Mahmud L. Latjuba, Anggota Masyumi & Pendiri Gerakan Ahmadiyah Indonesia


Mahmud Lamako Latjuba (Instagram Sophia Latjuba)

Mahmud Lamako Latjuba (Instagram Sophia Latjuba)

Anda pasti tahu Sophia Latjuba. Iya, Sophia Latjuba ibunda Eva Celia sekaligus kekasih Ariel NOAH itu. Kok malah bahas Sophia Latjuba? Sophia Latjuba anggota Masyumi? Oh. bukan. Kakek Sophia yang anggota Masyumi. Selain anggota Masyumi, kakek Sophia juga salah seorang pendiri Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI).

Nama kakek Sophia Latjuba yang dimaksud adalah Mahmud Lamako Latjuba. Ia lahir 2 Mei 1909 di Una-una, Sulawesi Tengah. Wafat 7 Desember 1975 di Jakarta.

Mahmud merupakan anak keturunan Arab yang bermukim di nusantara sejak lama. Sejak muda meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Yogyakarta dan tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto.

Pada 28 Desember 1928, bersama dengan Raden Ngabehi Haji Minhadjoerrahman Djojosoegito (kakeknya Gita Wiryawan) dan lain-lain, ia mendirikan De Ahmadiyya Beweging, yang di tahun 1930 resmi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia Centrum Lahore.

Setelah aktif di GAI, Mahmud juga aktif dalam kegiatan politik. Ia salah satu anggota Masyumi yang kemudian pada tahun 1947 terpilih sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) mewakili Masyumi bersama S.M. Kartosuwirjo, Prawoto Mangkusasmito, Mr. Samsuddin, dan Moh. Sardjan yang diketuai oleh Mr. Assaat dari Partai Sosialis (Kronik Revolusi Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dkk).

Melalui Masyumi pula, Mahmud Latjoeba juga terpilih menjadi anggota DPR RI. Ia termasuk orang yang ikut memperjuangkan asas ius soli dan stelsel pasif bagi kewarganegaraan RI. Hal ini didukung oleh banyak golongan, termasuk golongan keturunan Arab.

Karena latar belakang pendidikannya di Universitas Lahore, melalui Kepres No.38 Tahun 1952, ia diangkat sebagai Duta besar RI pertama untuk Karachi (Pakistan), Mesir dan Iran. Melalui relasinya sebagai Dubes di Pakistan, ia menyalurkan bantuan Pemerintah Karachi (Pakistan) berupa 24 helai permadani yang diterima Masjid Syuhada pada 13 September 1953. (Sumber: Buku Kenang2an MASDJID SJUHADA. 20 September 1952). Ia juga yang mempelopori berdirinya SIC atau Sekolah Indonesia Cairo.

Sekembalinya dari tugas Duta Besar, Mahmud menetap di Jakarta dan aktif dalam kegiatan-kegitan GAI. Ia ikut dalam proses penerjemahan buku Barahini Ahmadiyah tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Ia juga telah memulai penerjemahan The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali dari surat-surat juz amma. Namun usahanya belum tuntas karena kemudian ia wafat pada 8 Desember 1975 dalam usia 66 tahun.

sumber: ahmadiyah.org, instagram.com/sophia_latjuba88, wikipedia, dll

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: