Indonesia Memang Lebih Indah Tanpa Kehadiran JIL (Jaringan Islam Liberal) | #IndonesiaTanpaJIL


Ahad pagi (29/04) itu, seperti biasanya, Rinengga Tiyang Pamungkas (23) sedang mengayuh sepeda onthelnya melintasi kawasan Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo. Namun, ketika hendak melintasi Bunderan Gladag Solo, mahasiswa FISIP, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itupun menghentikan laju sepedanya. Ia tertarik dengan pemandangan yang dilihatnya.

Saat itu, di sekitar kawasan Bundaran Gladag yang menjadi ujung dari area CFD, ada puluhan anak muda berkaos putih bertuliskan “#IndonesiaTanpaJIL” sedang menggelar aksi. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye nasional untuk menolak ide liberalisasi agama yang selama ini sering dilontarkan oleh kelompok liberal, salah satunya Jaringan Islam Liberal (JIL). Ternyata, pegiat #IndonesiaTanpaJIL di Solo menggelar gathering dan silaturahmi serta aksi tebar flyer sebagai kampanye pewaspadaan atas paham liberalisme agama, Ahad pagi, 29 April 2012.

Puluhan aktivis #IndonesiaTanpaJIL memusatkan konsentrasi di Bundaran Gladag, sejak pagi pukul 05.30 WIB. Aksi diawali dengan silaturahmi dan gathering serta perkenalan. Sekitar pukul 07.00 WIB, aksi dilanjutkan dengan membagikan flyer-flyer kepada ribuan peserta Solo Car Free Day.

Kegiatan bertajuk tebar flyer #IndonesiaTanpaJIL itu diiringi juga dengan penyampaian informasi-informasi tentang paham-paham yang diusung oleh aktivis Jaringan Islam Liberal. Tujuan dari penyampaian info dan tebar flyer sebagaimana dikatakan oleh koordinator aksi, Amin Mualim, adalah sebagai bentuk upaya mengedukasi dan penyadaran kepada masyarakat akan bahaya atas adanya pemikiran-pemikiran yang sangat nyeleneh bahkan sesat dan menyesatkan.

“Aksi kita hari ini (Ahad, 29 April 2012_red) bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya warga Solo, tentang paham liberalisme yang diusung oleh aktivis JIL,” urai Amin di hadapan para pegiat #IndonesiaTanpaJIL kota Solo dan sekitarnya.

Pernyataan senada juga disampaikan Aslam, co-koordinator, dari Mahasiswa Pecinta Islam Solo. “Karena aksi hari ini adalah aksi untuk mengedukasi dan menyadarkan warga Solo, maka jika nantinya ada pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat, kita sampaikan jawaban yang informatif saja,” katanya saat briefing sebelum aksi tebar flyer.

Aksi #IndonesiaTanpaJIL di Solo, Ahad (29/04/2012), berhasil mengundang perwakilan MUI yang menyengaja datang ke acara lokasi di bundaran Gladag. Ustadz Dahlan, yang menyatakan diri mewakili Ketua MUI Kota Solo, KH. Zainal Arifin Adnan, menyatakan bahwa MUI sangat mendukung aksi #IndonesiaTanpaJIL dan akan meneruskannya melalui forum-forum yang lebih luas. 

Aksi Ahad pagi itu juga ikut dihadiri ustadz Abdul Rachim Ba’asyir (putera KH. Abu Bakar Ba’asyir) salah seorang staf pengajar di pesantren Al Mukmin Ngruki. Ustadz Iim, panggilan akrabnya, sengaja datang bersama puterinya sejak pukul 05.30 WIB secara pribadi tidak mewakili institusi manapun. Ia mengaku tertarik dan terkesan dengan aksi kreatif #IndonesiaTanpaJIL.

Di tengah acara, ada seorang warga Solo yang bernama Rinengga Tiyang Pamungkas (23). Dia merupakan mahasiswa FISIP, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.  Tiyang mengaku masih asing dengan nama JIL serta para tokohnya. Iapun penasaran, mengapa para peserta aksi yang merupakan gabungan anak muda mulai dari aktivis masjid, aktivis pergerakan, bahkan banyak pula yang masih tampak ‘begajulan’ menolak gagasan kelompok JIL.

“Kalau mau tau apa saja gagasan kelompok  JIL dan teman-temannya, gabung saja di facebook dan twitter Indonesia Tanpa JIL. Bisa juga lihat video-video yang diposting di Youtube #IndonesiaTanpaJIL,” saran salah satu peserta aksi kepada Tiyang.

Rasa penasaran Tiyang belum juga tertuntaskan. Pria yang berdomisili di daerah Depok, Solo itupun tampak serius bertanya tentang pemikiran liberalisme kepada salah satu peserta aksi. Setelah mendapatkan penjelasan dan juga melihat beberapa kutipan kicauan para aktivis liberal di twitter, Tiyang pun berkesimpulan bahwa memang perlu ada upaya perlawanan terhadap wacana liberalisasi agama yang disampaikan oleh kelompok liberal seperti JIL.

“Kalau perlu jangan cuma mewaspadai, tapi harus diberantas,” kata anak muda yang berpenampilan ‘selengekan’ itu dengan mantap.

Selain berkumpul di Bunderan Gladag, berbekalkan flyer berisi kicauan para aktivis liberal di twitter, stiker dan beberapa spanduk, para pegiat Indonesia Tanpa JIL juga berjalan menyusuri area CFD menyerukan kepada masyarakat Solo untuk mewaspadai bahkan menolak pemikiran aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) dan yang seide dengan mereka. Selain itu, mereka juga menggelar selembar kain putih untuk membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan terhadap ide liberalisasi agama yang sejatinya merupakan upaya perusakan terhadap ajaran agama Islam.

Aksi pagi itu rupanya cukup memancing perhatian warga Solo yang sedang melintasi area CFD. Beberapa dari mereka bahkan menyempatkan berbincang dengan para peserta aksi untuk menyampaikan dukungan dan membubuhkan tanda tangan di kain yang telah disiapkan.

Di akhir aksi, para pegiat Indonesia Tanpa JIL itu berkumpul dan meneriakkan yel “Indonesia Tanpa JIL…Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…” sambil berfoto bersama. Mereka meneguhkan niat dan menyatukan tekad menolak pemikiran kelompok liberal yang bagi mereka merupakan bentuk  “mengobok-obok” ajaran Islam.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. salam kenal, pertama berkunjung… silaturahmi
    Ikut mbaca aja
    Maturnuwun

  2. Sangat menyetujui artikel ini pm,, tuntaskan JIL..

  3. kalau JIL banyak mudaratnya jangan kita biarkan.

  4. emang JIL harus dihapuskan

  5. Ane juga mendukung aksi Indonesia tanpa JIL .. jika ada waktu luang silahkan kunjungi blog saya http://www.ebookprcindonesia.wordpress.com , di sana ada link download kumpulan tulisan ttg bahaya JIL yang tulisan itu formatnya prc/mobi yang dapat di buka lewat hp blackberry atau android

  6. Di Indonesia, terlebih lagi di dunia maya, kita menyaksikan para aktivis JIL begitu vulgarnya mempertontonkan pemikiran-pemikiran menyimpang. Mulai dari Ulil Abshar Abdalla yang berani mempertanyakan finalitas kenabian Rasulullah saw, hingga Syukron Amin – liberalis yang masih ‘bau kencur’ – yang berani menghalalkan ciuman dengan lawan jenis yang bukan pasangan suami/istri sah. Berbagai hal mereka gugat, mulai dari otoritas al-Qur’an hingga ke-ma’shum-an para Nabi dan Rasul. Segala hal mereka anggap ‘belum selesai’, mulai dari keharaman homoseksualitas hingga asal muasal agama itu sendiri. Inikah sikap kaum intelektual Islam yang sesungguhnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: