Mbokdhe Sang Penjahit


Mbokdhe Sang Penjahit

Aku buka almari (baca: lemari) di pojok kamar. Ku ambil dua potong celana panjang. Masing-masing berwarna coklat dan hitam. Celana yang berwarna coklat ada sedikit robek di ujung bawahnya. Sedangkan celana warna hitam rusak resletingnya sehingga tidak bisa dikenakan. Resletingnya dol sehingga kalau nekad ku pakai aku dikira orang gila atau orang yang menderita exibisionisme (koreksi jika tulisannya salah. 😀 ).

Kedua celana panjang itu sengaja kuambil untuk kubawa ke penjahit langganan yang mau dan bisa memperbaiki sedikit kerusakan celanaku. Tak banyak penjahit yang mau meluangkan waktunya untuk membuka jasa perbaikan celana yang rusak. Aku baru menemui ada 2 penjahit di Solo yang mau menerima jasa perbaikan celana yang rusak seperti celanaku. Pertama di kawasan Pajang dan yang kedua di kawasan Panularan. Penjahit yang di Pajang sudah meninggal beberapa bulan silam. Jadi, langgananku tinggal penjahit di Panularan. Cukup jauh kalau diukur dari lokasi rumahku. Sekitar 7 KM. Tetapi mumpung ada waktu selama di Solo, jarak 7 km tidak terasa jauh. Sepuluh sampai 15 menit perjalanan jika dicapai dengan sepeda motor. Dinamakan Panularan barangkali karena dulunya ditinggali orang ningrat yang bernama Haryo Panular. Aku tidak berani memastikan.

Penjahit langgananku yang berada di kawasan Panularan ini seorang wanita. Dari raut mukanya, nampaknya ia sudah berusia cukup tua. Tetapi kalau dipanggil simbah atau mbah sepertinya belum pantas dan kurang pas. Karena itulah, kupanggil ia mbokdhe. Mbokdhe berasal dari kata simbok gedhe. Penggunaan istilah mbokdhe seringkali digunakan untuk kata sapaan bagi mereka para ibu-ibu yang belum pas dipanggil mbah yang berprofesi pada bidang-bidang non formal seperti pedagang jamu, sayur, warung, dan lain-lain di kota Solo dan sekitarnya. Jika usia mereka relatif masih muda, sebutannya bukan mbokdhe, namun mbakyu atau seringkali hanya disebut yu saja.

 

 

Mbokdhe Sang Penjahit

Mbokdhe Sang Penjahit

Mbokdhe penjahit ini membuka jasa menjahit hanya di sebuah rumah semi-permanen yang tersusun dari papan-papan dan seng saja. Ukuran rumahnya pun juga tidak luas. Barangkali sekitar 2,5 x 6 M. Panjang rumahnya masih kalah dengan ukuran panjang lebar gawang sepakbola. Ia menempati rumah itu juga tidak di atas tanah sendiri, tetapi di atas tanah pemerintah yang langsung mepet menghadap dengan Jalan Haryo Panular. Sedangkan belakang rumahnya ada lapangan luas yang merupakan eks-mess klub sepakbola Galatama top di masanya, Arseto Solo. Melalui usaha jasa menjahitnya itulah mbokdhe ini bisa menyambung hidup.

Tarif menjahitnya pun menurutku tidak mahal. Sangat murah bahkan. Dua celanaku yang rusak sehingga mesti diodhel-odhel terlebih dahulu sebelum kemudian dijahit kembali itu hanya dikenakan ongkos jasa Rp. 10.000,-. Artinya menurut itungan mudahnya, satu celanaku yang rusak hanya dikenai biaya perbaikan Rp. 5.000,- saja. Bahkan pekerjaan seorang tukang parkir atau penunggu WC Umum yang tidak membutuhkan kemampuan skill seperti penjahit pun terkadang bisa mendapatkan ongkos yang lebih dari itu. Yaaaa… itulah dunia. Indonesia khususnya. 🙂 Dikarenakan murahnya ongkos, baiknya jahitan, serta karena hanya itu yang sementara kuketahui itulah mbokdhe penjahit ini menjadi langgananku setiap pakaianku rusak.

Meskipun mbokdhe penjahit ini merupakan langganan reparasi celanaku yang rusak, aku belum terlalu mengenalnya secara personal. Aku belum tahu namanya, keluarganya, asalnya, profil hidupnya, dan cerita-cerita eksistensinya selama di Solo yang pasti menarik jika kuwawancarai. Bukan apa-apa, aku hanya khawatir ia tidak bisa konsentrasi saat menjahit atau bisa tertusuk jarum mesin jahit jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Tak banyak orang yang memiliki semangat bekerja seperti mbokdhe ini. Semangat bekerja dengan nothing to lose dan kejujuran. Bukan semangat meminta-minta dan berharap iba. Aku belajar hari ini dari mbokdhe sang penjahit. 

Ahmed Fikreatif

 

 “Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: