Milad, So What?


Sumber Gambar Silakan Di Klik Saja

Milad, So What?

Mas, nanti makan siang kemana?” ucap salah seorang rekan kerja di kantor.

Pizza Hut atau De Cost ada paket murah lho. Kalau mau pesan online juga bisa saya bantu deh,” tambahnya.

Mendengar ucapan kalimat-kalimat yang terlontar membuatku tersenyum.

Semoga makin bijak, enteng rezeki, enteng jodoh, serta dimudahkan Allah atas semua cita-citanya,” ucap rekan kerjaku yang lain. “Amiin, terima kasih,” jawabku.

Makan-makan paling seberapa duit sih, nggak bikin habis tabungan kok. Kalau bilang nggak punya duit, bohong banget deh. Secara, tanggal 25 pas gajian gitu…,” timpal kawan kerjaku lainnya menyindir. Lagi-lagi aku hanya tersenyum saja.

Hanya tinggal keikhlasan dan kesadaran saja,” pungkas rekan kerjaku yang lain.

Hahahahaha…. terima kasih atas doa-doanya, tapi saya tidak bisa mentraktir makan kalian,” ucapku merespon sindiran-sindiran kawanku serta ucapan selamat ulang tahun dan doa-doa yang mereka sampaikan. Aku tetap bersikeras enggan untuk mentraktir mereka makan-makan. Aku sudah siap jika barangkali disebut pelit, uthil, mbethithil, atau kikir sekalipun. Tapi aku berharap semoga saja tidak demikian.

Hampir genap tiga tahun aku bekerja di sebuah perusahaan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sudah tiga kali aku mengalami proses pergantian hari lahir atau yang biasa disebut dengan ulang tahun selama bekerja di perusahaan ini. Selama tiga tahun itu, baru pada tahun ini aku memperoleh ucapan ulang tahun dari beberapa rekan se-kantor.

Selama ini, aku memang menyembunyikan identitas hari kelahiranku di Facebook yang biasanya dijadikan sebagai pengingat hari ulang tahun seseorang. Sengaja aku menyembunyikannya karena aku tidak ingin rekan-rekan se-kantor mengetahui hari ulang tahunku. Akibatnya, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui tanggal ultahku. Biasanya mereka adalah orang-orang, kawan-kawan, dan sahabat-sahabat terdekatku saja. Mereka biasanya hanya memberikan ucapan selamat dan doa kebaikan.

Entah bagaimana mula serta apa yang menjadi penyebabnya, beberapa bulan terakhir ini ada semacam geliat untuk mentradisikan hari ulang tahun serta merayakannya dengan makan-makan di kantor perusahaan tempatku bekerja ini. Sekitar dua bulan lalu (kalau tidak salah hitung), teman satu ruanganku mendapat kejutan ucapan ulang tahun dari beberapa orang karyawan-karyawati. Mereka memberikan sebuah hadiah kotak yang terbungkus. Isinya makanan dan aneka snack yang merupakan kesukaan yang tengah ultah. Selembar kertas berisi pesan dan doa juga sengaja ditulis hingga membuat kawanku yang ultah menitikkan air mata. Terharu barangkali.

Beranjak sebulan kemudian, kembali salah seorang rekan kantor berulangtahun. Ia menyediakan kepada kotak makan siang untuk beberapa karyawan-karyawati. Ada lebih dari sepuluh kotak kurasa. Dua puluh pun sepertinya juga ada. Aku kebagian jatah satu kotak juga. Sebagai bentuk rasa ‘syukur’, katanya. Sementara beberapa kawan yang lain ada yang menyiapkan sebuah surprise berupa kue roti tart lengkap dengan lilin yang tengah menyala. ‘Syukuran’ ulang tahun itu pun berubah menjadi sebuah pesta ultah sederhana. Tiup lilin, potong kue, dan make a wish. Tak lupa tentu saja adalah makan-makan. Aku ‘terpaksa’ berpartisipasi dalam pesta sederhana itu, suka atau tidak suka.

Awal Januari lalu, sebuah pesta ‘syukuran’ ulang tahun sederhana juga kembali diadakan. Kali ini giliran Direktur Utama perusahaan. ‘Syukuran’ sederhana kali itu disiapkan beberapa Manajer dan Asisten Manajer. Pak Dirut diberikan surprise ucapan ultah berupa kue tart lengkap dengan lilin menyala.

Pada saat itu, aku mulai merasa sepertinya ‘tradisi’ ulang tahun mulai dipopulerkan kembali. Sebagai ungkapan perhatian, simpati, persahabatan, dan kekompakan sesama rekan kerja barangkali. Perlahan, ulang tahun pun seperti menjadi tradisi baru di perusahaan ini. Rencana pengumuman daftar para karyawan-karyawati yang berulangtahun pada setiap bulan di papan majalah dinding semakin menegaskan kembali pelestarian tradisi ucap-mengucap ulang tahun.

Saya yakin, tidak semua orang suka dan menyukai tradisi ulang tahun, apalagi dengan pesta-pesta yang mengirinya. Dan aku merupakan salah satu diantara sebagian orang yang tidak suka. Sejak kecil, aku tidak mengenal tradisi pesta-pesta ulang tahun seperti yang saat ini populer di Indonesia, khususnya. Orangtua dan keluarga besar kami baik dari garis ayah maupun ibu tidak ada yang mengenal dan mengenalkan tradisi pesta atau ‘syukuran’ makan-makan pada saat ulang tahun. Pesta ‘syukuran’ saja tidak diajarkan dalam keluarga kami apalagi tradisi tiup lilin dan make a wish. Hanya untuk orang-orang kafir, sekuler, dan kaum gedong saja acara tiup-tiup lilin itu, kata mereka.

Pada hakikatnya, keluargaku bukanlah keluarga yang terlalu ketat dalam beragama. Kami tidak seketat seperti fatwa beberapa ulama yang melarang segala bentuk ulang tahun baik dengan alasan apapun karena dianggap secara sempit sebagai tasyabuh terhadap budaya orang-orang kafir. Katanya, tradisi ultah atau milad adalah tradisi Nashrani dan Budha1. Kami tidak semudah itu menilai setiap tradisi dan budaya yang tidak dijumpai dalam tradisi Islam sebagai sebuah tradisi tasyabbuh begitu saja. Begitupula, kami juga tidak menerima setiap tradisi yang dianggap islami karena berbau ke-Arab-araban sebagai tradisi Islam. Dalam kasus ini, kami juga tidak lantas mengganggap tradisi ulang tahun sebagai bentuk aktivitas sunnah atau kewajiban atau keutamaan.

Dalam keluarga kami, ditanamkan sebuah pelajaran agar memperbanyak syukur kepada Allah. Sejauh yang kami tahu, bersyukur kepada Allah merupakan bentuk kegiatan yang memiliki dimensi luas tidak seperti sholat yang sudah jelas merupakan bentuk ibadah yang tegas tata caranya.

Sependek yang kami ketahui dari guru-guru dan ustadz-ustadz yang mengajarkan kami pelajaran agama serta bacaan, banyak cara untuk bersyukur. Bersyukur bisa dilakukan dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, dengan memperbanyak shalat, membaca Al Qur’an (dan memahami makna-maknanya), mencari ilmu dan lain-lain.

Bersyukur juga bisa dilakukan dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan muamalat dengan manusia, seperti membantu orang miskin, mengajarkan kelebihan ilmu yang dimiliki, menolong orang lain yang kesusahan dan lain-lain. Singkatnya, bersyukur adalah mendekatkan diri kepada ketaatan kepada Allah SWT2.Namun demikian ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bersyukur adalah ibadah khusus yang jika tidak dicontohkan oleh Nabi maka termasuk Bid’ah. Silakan mau mengikuti yang mana. 🙂

Seperti halnya umat Nabi Musa AS setelah lolos dari kejaran Fir’aun berkat pertolongan Allah, mereka pun bersyukur dengan melakukan ibadah puasa, yang kemudian dikenal dengan puasa Asyura (silakan baca Al Baqarah 49-53 lengkap dengan tafsirnya). Pada zaman Nabi Muhammad SAW, puasa Asyura ini dikenal sebagai bentuk tradisi ibadahnya orang-orang jahiliyah.

Abdullah bin Umar mendengar Rasulullah SAW bersabda mengenai hari ‘Asyura: “Ini merupakan hari dimana kaum jahiliyyah biasa berpuasa. Maka barangsiapa yang suka, silakan berpuasa. Dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya, maka tinggalkanlah.” Dan Abdullah tidak berpuasa (pada hari ‘Asyura) kecuali jika Nabi SAW berpuasa”. (HR Muslim)

Selama ini, keluarga kami memberikan pelajaran untuk tidak “gemar” melakukan dan mencontohkan atau menganjurkan kebiasaan pesta ulang tahun (apalagi dengan tiup lilin). Kami diberi wejangan untuk memperbanyak ibadah (sholat sunnah, puasa, membaca al Quran, dzikir, dll) atau jika memiliki harta berlebih, agar bersedekah dan berinfaq kepada yang membutuhkan. Demikianlah kiranya aku tidak suka dengan pesta-pesta ulang tahun seperti itu. Milad, So What? Wallahu a’lam

__________________

1Dalam wikipedia disebutkan dinyatakan bahwa tradisi ulang tahun dikenal dalam berbagai macam lintas budaya bangsa dan agama. Paling populer, tradisi ultah dirayakan dalam budaya Nashrani dalam bentuk perayaan Natal serta oleh kaum Budha. Lihat. Sedangkan tradisi Maulud Nabi Muhammad SAW masih menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam sendiri, antara yang membolehkan dan yang mengharamkan mutlak. Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Birthday

2kata “syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali dalam Al Quran. Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu,

  • Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.
  • Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.
  • Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
  • Pernikahan, atau alat kelamin.

Ar-Raghib Al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran berkata, bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.” Kata ini –tulis Ar-Raghib– menurut sementara ulama berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup –(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. Wallahu a’lam.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. Hmm… udah lama ga meninggalkan jejak. Pas liat inbox email ada posting yang bikin pengen komen. 😛
    keluarga besarku, bahkan kakek nenekku, justru termasuk yang paling suka mengingat, dan mengucap selamat setiap ada yang berulangtahun. Kalo dulu waktu kecil aku suka karena dapat banyak hadiah dan sepertinya semua orang memperhatikan kita (perasaan narsis yang seharusnya tidak dipelihara, memang). meskipun begitu, seumur hidup aku merayakan paling cuma 1 kali, yang pake kue2 segala. bahkan waktu temenku rame2 sweet 17an, aku ga ikut2an dan ga merasa kehilangan atau minder atau apalah. semakin beranjak dewasa, hari lahir cuma dijadikan momentum buat mengamini doa2 orang yang baik2 buat kita. kalau di facebook aku cantumkan tanggal sebenernya supaya ga dipanggil “ibu” aja sih, haha…
    Anyway, kali ini aku juga memanfaatkan momentum deh. Selamat hari lahir dan bertambah usia ya mas, semoga selalu istiqomah, konsisten, dan berbahagia di dunia maupun akhirat, dan segera bertemu jodoh yang baik, cantik, dan shalihah dan membangun keluarga yang semua keturunannya berbakti kepada Allah. Aaaamiiiiiin. 🙂

    Maap yaak kepanjangan, udah lama ga komen di blog sih. hehehe,…

  2. terakhir dirayaain pas TK dulu, sekarang gk begitu penting

  3. Ultah… saya sih mikirnya, ultah adalah berkurangnya jatah hidup kita di dunia ini. Setiap kali ultah, setahun sudah berkurang umur kita. Jadi, merayakan hari berkurangnya waktu kita hidup di dunia? Aneh. 😆

  4. sepertinya, sudah waktunya saya untuk berhenti hura-hura milad…
    saya mungkin adalah diantara teman2 saya yang paling jarang traktir mentraktir, tapi saat ultah, saya usahakan traktir, tapi benar, dipikir2 ulang, harus segera ditinggalkan, insyaAllah.

    terima kasih mas, mencerahkan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: