“Kerja Ikut Tionghoa Lebih Dihargai Dari Ikut Pribumi”


Kerja Ikut Tionghoa Lebih Dihargai Dari Ikut Pribumi”

Suatu hari, aku mengobrol beberapa kalimat dengan seorang penjahit langgananku di Solo. Dia sebenarnya yang memulai pembicaraan. Ia bicara tentang baiknya penghargaan rata-rata kaum Tionghoa kepada para pembantu dibandingkan penghargaan yang diberikan oleh orang Pribumi. Berikut kurang lebih petikan obrolan kami.

Penjahit : Mas, tahu nggak gadis yang barusan tadi itu? (Yang dimaksud adalah seorang gadis yang yang beberapa saat sebelumnya datang menjahitkan pakaiannya yang robek.)

Aku : Iya. Kenapa?

Penjahit : Dulunya dia itu dekil mas. Penampilannya tidak secantik sekarang. Pokoknya beda banget lah.

Aku : Lho, memangnya dia siapa dulunya dan sekarang jadi apa?

Penjahit : Dulu atau sekarangnya sih tidak beda mas. Profesinya dulu atau sekarang masih tetap pembantu. Tapi perubahan penampilannya dibanding saat pertama kali ke sini jauh mas.

Aku : Bagus khan.. berarti ada peningkatan. Ngomong-ngomong kok bisa berubah bagaimana ceritanya?

Penjahit : Itu karena dia ikut orang Cina (baca: Tionghoa). Orang Cina itu khan kalau kitanya jujur dan nurut serta tidak banyak tingkah atau macem-macem, gajinya gedhe mas. Perlakuannya pun juga relatif baik. Belum lagi bonus-bonus yang diberikan setiap tahun. Beda dengan kalau kita ikut juragan orang Jawa (maksudnya Pribumi_pen). Kalau ikut pribumi, sudah gaji kecil, disuruh kerjanya dari pagi sampai pagi. Penghargaannya kecil. Baik pun masih sering dipaido (dipaido mungkin artinya mirip dengan tidak dipercaya kalau dalam bahasa Indonesi_pen).

Aku : Oowwh. Segitunya ya?

Penjahit : Iya mas. Saya ini sudah pernah membandingin sendiri. Ikut pribumi dan ikut Cina. Meskipun hanya sementara karena cuman buruh nyuci mas.

Aku : Owh begitu ya….

Obrolanku dengan penjahit langgananku itu barangkali juga bisa saja merupakan gambaran secara umum bahwa selama ini bangsa kita (pribumi) belum bisa memberikan penghargaan kepada orang-orang di sekitar kita. Pelajaran ‘Menghargai & Memulyakan Sesama’ barangkali hanya ada di pelajaran PMP yang tak terbukti berhasil. Lebih konkritnya, berapa banyak diantara masyarakat kita yang lebih suka menjadi seorang TKI ke luar negeri daripada bekerja di dalam negeri sendiri.

Sebuah otokritik untuk diri kita sendiri. Sudahkah kita menghargai orang lain lebih dari apa yang mereka berikan untuk kita? Salam.

Ahmed Fikreatif

 “Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

3 Tanggapan

  1. Terbukti, masing2 ras punya kekurangan dan kelebihan masing2. 🙂

  2. seharusnya kaum yg mengaku pribumi lebih tahu cara menghargai karyawannya 😦

  3. yah kalo menurut gw bukan masalah orang jawa atau orang cina nya , tapi tergantung orang nya juga ,mau orang jawa ,mau orang cina ,mau bule juga kalo dasar nya baek sama orang ya baek aja ,kalo dasar nya jahat ya jahat aja ,
    itu sih pikiran cetek si tukang jahit nya aja menurut gw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: