Kopet


Kopet

Sudah lama aku berkeinginan jalan-jalan di kawasan bantaran sungai Bengawan Solo di ujung timur kota Solo. Setelah lama sekali tidak blusukan di bantaran Bengawan Solo, terakhir usia SD kelas 6, pada akhirnya aku menuntaskan klangenan lamaku itu meski aku belum merasa puas. Dikarenakan ada keperluan dengan salah seorang kawanku yang tinggal di kawasan Semanggi, Pasarkliwon, Solo, aku bisa sejenak jalan-jalan menyusuri bantaran Bengawan Solo, bulan lalu. Secara kebetulan, ternyata rumah kawanku berada tak lebih dari 100 meter dari Bengawan Solo. Pas sekali tentu saja.

Tak banyak keadaan yang berubah di kawasan bantaran Bengawan Solo antara saat aku masih SD dengan bulan lalu. Masih banyak penduduk miskin di sepanjang bantaran sungai. Masih nampak ada remaja-remaja yang menenggak minuman keras tradisional yang dikenal dengan nama Ciu berpesta semalaman hingga paginya masih terkapar lemas di jalan setapak. Masih banyak rumah-rumah penduduk yang belum (atau memang enggan) memiliki WC (water closet) sehingga tak sedikit diantara warga di sepanjang bantaran yang buang hajat di tepi Bengawan Solo dan di tempat lain.

Buang Hajat di tepi kali Bengawan Solo

Buang Hajat di tepi kali Bengawan Solo

Gambar di atas merupakan salah satu bukti gambaran yang kutulis di atas. Seorang warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai Bengawan Solo tengah menikmati prosesi buang hajat di tepi kali. Berjongkok di atas batu kali dengan diiringi desiran angin yang semilir lembut seakan menambah aura ‘semedi’. Dengan penuh konsentrasi, melamun sepertinya menjadi bagian yang asyik sambil menunggu ‘tugas’ selesai. Kira-kira begitulah imajinasi yang kulukiskan saat membidikkan kamera Casio Exilim-ku ke arah sang pria dalam gambar dari atas jembatan kereta api jurusan Solo-Wonogiri yang melintang di atas Bengawan Solo.

Setelah buang air selesai, pria itu langsung berdiri dan menaikkan celana. Merasa lega, ia pun segera beranjak dari lokasi ‘pengeboman’. Barangkali sudah ada tetangganya yang antri mau menempati lokasi yang sama. Ia tak merasa perlu cebok sebelum beranjak. Ia biarkan saja ‘alami’ begitu saja. Entah gimana rasanya, tak pernah aku mencoba-coba. Kebiasaan buang air sebagian masyarakat di bantaran Bengawan Solo tanpa cebok yang merasa ‘nyaman’ inilah yang biasa disebut dalam masyarakat kami dengan istilah ‘kopet’.

Buang Hajat di tepi kali Bengawan Solo-Zoom In

Buang Hajat di tepi kali Bengawan Solo-Zoom In

Dalam ‘kamus’ Jawa yang tidak dibakukan, kopet kuwi tegese wong kang bubar buang hajat njur ora reresik. Mesthi wong mau mlakune mekeh-mekeh kaya wong bar disunati tur ora isa kebat.Sebagai manusia yang mengenal peradaban, sudah seharusnya kita jangan sampai menjadi individu-individu kopet seperti itu. Karena perilaku kopet selayaknya hanya pantas melekat pada karakter binatang. Deal ? 😀

Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil…” (HR. Ahmad : 2/236, Shahihul Jami’ : 1213)

Ahmed Fikreatif

 “Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. Permisi, mau share info yaa:
    Mau hadiah Ipad 2 16GB , Galaxy tab 2 , Camera Canon DSLR EOS 1000D , Samsung galaxy mini , Domain dan hosting?
    ilahkan ikutan Lomba Nulis Blog bertema Mudik Lebaran di:
    http://temanhattarajasa.com/
    Paling lambat 25 September 2011
    Be inspiration for others!! Goodluck!!

  2. Dulu pernah enak lo buang hajat di sungai kalo kopet tidak pernah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: