Mogok Pedagang Daging dan Mafia Sapi


Mogok Pedagang Sapi (Foto: Angga Baghya Nugraha /Warta Kota)

Mogok Pedagang Sapi (Foto: Angga Baghya Nugraha /Warta Kota)

 

Para pedagang daging sapi mogok jualan (baca: Pedagang Daging Sapi Mogok Jualan Empat Hari). Asosiasi Pengusaha Pemotongan Hewan Indonesia (APPHI), menyatakan akan menghentikan kegiatan operasional sejak Sabtu hingga Rabu mendatang. Akibatnya terjadi kelangkaan daging sapi di pasar. Dampak lainnya, penjual bakso juga tidak bisa jualan karena ngga punya bahan baku.

Menurut laporan media, mereka mogok makan karena memprotes kenaikan harga daging sapi. Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Lama, Aling, mengatakan imbauan dilakukan terkait protes tingginya harga daging sapi di pasaran. Para pemilik rumah potong hewan dan asosiasi pedagang daging umumnya ingin harga daging sapi kembali ke harga normal.

“Kami pun sepakat meniadakan penjualan daging untuk sementara mulai Ahad. Stok daging juga sudah habis,” ujar Aling seperti diberitakan Republika.

Dengan aksi mogok ini, para MAFIA SAPI sedang memaksa pemerintah untuk menambah kuota impor sapi. Jika ini terjadi, Pemerintah memang benar-benar tak mampu melawan para MAFIA itu. Sementara di laporan lain menyebut, situasi ini justru diciptakan oleh orang-orang yang juga ada di dalam pemerintahan.

Menurut salah seorang kawan di Facebook saya, Tony Wicaksono yang pernah pengalaman dalam penggemukan sapi beberapa tahun silam, bisnis sapi tidak jauh-jauh dari mafia. Menurutnya, di tingkatan lokal saja yang bermain bisa bikin peternak kecil keringat dingin. Peternak selalu mengandalkan blantik dan tukang jagal untuk menjual sapi. Di tingkat ini saja harga sapi ditekan habis.

“Mau harga sapi selangit, tapi yang merasakan untung ya cuma blantik dan jagal. Untung yg didapat peternak sangat kecil, jika dihitung dengan tenaga ya jelas rugi,” katanya.

Potensi besar untuk swasembada sapi, tapi akses pasar bagi peternak sangat sempit. Tony berharap, program swasembada tidak hanya tentang pemenuhan kebutuhan, tapi juga tentang peningkatan kesejahteraan petani dan peternak.

“Dulu swasembada beras tapi petani tetap susah, tidak logis kan. Kalau seperti ini terus rasanya seperti tanam paksa jaman Belanda, harus tanam kejar target swasembada tapi hidup tetap melarat,” tandasnya.

Sementara menurut Chatia, temannya dari kalangan peternak sapi mengatakan, bibit unggul dari Lombok (produk lokal) lebih mahal daripada sapi impor. Hal itu karena banyaknya pungli yang harus dikeluarkan untuk para petugas di kalurahan, dinas dll.

Terlepas dari politisasi, kejadian ini dapat memberikan pelajaran bahwa Indonesia masih sangat bergantung dari produk impor. Solusinya, mari kita beternak sapi. Para ahli peternakan, kembalilah ke desa dan tinggalkan BANK-BANK dan perkantoran yang menjadi tempat kerja Anda sekarang!
Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: