Belajar Dari Tukang Parkir


Belajar Dari Tukang Parkir

Warna kulitnya hitam legam karena hampir setiap hari tersengat sinar matahari. Perawakannya pendek sekitar 150 cm. Tergolong pendek untuk ukuran seorang pria. Pekerjaannya mengatur mobil-mobil yang parkir di depan kantor tempat ku bekerja. Beberapa mobil dan motor rekan-rekan karyawan juga rutin dicucikannya hampir setiap hari. Setelah bergaul dengannya beberapa bulan, aku baru mengetahui namanya Tabrani.

Tabrani, sebuah nama yang baik yang diambil dari salah seorang periwayat hadis dan ahli hadis terkenal dalam dunia Islam. Lain Tabrani sang ahli hadis lain pula dengan Tabrani yang baru kukenal ini. Tabrani yang satu ini bukan seorang ahli hadis atau ulama. Ia seorang tukang parkir yang ada di kantor.

Setiap hari, puluhan mobil keluar masuk ‘daerah kekuasaannya’. Rekan-rekan karyawan mempercayakan kendaraan-kendaraannya kepada Tabrani. Tabrani tidak mempedulikan mobil atau motor yang bagus atau yang jelek. Setiap mobil dan motor yang dititipkan dan dipercayakan kepadanya senantiasa dijaganya. Ketika hujan turun, dia tutupi mobil dan motor dengan plastik agar motor dan mobil-mobilnya tidak langsung terbasahi oleh air hujan secara langsung. Saat langit sedang bercuaca cerah hingga sinar matahari bersinar begitu terik, ia tutupi motor dan mobil yang dijaganya dengan kardus-kardus atau karton-karton bekas.

Setiap hari, ia atur mobil-mobil para karyawan kantor dengan rapi. Puluhan mobil ia setiri setiap hari untuk ditata rapi. Mobilnya banyak, mulai dari mobil sedan Mercedez-Benz milik assisten manajer manajemen resiko, mobil dinas Toyota Fortuner para direksi, mobil Alphard salah seorang manajer, dan mobil-mobil merek lainnya sudah biasa ia naiki dan rasakan sensasinya. Meskipun ia punya banyak mobil seperti itu, dia tidak pernah sombong.

Ia tidak merasa kehilangan mobilnya ketika si pemilik mobil mengambil mobilnya. Ia juga tak merasa harus meratap ketika motor Honda NSR yang dijaga dan dibersihkannya setiap sore hari diambil oleh sang pemilik motor. Disamping ia tidak sombong meskipun punya banyak motor dan mobil, ia pun tak merasa perlu kehilangan atas motor atau mobilnya saat diambil oleh sang pemilik.

Tabrani tidak perlu merasa kehilangan atau tidak perlu merasa sombong karena ia merasa bahwa meskipun ia ‘punya’ banyak mobil dan bisa menaiki aneka mobil mewah setiap hari, hakikatnya itu semua bukan miliknya sendiri. Mobil-mobil dan motor itu hakikatnya bukan miliknya. Ia hanya bertanggungjawab untuk menjaga, merawat, dan kadang mencuci mobil-mobil dan motor itu. Dengan penuh rasa tanggungjawab yang besar dan pelayanan yang baik, ia berharap sang pemilik kendaraan-kendaraan yang dijaganya itu akan memberikan imbalan yang sebaik-baiknya. Begitulah setiap hari pekerjaan seorang tukang parkir bernama Tabrani.

Seandainya hidup kita di dunia kita jalani seperti halnya perumpamaan Tabrani dengan mobil-mobil dan motor-motor yang dijaganya itu, kurasa hidup di dunia ini akan terasa lebih indah dan barakah. Kukatakan hidup akan menjadi lebih indah dan lebih barakah karena kita sebagai manusia tidak harus perlu merasa sombong akan jabatan yang kita sandang, akan harta yang kita punya, atau atas kecerdasan yang kita miliki. Jika kita mau menjadi sosok Tukang Parkir itu, maka kita akan senantiasa menyadari bahwa apapun yang kita miliki di dunia ini hanyalah amanat dari Sang Maha Pemilik. Cepat atau lambat, apapun yang kita punyai itu akan kembali kepada Pemiliknya karena memang hakikatnya bukan kita pemilik semua jabatan, harta, atau kecerdasan itu. Kita sebagai manusia hanya diberikan amanah untuk menjaga, merawat, dan bertanggungjawab atas jabatan yang diamanahkan kepada kita, atau atas harta yang dilimpahkan kepada kita, atau atas karunia kecerdasan yang dilimpahkan untuk kita. Betul tidak?

Tak perlulah kita merasa senang sedemikian hebatnya saat Allah SWT memberikan kenikmatan senang pada kita. Begitupula sebailnya, tak perlulah juga kita merasa terlalu sedih atas sebuah musibah yang menimpa kita. Itulah kehidupan. PASTI ada kalanya senang, pasti ada kalanya pula kita sedih. Hanya perbedaan kadar senang dan sedih saja yang membedakan diantara manusia. Selama kita ikhlas dan ridha menjalani setiap senang dan sedihnya karena Allah SWT, insya Allah akan berujung pada kebaikan yang kekal. Amin.

Kali ini, pada hari ini aku memperoleh pelajaran dari seorang tukang parkir. 

Ahmed Fikreatif

 

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

 

Iklan

5 Tanggapan

  1. Sudah seharusnya kita bersyukur dan mengambil hikmahnya dari setiap kejadian

  2. yupsss… betul bgt… smua hanya titipan yg bisa kapan aja diambil oleh pemilikNYA..

  3. lama tak meninggalkan jejak….

    wah,,,jempol,gan…!!betuuul…!!!hati kan selalu lapang dan senang kalo spt “Tukang Parkir”….

  4. yap, kita bisa belajar arti kehidupan dari mana saja~ 😉

  5. terima apa adnya dgan khidupan kita yang skarang,
    tetap semangat dan terus lah tersenyum 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: