Tak Ada Yang Istimewa di Oh La Vita Resto


Sosis Oh La  Vita

Sosis Oh La Vita

Lidah setiap orang pasti berbeda. Karena berbeda itu pula, selera makanan setiap orang juga berbeda-beda. Kawanku mengatakan masakan-masakan pasta enak, lain denganku. Mungkin kebiasaan lidah saya sudah terlanjur terbiasa dengan masakan dan makanan Jawa, sehingga saat disodorin makanan ala Western sedikit kaget.

Tempo hari, aku dan istri diajak makan bareng kawan-kawan di sebuah resto (sebut saja warung atau tempat makan) yang menjual menu-menu kuliner Western. Kata kawanku Angger yang mengajak, menu andalan resto yang diberi nama Oh La Vita Resto itu antara lain roasted chicken, barbeque giant steak dan pizza meatlover. Dari namanya saja, lidahku sudah terasa kelu, hehe.

Karena sudah merasa tidak yakin dengan citarasa masakannya, Aku dan istri sengaja memesan satu porsi sosis (saya lupa spesifik namanya). Sementara Angger memesan steak dan kawanku lainnya Gama memesan salad.

Ternyata ‘feeling’ dan lidahku tak salah komunikasi. Ternyata masakannya benar-benar jauh dari citarasa yang ditoleransi lidahku. Saya baru makan satu sosis, rasanya mau muntah. Bumbu-bumbu masakan yang dipadukan sama sekali tidak terasa enak di lidahku.

Saos Oh La Vita

Saos Oh La Vita

Istriku lebih parah, dia baru menggigit sepotong dengan garpu sudah nyerah. Lidahnya seperti meminta talak tiga. Penasaran dengan menu lainnya, saya minta sepotong steak pesenan Angger. Rasanya juga sama. Aneh. Jauh citarasanya kalau dibandingkan dengan steak-steak pada umumnya apalagi dibandingan dengan steak dahsyat ala Abuba steak di Sabang, Jakarta Pusat.

Tanpa ragu-ragu, saya sodorkan saja ke kawan-kawan kalau ada yang mau menghabiskan sisanya.

Masih merasa penasaran, saya lalu mencicipi salad pesenan Gama. Walau kali ini lidahku masih bisa menerima, tapi citarasanya masih jauh dari yang kuharapkan.

Keluar dari tempat makan ini, saya makin ngga ngerti kenapa resto macam ini kok bisa-bisanya selalu dipenuhi para jaka-dara di Surakarta. Apa selera saya yang terlalu rendah atau mereka pura-pura menganggap masakannya enak. Saya mulai curiga, jangan-jangan motivasi pengunjung yang datang di sini lebih karena gengsi atau memaksakan diri untuk bisa ngolu makanan Western. Well, I don’t know.

Barangkali kesimpulannya memang setiap orang punya lidah yang berbeda sehingga tiap orang punya citarasa dan taste yang berbeda-beda pula. Selamat makan. Salam.

Nunggu pesanan makanan

Nunggu pesanan makanan

NB:

Oh La Vita Resto terletak di Jl Tirtosari No 11, Solo. Resto ini didirikan oleh lulusan University Western Australia Stepen Cliff W Santoso, 37, sejak 18 Maret 2012 bersama rekannya, Adzan Budiman, yang berpengalaman lama bekerja sebagai chef di hotel.

Konsep mereka menyajikan western food yang biasa disajikan di hotel menjadi makanan yang lebih merakyat. Rata-rata pengunjung yang datang ke Oh La Vita Resto sekitar 60-70 orang/hari. Pada akhir pekan, jumlah itu dapat melonjak hingga dua kali lipat. Harga menu yang ditawarkan kisaran antara Rp13.000-Rp45.000/porsi. Untuk menu minuman dijual dengan harga mulai Rp3.000 hingga Rp15.000/porsi.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: