Saleh Intelektual Personal Dengan Saleh Perilaku Sosial


Setelah makan siang pada Rabu (28/10) di Warung Seng daerah Gondangdia, saya ngobrol bareng rekan-rekan kantor tentang korelasi kesalehan intelektual personal dengan kesalehan perilaku sosial seorang karyawan/pegawai di suatu perusahaan. Sampai obrolan rampung, belum ada kesimpulan dari hasil obrolan. Tetapi ada pernyataan dari kawan saya pada studi kasus salah seorang rekan kami di kantor bahwa kesalehan intelektual personal tidak menjamin kesalehan perilaku sosial. Pendapatnya itu tak dibantah oleh yang lain.

Kesalehan intelektual personal pada bahasan ini maksudnya perilaku kesalehan yang berwujud pada wawasan & pengetahuan yang tinggi terhadap ajaran agama dan kemudian terejawantah pada perilaku akhlak yang baik di dalam ritualitas-ritualitas ibadah. Contohnya seorang ulama/kyai bergelar doktor yang hafal Al Quran dan kemudian menjadi imam masjid, pimpinan pondok pesantren, atau lembaga ulama.

Sementara kesalehan intelektual perilaku sosial di sini maksudnya perilaku kesalehan yang berwujud pada akhlak yang baik di dalam perilaku sosial bermasyarakat baik secara umum atau secara khusus tanpa melihat kapasitas wawasan & pengetahuan terhadap ajaran agama. Contohnya seorang karyawan yang jujur dan enggan korupsi yang juga menjaga rukun Islam dengan pengetahuan agama sebatas informasi di pengajian, buku, atau internet.

Obrolan itu sebenarnya bertitik tolak pada opini rekan kerja saya terhadap salah satu rekan kerja kami yang dikenal memiliki tingkat intelektualitas, wawasan, dan pengetahuan keagamaan yang di atas rata-rata kebanyakan karyawan, sebut saja Fulan. Walaupun Fulan dikenal sebagai ‘ustadz’ di kantor dengan tingkat kesalehan intelektualitas di atas rata-rata, perilaku sosialnya di lingkungan kantor dianggap banyak minus. Tingkat kerendahan hatinya dianggap kurang di dalam pergaulan diantara sesama rekan kerja entah kepada yang level di atasnya apalagi yang level di bawah. Beberapa hal minus lainnya juga disebutkan. Dalam obrolan itu, salah seorang rekanku menyimpulkan, kesalehan intelektualitas personal Fulan belum tercermin pada kesalehan perilaku sosialnya.

Kesan negatif terhadap Fulan ternyata bukan sebatas ghibah di kalangan rekan-rekan kantor. Usaha untuk mengingatkan Fulan agar lebih berjiwa rendah hati ternyata juga sudah beberapa kali disampaikan dengan beberapa cara. Upaya menasehati perilaku sosial si Fulan agar mencerminkan perilaku pribadi yang saleh baik secara sosial maupun personal juga sudah dilakukan baik melalui pendekatan lembut maupun keras. Namun sayangnya, kesan minus pada tingkat kesalehan perilaku sosial Fulan masih saja tinggi di mata rekan-rekan kantor. Rata-rata, mereka menyayangkannya lebih karena si Fulan dianggap orang yang alim.

Karena itulah kemudian rekan kami menyatakan bahwa kesalehan intelektual personal tidak menjamin kesalehan perilaku sosial seseorang. Orang yang paham agama dan selalu pergi ke masjid/mushola untuk shalat jamaah tepat waktu bahkan menegakkan ibadah sunnah sekalipun belum tentu menjadi jaminan ia tak ‘mau duit’, tak korupsi, tak menyalahgunakan amanah jabatan, atau tak menyimpang. Harapannya, seluruh karyawan-karyawan di kantor memiliki wawasan agama yang tinggi, rajin ibadah, rendah hati, solidaritas tinggi, dan tidak korupsi. Dengan demikian, perusahaan menjadi seperti potongan surga yang memberikan keberkahan kepada seluruh pihak yang terkait.

Anda punya pendapat lain? Silakan, karena memang belum ada kesimpulan. 🙂

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. Nah..justru yg merusak agama memang benar perilaku yg blm bs menerapkan akhlaq dan aqidah om

    • karena itulah sy menulis ini sebagai introspeksi buat saya khususnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: