: Majalah Historia, JPNN, Wikipedia, FKUI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: