Kereta Takwa


Shalat Jamaah di Kereta

Shalat Jamaah di Kereta

Kereta Takwa

Oleh guru-guru sekolah saya dari SD hingga SMA, saya memperoleh pelajaran bahwa pengertian takwa adalah menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebuah pengertian yang sederhana, singkat, tapi padat makna. Tapi kali ini saya tak membahas tentang takwa. Saya hanya mau share tentang ‘Kereta Takwa’ (penginnya sih kayak plesetan dari Kantata Takwa).

Bagi penduduk Indonesia, khususnya di Jawa, jika berbicara tentang kereta api, seperti tak ada habisnya. Sepertinya, kereta api memiliki lebih banyak cerita dibanding moda transportasi lainnya seperti bus, pesawat, atau kapal. Banyak keunikan-keunikan yang ditemui di kereta api yang (jarang) tak ditemui di bus atau pesawat. Kalau kapal saya tidak tahu karena belum pernah naik kapal laut. Keunikan itu misalnya tentang shalat para penumpang.

Selama ini, saya tak pernah melihat ada penumpang yang menunaikan shalat di bus dengan berdiri seperti yang ada di kereta api. Saya juga belum pernah (atau sebut saja jarang) melihat ada shalat jamaah diantara penumpang bus. Tapi kalau di kereta api, pemandangan itu bisa dan biasa terjadi. Sejumlah penumpang yang tak saling kenal menunaikan shalat jamaah. Bisa dua orang, tiga orang atau lebih. Saya pernah melihat sebanyak 6 atau 7 penumpang shalat jamaah. Saat itu shalat maghrib jamak dengan isya’. Sang imam membaca Al Fatihan dan surat pendek dengan nyaring. Saat makmum mengucap ‘Amin’, separuh penumpang di gerbong pun sayup mendengar sedikit kaget diantara suara gesekan roda kereta dengan rel.

Pemandangan seperti ini tentunya cukup menyenangkan. Kesadaran beragama masyarakat seperti meningkat. Perjalanan bukan alasan untuk meninggalkan Tuhan. Justru perjalanan membuat para penumpang perlu banyak memohon dan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar perjalanannya aman dan selamat sampai tujuan.

Bahkan dalam ajaran keyakinan yang saya anut, yaitu Islam, panjatan-panjatan doa saat dalam perjalanan berpotensi besar untuk dikabulkan Allah. Perjalanan yang dalam istilah Islam disebut dengan safar merupakan sesuatu hal yang dianggap menyulitkan. Allah menyediakan waktu itu sebagai salah satu diantara sekian banyak waktu mustajab untuk berdoa.

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengatakan bahwa safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan). Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ

Safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan)”. (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)

So, jangan pernah lupakan kewajiban (Shalat) walau dalam perjalanan!

 “Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: