Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Belajar


 

Ilustrasi [Copyright @ Benny Sugiarto Eko Wardojo | sumber: http://www.pixoto.com/]

Ilustrasi [Copyright @ Benny Sugiarto Eko Wardojo | sumber: http://www.pixoto.com/%5D

Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Belajar

Seorang pria tua duduk di baris terdepan. Rambut dan janggutnya sudah sangat sempurna beruban. Dengan peci putih dan rompi biru yang menutupi baju koko, ia duduk bersila menatap menyimak seksama. Matanya tertuju ke layar LCD di depan sebelah kanan. Sesekali perhatiannya tertoleh ke kiri kepada pemateri. Ia nampak mencoretkan sejumlah keterangan di kertas catatan.

Namanya Mukhlisun. Pak Mukhlis, aku memanggilnya. Berasal dari Buton, ia terbang ke Purwakarta mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan Khilafatul Muslimin, sebuah ormas Islam. Ia merupakan peserta pelatihan paling tua diantara lebih dari dua puluh orang yang datang dari penjuru nusantara.

Saat itu, ia mengaku telah berumur 58 tahun. Sebelum pensiun, ia pengajar bahasa Inggris di sebuah SMP swasta di kawasan Cijantung, Jakarta. Setelah purna tugas, ia kembali ke kampung halaman, membaktikan diri dalam dakwah di pulau penghasil aspal dan sekitar.

Di sela istirahat kegiatan pelatihan, ia banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Pengalaman memulai dakwah di lingkungan kerja, pengalaman menanamkan iman kepada murid-muridnya, pengalaman dikejar aparat polisi, dan segudang pengalaman lain yang ia ceritakan di serambi masjid Adh Dhuha, Purwakarta.

Saat menjadi guru SMP di sebuah Yayasan di Jakarta, ia sering ditegur pimpinan sekolah. Bukan karena suka keluyuran atau melanggar peraturan. Tetapi karena ia sering menyisipkan petuah-petuah agama di sela mengajar. “Kamu ini Sarjana Bahasa Inggris, guru bahasa Inggris, kenapa kamu ajarkan agama kepada murid-murid?” kata pak Mukhlis mengulang kata-kata pimpinan sekolah tempatnya bekerja dahulu.

Saya pengajar pak. Tapi saya takut apa yang saya ajarkan justru akan membuat mereka jauh dari Allah. Saya memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan mereka agama, sebuah ilmu dasar kehidupan,” katanya mengulang jawabannya saat itu kepada pimpinannya.

Berkat aktivitas dakwahnya di sekolah, pria lulusan Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Syarif Hidayatullah itu dipercayai mengelola mushola. Kesempatan yang tak ia sia-siakan. Ia kembangkan kegiatan kerohanian Islam di mushola itu. Karena para ustadz dan mubaligh yang diundangnya lintas ormas dan harakah, jamaah musholanya justru ramai. Dari ketekunan mengelola mushola itu pula, pak Mukhlis mampu bertamu ke tanah suci. Ia di-haji-kan Yayasan tempatnya bekerja.”Ibadah haji adalah keinginan besar yang saat itu saya pikir mustahil bisa saya tunaikan,” ucapnya mengenang.

Pengalaman getir saat berdakwah juga pernah ia alami saat kembali ke Buton, kampung halamannya. Ia mengaku pernah dikejar-kejar Densus 88 dan aparat intelijen. Gara-garanya diduga karena pak Mukhlis dianggap menyebarkan ajaran terorisme. Sebuah tuduhan yang tentu saja ditampiknya. Tuduhan itu berawal saat dakwah pak Mukhlis tentang pentingnya Khilafah di Buton meluas di tengah masyarakat. Info ini masuk dalam radar salah seorang pejabat pimpinan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) asal Buton. Diturunkanlah sejumlah intelijen untuk mengumpulkan informasi. Keluarga dan masyarakat Buton banyak ditanyai seputar keberadaan pak Mukhlis yang sering melakukan perjalanan. Rumahnya di Buton juga beberapa kali disambangi aparat intelijen. Namun sampai saat ini, ia tidak pernah ditangkap.

Pak Mukhlis mengaku memang sering melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain. Perjalanannya itu dalam rangka dakwah dan mencari ilmu. Dalam berdakwah ia sering mengunjungi pulau-pulau di sekitar Maluku dan Sulawesi. Sementara perjalanannya ke Jakarta dan wilayah Indonesia barat, biasanya dalam rangka mencari ilmu. Seluruh biaya dakwahnya ditanggung oleh Baitul Mal Khilafatul Muslimin. Dalam usia yang sudah sesepuh itu, aku mendapati keteladanan dari pak Mukhlis yang masih gigih mencari ilmu.

Sumber: Silakan klik pada gambar

Sumber: Silakan klik pada gambar

Kepadaku, ia mengaku senang ada anak muda yang memiliki ilmu dan pengalaman. Sebuah pujian yang berlebihan, bagiku. Ia mengaku sangat senang dengan pengetahuan-pengetahuan yang saya sampaikan. Sebaliknya, aku justru kagum kepada ghirah-nya. Ghirah seorang bapak tua yang biasanya tinggal menikmati kehangatan bersama keluarga namun masih semangat mencari ilmu. “Ilmu ini sangat bermanfaat untuk perjuangan dakwah saya ke depan,” katanya.

Selama setengah hari, aku memang diminta menjadi pemateri. Pemateri untuk menyampaikan sekilas pengetahun tentang jurnalistik. Sebuah pengetahuan mengenai dasar-dasar menulis jurnalistik di media. Pengetahuan yang kuperoleh sejak kuliah dan kupraktikkan hingga sekarang di sebuah media yang kami bangun bersama kawan-kawan. Dalam setahun terakhir, aku memang beberapa kali menjadi pemateri pelatihan jurnalistik di beberapa kota. Solo, Jakarta, Bandung, dan Bogor diantaranya. Impianku, aku bisa melakukannya di setiap kota di Indonesia. Setidaknya di setiap propinsi di Indonesia. Amin.

Satu pelajaran yang kupetik dari obrolanku dengan pak Mukhlis, tak ada kata terlambat dalam belajar karena belajar adalah proses yang baru terhenti setelah mati.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

16 Tanggapan

  1. setuju, kita hidup memang untuk belajar, baik dari pendidikan resmi, dari pengalaman, bahkan dari alam~ 😉

  2. Tuntutlah ilmu dari lahir sampai ajal menjemputmu

  3. tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina 😀
    sampai usia berapapun.

  4. Salam kenal, sangat setuju sekali pak dengan postingan nya, kita harus banyak belajar untuk kemajuan diri kita, keluarga dan bangsa kita… insya allah ilmu yang bermanfaat akan mengalir pahala nya walaupun kita sudah meninggal dunia… Trims banyak

  5. Sangat memotivasi anak muda untuk belajar

  6. Usia mau tidak mau memang pasti akan menua. Benar kan, mas? Cuma kita tetap berusaha agar tubuh tetap fit di usia itu. Belajar salahsatu cara agar syaraf otok tetap fit. Berikut ada lagi cara agar tubuh tua, tetap ‘muda’ mas, saya bagi di link ini ya http://bit.ly/1fG2Sdo

  7. Saya tertarik dengan judul artikel ini, itu artinya kita harus terus belajar tanpa mengenal umur. Selagi kita hidup, maka belajarlah terus. Tuntutlah ilmu dari lahir sampai ajal menjemputmu

  8. Artikelnya sangat menarik dan bisa menjadi inspirasi banyak orang. Terimakasih yah sudah berbagi informasi seperti ini. Salam kenal.

  9. Salut buat Pak Mukhlis, mencari ilmu sebuah kewajiban.
    Di Usia berapapun, dimanapun dan dari siapapun

  10. gak ada kata berhenti untuk belajar, dan gak ada kata cukup untuk belajar.. semangat..

  11. Fix ini website keren

  12. Belajar itu sampai akhir hayat

  13. OBAT KISTA
    thanks infonya
    http://goo.gl/8MQd7U

  14. Belajar memang tidak mengenal usia, tapi usia kadang yang menghambat kita untuk belajar, hehehe

  15. Makasih,, atas kisah,inspiratifnya

  16. Terima kasih atas informasinya ,,, ini sangatlah membantu dan izin mau share dan teruslah berkarya ! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: