Bima Arya dan Ridwan Kamil Dalam Peringatan Asyura


Bima Arya dan Ridwan Kami bersama istrinya masing-masing (Gambar: InfoBdg.com)

Bima Arya dan Ridwan Kamil bersama istrinya masing-masing (Gambar: InfoBdg.com)

Berkaca pada sikap Walikota Bogor Bima Arya dan Walikota Bandung Ridwan Kamil tentang izin peringatan Hari Asyura di masing-masing kota yang dipimpinnya menunjukkan bahwa memimpin itu tidak mudah, penuh beban, dan tak bisa menyenangkan seluruh pihak. Pemimpin juga bukan tak boleh melakukan kesalahan. Namanya juga manusia. Kalau Anda pernah memimpin, anda akan merasakan betapa memimpin itu tak mudah. Kalau mudah, semua akan jadi pemimpin, walau pada dasarnya setiap orang minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Perlu diketahui, sikap kedua Walikota muda ini dalam membuat kebijakan terkait peringatan Hari Asyura kenyataannya memiliki perbedaan pendekatan. Bima Arya menuai sorotan netizen setelah menerbitkan surat larangan perayaan Asyura bagi penganut Syiah di Kota Bogor. Sementara Walikota Bandung Ridwan Kamil memperbolehkan perayaan Asyura dilakukan di kotanya.

Alasan pelarangan yang disampaikan Walikota Bogor, untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta mencegah konflik sosial. Sementara alasan Walikota Bandung mengizinkan peringatan Asyura di Stadion Persib Sidolig supaya tidak menimbulkan dampak keamanan. Sudut pandang keduanya sama-sama pertimbangan keamanan.

Larangan perayaan Asyura di kota Bogor secara formal tertuang dalam Surat Edaran Nomor 300/1321- Kesbanggpol tentang Himbauan Pelarangan Perayaan Asyura di Kota Bogor. “Diterbitkanya surat edaran pelarangan itu karena adanya keberatan dari warga, karena jika tetap diadakan perayaan Asyura maka akan terjadi konflik sosial di Kota Bogor,“ kata Bima Arya.

Sementara izin formal perayaan Asyua di Bandung tidak ada. Hanya izin lisan. “Kejadiannya adalah magrib saya ditelpon oleh pengurus IJABI itu yang mengatakan sudah ada ribuan orang tapi tidak mendapat tempat, takut chaos. Saya juga sedang tidak berada di Bandung. Disitu saya harus memutuskan sesuatu yang masuk logika saya, yaitu Bandung harus aman. Maka dengan terpaksa saya bilang, ini harus cepat-cepat beres supaya tidak menimbulkan dampak keamanan. Akhirnya secara lisan saya izinkan (di Sidolig-red), itu pun saya bilang maksimal satu jam dan segera bubar,” kata Ridwan Kamil.

Sumber: Muslimdaily, JurnalIslam, InfoBdg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: