SBY Calls Me


Presiden SBY Memanggil...

Presiden SBY Memanggil...

SBY Calls Me

Hari-hari di berita hanya diisi dengan isu seputar reshuffle dan perkosaan di angkot atau oleh oknum sopir angkot. Sejujurnya, aku muak mendengarkan berita yang berisi begitu-begitu saja. Penginnya sih berita yang muncul itu yang sedikit berbobot yang tidak berbau urusan politik-politik praktis ala demokrasi atau urusan kriminalitas yang justru menakut-nakuti masyarakat. Berita terungkapnya korupsi, berita bebasnya negeri ini dari korupsi, berita tentang prestasi yang diraih anak negeri, atau berita motivasi-motivasi lain yang lebih mencerdaskan. Tapi apa boleh buat, dua media besar yang lebih berperan sebagai provokator besar di negeri inilah yang saat ini menguasai opini. Mau tidak mau harus menjadi korban provokator si biru apalagi si merah.

Sore tadi, seluruh media membicarakan tentang reshuffle. Di kantor, obrolan-obrolan ringan pun sedikt banyak membahas pula isu reshuffle. Bahkan ada yang menjadikan isu reshuffle ini sebagai komoditas judi dengan menebak siapa menteri yang bakal digeser dan siapa yang akan maju mengisi. Situasi dan kondisi ini seperti menggambarkan betapa seorang manusia bernama SBY begitu (sok) berkuasanya dengan gaya yang lebih terkesan feodalis dengan memainkan nasib seorang menteri. Kurasa, tingkat feodalisnya melebihi gaya feodalis kraton yang selama ini dianggap monarki olehnya. Ternyata tanpa disadari, apa yang dilakukannya justru lebih monarkis.

Di tengah-tengah pembicaraan mengenai isu reshuffle, ponselku berdering. Muncul nama ‘Presiden SBY’ dalam layar ponselku. Ada tulisan ‘Presiden SBY memanggil’. Ada apa ini SBY menelponku? Apa aku hendak ditawarinya jabatan menteri dalam kabinet Indonesia Bersatu-nya? Aku belum niat mengangkat ponselku. Pada saat yang hampir bersamaan, mas Komar mengumandangkan azan asar dari langgar (mushola). Tanpa banyak pikir, kuacuhkan saja panggilan SBY yang masuk ke ponselku. Bagiku, panggilan azan untuk menghadap Allah SWT Sang Khaliq lebih kuutamakan daripada seekor manusia biasa yang sama-sama makan nasi.

Sekedar kontemplasi tentang kondisi hati yang dihubungkan dengan situasi negeri. Selamat menunggu telepon dari Sang Presiden, kawan. Salam.

 

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. Yak, dan Mas Ahmed bakal jadi staf ahli presiden. 😆

  2. Bersahabat dengan Presiden SBY tampaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: