Menghajikan Orangtua atau Diri Sendiri, Mana yang Lebih Utama?


Saat saya nge-share info ‘Mumpung Masih Muda, Segera Daftar Haji‘ di sebuah group Whatsapp, banyak yang kemudian bertanya japri ke saya tentang menghajikan orang tua. Rata-rata, setelah membaca info saya di atas, mereka kepikiran orang tuanya yang belum haji. Katakanlah jika mampu mendaftar sekarang, orangtua mereka harus tetap menunggu hingga 20 tahun. Jika sekarang usia orangtua mereka sudah 50-60 tahun, maka mereka baru bisa naik haji pada usia 70-80 tahun jika masih diberikan umur. Lalu mereka kepikiran untuk menghajikan orang tua mereka dulu. Muncul pertanyaan, mana yang lebih utama dan lebih baik, menghajikan orang tua (atau org lain) atau menghajikan diri sendiri?

Singkatnya saya menjawab menurut keyakinan saya, menghajikan diri sendiri terlebih dahulu lebih utama daripada menghajikan orang tua, apalagi orang lain.

Argumen keyakinan pribadi saya, pertama dalam persoalan ibadah itu tidak berlaku kaidah itsar (mendahulukan orang lain). Dalam ibadah sebaliknya. Berlomba-lomba duluan. Alitsaaru bil qurbi makruuhun wa fii ghoiriha mahbuubun.

Lebih dari itu, haji adalah ibadah wajib yang bersifat perseorangan/individu (fardhu ‘ain). Dalam Islam, harta dan kemampuan seseorang itu sifatnya personalitas. Harta istri sendiri, harta suami sendiri, harta ibu sendiri, harta bapak sendiri. Artinya kemampuan masing-masing personal beda-beda. Anak bisa lebih kaya dan mampu daripada orang tua. Jadi kalau anak punya harta, maka jatuh hukum wajib pada si anak, sementara orang tua tidak wajib karena belum mampu. Maka yang terkena hukum Wajib tentunya harus memenuhi kewajibannya dulu. Kalau orang tua meninggal dalam keadaan tidak mampu, ya mereka tidak berdosa karena ngga mampu. Tapi kita yang asumsinya sudah mampu tapi belum berhaji, secara teorinya berdosa. Walaupun dosa atau tidak, itu urusan Allah.

Terakhir, saya pernah mendengar ada teks hadis yang intinya isinya Nabi SAW menyuruh berhaji untuk diri sendiri terlebih dahulu baru menghajikan untuk Syubrumah (kerabatnya).

Sehingga dengan demikian, menghajikan orang tua bukan bagian dari kewajiban birrul walidain. Tapi kalau memang kita mampu menghajikan diri, istri, dan orang tua sekaligus, ya itu sebuah kemuliaan.

Pandangan keyakinan saya ini kemudian saya perkuat dengan argumen bahwa, “Ibadah haji adalah kewajiban individu (fardhu ‘ain] bagi setiap Muslim yang mampu. Jika kita mempunyai kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, maka kita sudah terkena ketentuan hukum itu. Kita berkewajiban untuk berangkat haji, meskipun orangtua kita belum pernah haji. Mereka tidak terkena dosa apabila meninggal dunia dan belum melaksanakan ibadah haji karena tidak mampu. Mengerjakan apa yang menjadi kewajiban kita, dan bersifat fardhu ‘ain (dalam hal ini menghajikan diri sendiri) harus lebih didahulukan daripada yang tidak wajib (menanggung biaya haji orangtua)” [Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an, http://alifmagz.com/?p=15487]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanmu atas nama Syubrumah), maka beliau bersabda, “Siapa Syubrumah itu?” Lelaki itu menjawab, “Dia saudaraku –atau kerabatku-”. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, ”Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Berhajilah untuk dirimu sendiri, lalu hajikanlah untuk Syubrumah.” [HR. Abu Daud 1811 dan Ibnu Majah 2903. Hadits ini masih diperselisihkan keshahihannya dan statusnya apakah marfu’ (sabda Nabi) ataukah mawquf (hanya perkataan sahabat).]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ابْدَأْ بِنَفْسِكَ “Mulailah dari dirimu sendiri.” [HR. Muslim no. 997]

Dan juga bukanlah merupakan cara pandang yang benar bila seseorang melakukan haji untuk orang lain, sementara dirinya sendiri belum menunaikan haji yang wajib.

Para ulama mengatakan, “Kalau seseorang melakukan haji untuk orang lain, sedangkan ia sendiri belum menunaikan haji untuk dirinya, maka ibadah haji yang ia kerjakan untuk orang lain akan jatuh pada dirinya sendiri yang bertindak sebagai pengganti haji orang lain. Ia pun harus mengembalikan semua biaya dan perbekalan haji kepada orang yang ia wakili.”

Syarat-syarat lainnya telah dikemukakan sebelumnya, yaitu harus seorang muslim, berakal dan mumayyiz(dapat membedakan yang baik dan buruk) dan itu merupakan syarat wajib untuk setiap ibadah. [Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Fiqhul ‘Ibadat, Darul Wathon, Riyadh]

Pendapat yang mengatakan tidak boleh seseorang menghajikan orang lain sampai ia berhaji untuk dirinya sendiri adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali dan kebanyakan para ulama. Pendapat ini juga termasuk pendapat Ibnu ‘Abbas dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat beliau. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas tentang Syubrumah yang dikemukakan di atas. [Muhammad Abduh Tuasikal, http://rumaysho.com/2578-haji-untuk-diri-sendiri-dulu-baru-melakukan-haji-untuk-orang-lain241.html]

Haji Kewajiban

Dari situlah maka saya sejauh ini berkeyakinan, menghajikan diri sendiri terlebih dahulu lebih utama daripada menghajikan orang tua, apalagi orang lain. Wallahu ta’ala a’lam. Bagaimana kalau menurutmu sob?

Iklan

6 Tanggapan

  1. Sependapat dengan panjenengan mas bro 🙂

    • sudah daftar mas? Dapat jatah tahun berapa?

      • Daftar tabungan haji.tp blm memenuhi kuota mas..hihii kan hrus ada minim uangnya

      • Buru2 aja ditutup. Mumpung masih 25 juta sementara antrian terus berjalan.
        Pengeluaran yg sifate tdk urgent dipending dulu.

  2. kalau bisa dua2 nya , kalau gak bisa, orang tua dulu..thanks

    • kalau menurut hadisnya itu malah disuruh diri kita nya dulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: