“Makan Gaji Buta”


Makan Gaji Buta”

Magabut,” kata salah seorang kawanku via Yahoo Massenger (YM) kepadaku. Magabut yang dimaksudkan kawanku yaitu ‘makan gaji buta’. Ucapan kawanku itu bernada canda namun juga sekaligus sindiran. Ia mengatakan demikian setelah sering melihatku online di YM dengan status aktif pada jam-jam kerja. Bahkan tak hanya itu, setiap kali ia mengajakku chatting aku hampir selalu stand by menjawab sapaannya. Karena itulah ia menyebutku sebagai pemakan gaji buta.

Dia : Assalamu’alaikum.

Aku : Wa’alaikum salam wa rahmatullah.

Dia : Lagi ngapain?

Aku : Kerja lah.

Dia : Kerja kok malah online. Chatting lagi. 😕

Aku : Hmm… Ya kerjaku itu online ini. :p

Dia : Hayyah. Ngeles.

Aku : Eh, beneran.

Dia : Enak kali kerjamu. Magabut. >_<

Aku : Biarin. :p

…….. dst.

Apa yang disampaikan kawanku di YM sebenarnya tidak terlalu salah. Memang dalam masa-masa awal aku bekerja sebagai Legal Officer di perusahaan ini, aku hampir sama sekali tidak melakukan sebuah pekerjaan selayaknya seorang legal officer. Jangankan seorang legal officer, minimal seorang karyawan pada umumnya pun juga tidak aku kerjakan kecuali hanya sedikit saja. Aku bingung mau melakukan apa karena pak Alex -atasanku- belum sama sekali memberikanku suatu aktivitas kerja yang nyata. Aku hanya dimintanya untuk banyak-banyak membaca apa saja yang bisa dibaca. Karena aku merasa sudah membaca dokumen-dokumen yang kubaca berkali-kali sampai bosan, maka pilihanku untuk membunuh kebosanaan itu hanya dengan berinternet ria. Magabut.

Nasib berbeda dialami temanku se-angkatan masuk perusahaan ini yang ditempatkan di bagian pemasaran dan bagian keuangan. Meski masih baru usia tak lebih dari dua pekan bekerja, kedua kawan baruku ini sudah dipaksa larut dalam pekerjaan rutinitas di bagian masing-masing. Keduanya sudah mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.

Hasto yang ditempatkan di bagian pemasaran sudah larut dalam pekerjaan bahkan sejak hari pertama ia bekerja. Hari kedua, ketiga, dan seterusnya ia sudah mulai melaksanakan lembur sampai harus pulang menjelang maghrib. Setiap hari sejak hari pertama, ia dituntut harus bisa membuat sebuah surat kontrak (sales contract). Tak hanya itu, sebagai anak baru di perusahaan, ia juga harus rela dipelonco oleh para senior yang meminta bantuannya mulai dari membuatkan surat, memo, mengarsipkan dokumen, sampai memfotokopi dokumen-dokumen. Aku jarang bertemu dengannya di kantor kecuali jika saat kami menunaikan sholat dzuhur berjamaah di mushola.

Situasi yang sama juga dialami Bagus, kawan seangkatan yang ditempatkan di bagian keuangan. Ia juga sudah mulai larut dalam pekerjaan-pekerjaan kantor. Meskipun tidak sesibuk Hasto, Bagus sudah mendapatkan pos pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Melakukan kegiatan verifikasi surat-surat yang masuk di bagian akuntansi. Biasanya surat-surat yang diverifikasi adalah surat-surat tagihan keuangan. Karena masih berstatus karyawan baru, ia hanya diminta membantu seorang karyawan yang bertanggungjawab pada pekerjaan itu sampai beberapa bulan selanjutnya. Pekerjaan itu akan menjadi tanggungjawabnya penuh Bagus setelah karyawan lama yang bertanggungjawab itu pensiun dalam beberapa bulan kemudian. Meskipun boleh dibilang cukup sibuk, ia selalu pulang tango (teng kemudian i: istilah dalam kantor untuk menyebut waktu pulang kantor tepat waktu) tanpa tambah lembur.

Apa yang dialami kedua kawanku tentu saja sangat jauh berbeda dariku. Aku sama sekali belum larut dalam pekerjaan. Pekerjaanku selama beberapa pekan awal hanya membaca-baca dan berselancar di dunia maya. Aku juga belum paham apa yang akan aku kerjakan nanti di perusahaan ini. Aku juga belum mencari tahu apa yang menjadi tugas-tugasku nanti. Bahkan untuk pekerjaan rekan-rekan di ruanganku pun aku masih belum paham pekerjaan mereka. Dari pagi sampai sore menjelang petang, aku hanya duduk-duduk di depan laptop sambil menunggu pak Alex -atasanku- kembali ke ruangan untuk aku pamiti sebelum aku pulang ke kos.

Begitulah rutin hari-hari awalku bekerja di kantor perusahaan ini. Magabut.“Gue harus gimana lagi biar bisa nampak bekerja?” aku merutuki diriku sendiri. Ternyata menjadi seorang karyawan yang magabut itu justru bikin tersiksa.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

7 Tanggapan

  1. Sy rasa mas lbih baik buka usaha sendiri agar lbih efektif,padat,n membantu mengentaskan kemiskinan 🙂

  2. bagaimana dgn tanya² pada kawan/orang lain yg bekerja pada bidang yg sama dengan mas ahmed? agar tau dan dapat gambaran? kalau saia sih jelas tak tau apa saja jobdesnya.

  3. seharus nya bka usaha sendiri

    mampir yach d web kmi http://unsri.ac.id

  4. nah…. siapa yang gabut?
    Piye kabare mas?

  5. q juga ngalamin nich, ku kerja di bidang IT tapi belum di kasih kepercyaan penuh oleh bos sehingga aku cuma klantang kalantung duang

  6. Qw seorang drafter, d slah stu CV d sidoarjo,.
    Qw mngalami hal yang sama,.!
    Lalu aq harus bagaimana,.!
    .
    Apakah aq harus resign,.??

  7. menurut saya istilah GAJI BUTA tepatnya ditujukan bagi pegawai yang TAK LAKUKAN job description-nya.

    kalau lihat cerita anda…, menurut saya anda tidak makan gaji buta. anda memang DIGAJI UTK ITU… utk sementara ini.

    Yg penting kan anda SIS SEDIA jika nanti ada panggilan tugas di luar rutinitas.

    so… just do it. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: