Jatuh Bangun & Sejarah Lengkap Pasar Klewer Solo


image

Pasar Klewer merupakan salah satu simbol landmark Kota
Solo sebagai kota niaga yang sering kali juga mewakili
identitas kota. Dalam salah satu akun Twitter tentang Solo,
banyak tweet tentang Pasar Klewer. Hal ini menunjukkan
betapa lekatnya Klewer dengan Solo. Di awal tahun 2012
muncul wacana renovasi Pasar Klewer oleh Pemerintah
Kota (Pemkot) Surakarta. Terkait penataan ini, Pemkot
Surakarta tentunya mempertimbangkan banyak hal, mulai
dari hilangnya kenyamanan Pasar Klewer bagi penjual dan
pembeli hingga fungsinya sebagai salah satu aset heritage
Kota Solo. Terlebih sejak tahun 1971 Klewer difungsikan
sebagai pusat perdagangan batik di Solo. Di tahun yang
sama juga dilakukan pembangunan pasar yang dibuat
bertingkat seperti tampak sekarang serta diresmikan
langsung oleh Presiden Republik Indonesia pada masa itu,
Soeharto.
Kemegahan pasar yang dibangun tepat di luar tembok
Baluwarti Keraton Surakarta itu ternyata telah mengalami
masa pasang dan surut secara silih berganti. Kendati
demikian tidak mengubah fungsi pasar  sebagai simbol
kebesaran Mataram seperti yang terlihat sekarang bila
dilihat dari arah timur terpampang jelas simbol Kasunanan
pada gapura, tepat di muka pasar.

Secara historis pasar
yang terletak sebelah barat daya Keraton ini memang
perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari eksistensi
Keraton Kasunanan. Klewer menunjukkan identitas, saksi
sejarah, kekuatan, kesejahteraan, serta kejayaan Solo
sebagai pemangku budaya Jawa, terutama industri batik.
Menurut Babad Sala, Pasar Klewer sebelumnya bernama
Pasar Slompretan. Pasar ini dulunya kecil dan hanya
terkonsentrasi di tepi jalan tempat parkir kereta kuda yang
hendak ke Keraton, yang disebut Pakretan. Jalan di depan
pasar itu ternyata merupakan jalan tertua yang dibangun
masa Paku Buwana II di Solo sebagai jalur yang digunakan
pindahnya Keraton Mataram dari Kartasura ke Solo yang
kemudian bernama Surakarta Hadiningrat. Solo menurut
Oud-Javaansche Oorkende Nomor XLIII berasal dari kata
cala (bangunan suci berupa bangsal). Pakretan tadi selalu
disinggahi abdi dalem dari luar Kota Solo ketika Pisowanan
Ageng (menghadap Raja untuk acara tertentu). Nama
Pakretan ini mengalami pembiasan suara hingga disebut
Slompretan, yang kemudian mengilhami sebagai nama
Pasar Slompretan. Perkembangan pasar ini pada masa
pendudukan Jepang dapat dikatakan mati suri dikarenakan
aktivitas pendudukan Jepang yang keras membuat aktivitas
pasar ini sepi dan tidak terawat.
Klewer nama yang kemudian menjadi lebih populer
menggantikan nama Slompretan, ternyata diilhami dari
fungsi pasar yang digunakan oleh orang yang tidak memiliki
tempat berjualan secara menetap. Kebanyakan pedagang
masa itu tergolong orang miskin dikarenakan beratnya
kondisi sosial ekonomi masa itu. Masa pendudukan Jepang
(1942-1945) kebanyakan barang yang dijual berupa barang
bekas, serta dilakukan secara berpindah-pindah. Semula
aktivitas semacam ini terpusat di sudut tenggara Banjarsari,
tepatnya selatan kantor PDAM. Dilatarbelakangi estetika
serta alasan kelancaran lalu lintas, para pedagang di Kota
Solo disatukan ke Pasar Slompretan yang sebelumnya
sudah mati suri. Uniknya, para penjual dalam membawa
barang dagangan cukup disampirkan di pundak serta
dijajakan pada orang-orang yang lewat di sekitaran jalan
itu. Sejak saat itu, nama Pasar Slompretan berganti nama
menjadi Pasar Klewer, diambil dari bahasa Jawa klewer
yang digunakan untuk menyebut kondisi pedagang yang
membawa dagangan secara terumbai (dalam bahasa Jawa:
kleweran).
Urat Nadi Ekonomi
Fakta historis tadi hendaknya dapat menjadikan sedikit
refleksi bahwa eksistensi Pasar Klewer telah menjadi satu
bagian dari sejarah Kota Solo, ketika masa kejayaan hingga
masa terpuruk sekalipun. Bahkan layak Pasar Klewer
menjadi representasi yang menunjukkan identitas Kota
Solo. Pasar kebanggaan masyarakat Solo ini, menjadi bukti
sejarah perjalanan modernitas kota, melalui fungsinya
sebagai penjaga eksistensi industri batik.
Solo tanpa batik terasa hambar, sama halnya dengan batik
tanpa Klewer. Hendaknya rencana renovasi yang hampir
pasti ini harus lebih menguatkan fungsi Klewer sebagai
pusat tekstil di Solo, sehingga aksesibilitas, kenyamanan,
serta estetik dapat dikembalikan di tengah kondisi pasar
yang sudah semrawut dan terkesan jumud. Tidak dapat
dimungkiri saat ini sulit menemukan kenyamanan
berbelanja di Pasar Klewer, terlebih para pelancong yang
penasaran dengan kemasyuran Klewer. Bukan tidak
mungkin bila kondisi ini tidak segera ditangani, Klewer
hanya merupakan pasar komunitas tertentu semisal
pedagang grosir, serta tidak mampu mengakomodasi
semua segmen konsumen. Hal ini ditunjang dengan
semakin berkembangnya dua pusat perbelanjaan serupa
yang lebih modern dan lebih nyaman di sebelah timur laut
Klewer.
Kiranya memang perlu dilakukan renovasi untuk
mengembalikan Klewer sebagai pasar tekstil yang nyaman
serta tetap mempertahankan fungsi sebelumnya. Semoga
konflik pertentangan pedagang seperti yang pernah terjadi
di tahun 1969 tidak kembali berulang. Masa itu muncul
konflik yang dikarenakan sebagian pedagang harus keluar
dari pasar karena dikhususkan sebagai pasar batik dan kain
tradisional.
Terdapat ratusan pedagang yang bergantung dari aktivitas
Pasar Klewer, utamanya para pedagang tekstil. Para
pedagang ini sebenarnya resah jika pangsa pasar serta
relasi dengan pelanggan yang mereka bangun selama ini
akan turun, ataupun nantinya setelah renovasi mereka akan
kehilangan tempat yang strategis dan harus memuai dari
awal lagi. Keresahan yang juga muncul yakni ketakutan
akan adanya penarikan dana dalam jumlah besar agar
dapat menempati lokasi berjualan di dalam Pasar Klewer,
yang tidak kalah penting juga terganggunya penjualan di
tempat sementara selama proses renovasi.
Semoga pembangunan pasar ini menjadikan Pasar Klewer
terus berperan mengikuti arus perkembangan kultur
masyarakat Solo. Biarpun sebagai satu heritage,
keberadaan Pasar Klewer berbeda dengan Pasar Gede
Hardjonagoro. Pasar Gede memiliki struktur bangunan yang
khas dan sarat dengan nilai sejarah. Thomas Carsten,
seorang arsitek Belanda sengaja mendesain Pasar Gede
dengan gaya campuran Tionghoa, Jawa dan Eropa
sehingga bila nantinya dilakukan renovasi harus ekstra hati-
hati untuk menjaga wajah pasar agar tetap pada nilai
historis. Berbeda dengan Pasar Gede, Klewer sejak awal
tidak memiliki struktur bangunan yang khas, dikarenakan
Klewer lebih menekankan aspek sosiofact dibanding
artefak. Terlebih pasar ini telah dipugar di tahun 1970
sehingga renovasi yang direncanakan kini ini pun tidak
terlalu terikat historisitas bangunan.
Riyadi
Dosen luar biasa Pendidikan Sejarah UNS
image

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: