Mau Ikut Lebaran Kapan?


Mau Ikut Lebaran Kapan?

Tahun ini, 1432 H, kemungkinan besar akan terjadi ketidaksatuan hari Idul Fitri. Seperti yang pernah terjadi lalu-lalu, pada tahun ini akan ada kemungkinan  2 penetapan hari Idul Fitri. Secara umum, perbedaan itu terbagi menjadi dua, yaitu versi Muhammadiyah yang menggunakan metode Hisab Haqiqi dan umat Islam lainnya yang menggunakan metode ru’yatul hilal. Untuk tahun ini, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari menetapkan jatuhnya hari Idul Fitri 1432 H pada hari Selasa, 30 Agustus 2011; sedangkan pemerintah (Kementerian Agama) kemungkinan besar akan ber-Idul Fitri pada tanggal 31 Agustus 2011. Lantas pertanyaannya, mau ikut yang mana?

Sebelum memutuskan untuk memilih ikut lebaran yang mana, perlu kiranya Anda memahami terlebih dahulu beberapa dasar ilmu penetapan Idul Fitri. Sependek yang kami ketahui, ada dua metode ilmu penetapan Idul Fitri yang mu’tabar dan memiliki dasar ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara ringkasnya, dua metode itu adalah metode penetapan berdasarkan HISAB (Perhitungan) dan metode penetapan berdasarkan RU’YATUL HILAL (Melihat keberadaan hilal dengan mata telanjang). Dari dua metode itu, nantinya akan berkembang metode turunan lainnya.

  • Metode HISAB ala Muhammadiyah

Metode hisab yang ditempuh oleh Muhammadiyah adalah metode Hisab Haqiqi Wujudul Hilal. Hisab Haqiqi Wujudul Hilal dapat diartikan dengan sebuah metode penentuan awal bulan kamariah yang dilakukan dengan menghitung gerak faktual (sesungguhnya) Bulan di langit sehingga bermula dan berakhirnya bulan kamariah mengacu pada kedudukan atau perjalanan Bulan benda  langit tersebut.

Menurut kriteria ini, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 bulan kamariah berjalan saat matahari terbenam terpenuhi tiga syarat berikut secara kumulatif, yaitu (1) telah terjadi ijtimak, (2) ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan (3) pada saat matahari terbenam Bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk.  Kriteria ini juga digunakan oleh kalender Ummul Qura sekarang, hanya marjaknya adalah kota Mekah.

Singkatnya, pada tahun ini (1432 H), Muhammadiyah menetapkan 1 Syawwal 1432 H terjadi pada hari Senin 29 Agustus 2011 M pukul 10:05:16 WIB. Tinggi hilal pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta (f= -07°48¢dan l= 110°21¢BT) adalah ­+01°49¢57²(hilal sudah wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam hilal sudah berada di atas ufuk. Berdasarkan hasil hisab tersebut maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkanTanggal 1 Syawwal 1432 H jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 M.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab salah satunya dikarenakan alasan berikut:

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah tentang Hisab demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [HR Bukhari dan Muslim]

Janganlah kamu berpuasa sebelum melihat hilal dan janganlah kamu beridulfitri sebelum melihat hilal; jika Bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka est imasikanlah [HR Bukhari dan Muslim].

Tafsir terhadap kata ‘estimasikanlah’ diterjemahkan dengan hisab dengan alasan lebih tepat dan akurat. Lebih dari itu, Muhammadiyah beralasan bahwa bukanlah rukyat yang menjadi sebab syar’i, melainkan masuknya bulan baru. Wallahu a’lam. Untuk lebih jelasnya silakan dibaca di Buku Pedoman Hisab Muhammadiyah (download di sini).

  • Metode Ru’yatul Hilal

Pada dasarnya, dasar ilmu penentuan dengan metode Ru’yatul Hilal sama dengan metode Hisab. Hadis-hadisnya pun secara umum sama. Antara lain:

Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari)

”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlah kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari )

Dengan memperhatikan secara teliti nash-nash di atas dan yang serupa dengannya, maka didapati adanya ketentuan syar’i dalam penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan, yaitu berupa: jika hilal berhasil dilihat maka ditetapkan masuk bulan Ramadhan, jika hilal tidak berhasil dilihat (karena tertutup mendung atau lainnya) maka ditetapkan bulan sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari. Ketentuan syar’i ini menentukan wajib tidaknya berpuasa, artinya jika hilal Ramadhan terlihat maka setiap muslim wajib berpuasa dan haram tidak berpuasa, namun jika hilal Ramadhan tertutup mendung dan tidak terlihat maka haram mengawali puasa Ramadhan karena belum terhitung masuk bulan Ramadhan, demikian pula berlaku di akhir Ramadhan menjelang Syawwal.

Penganut metode ru’yatul hilal, menitikberatkan juga pada keterangan lafadz,  apabila ia tertutup dari pandangan kalian..”. Di sini, Nampak bahwa Rasulullah tidak menafikan jika sangat mungkin pada hari itu sebenarnya sudah masuk waktu Ramadhan (atau Syawal). Tetapi Rasulullah justru menyempurnakan jumlah hari pada bulan sebelumnya. Di sini, sangat jelas sekali metode rasulullah dalam menentukan kapan berpuasa dan kapan berlebaran.

Dalil bahwa di zaman Rasulullah hidup belum ditemukan metode hisab, tidak dapat diterima  karena menurut para penganut metode ru’yatul hilal, sebelum Islam datang, sudah ada peradaban manusia yang mengembangkan metode hisab. Secara logika mudah, darimana Umar punya usulan untuk menentukan penetapan Tahun Hijriyah sebagai standar tahun Islam jika beliau tidak paham tentang ilmu hisab (ilmu falak).

Selanjutnya sebagai bentuk turunan dari metode ru’yatul hilal ini, ada lagi dua ragam perbedaan penetapan di kalangan umat Islam. Pertama, metode ru’yatul hilal yang dipadukan dengan disiplin ilmu-ilmu astronomi dengan segala cabangnya. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah RI melalui Kementerian Agama, mereka menggunakan standar perhitungan tertentu atas ru’yatul hilal sebelum diterimanya kesaksian seseorang tersebut. Mengenai standar perhitungan tersebut, terdapat banyak standar yang menjadi acuan berapa derajat hilal bisa dilihat oleh mata. Ada yang menyebut 2 derajat, ada yang 7 derajat, dan lain-lainnya. Kalau tidak salah, Kementerian Agama menganut imkanur ru’yat (standar minimal bulan memungkinkan dilihat) dengan standar minimal ketinggian 2 derajat. Dengan menggunakan standar ini, maka sering terjadi penolakan Kesaksian seseorang yang mengaku melihat hilal dan sudah disumpah hanya karena yang bersangkutan dianggap mustahil melihat hilal yang berada di bawah 2 derajat.

Sementara itu bagi sekelompok kaum muslimin lainnya berpendapat, bahwa siapapun orangnya jika yang bersangkutan memenuhi syarat sebagai saksi dan berani bersumpah saat bersaksi, maka seluruh umat Islam harus mengikuti kesaksian di bawah sumpah yang dinyatakan oleh orang tersebut. Maka dengan demikian, dalam realita prakteknya, meskipun sama-sama menggunakan metode ru’yatul hilal, ternyata masih ada kemungkinan perbedaan lagi pada level turunan praktisnya.

***

Dalam kasus untuk tahun ini (1432 H), bisa jadi orang yang berlebaran tanggal 30 Agustus 2011 tidak menggunakan hisab namun menggunakan metode ru’yatul hilal karena adanya kesaksian seseorang yang berhasil melihat hilal. Inilah dinamika keilmuan yang sebenarnya menarik untuk dipelajari oleh umat Islam guna lebih mengenal ketinggian keilmiyahan ajaran ISLAM. Bukan sebaliknya, perbedaan yang ada justru menjadi riak bagi umat untuk berpecah dan saling mencerca. Wallahu a’lam.

Selamat memilih! Selamat Berlebaran. Taqabbalallahu minna wa minkum. 

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

7 Tanggapan

  1. saya mah ikut pemerintah.
    minal aidzin walfaidzin 😀

  2. ikut selasa !

  3. Saya hari rabu, Mas. 😀

    Mas Ahmed, maapin saya lahir batin ya… 😐

  4. Taqobbalallahu minna wa minkum..
    Mohon maaf lahir dan batin yaa 🙂

  5. Mohon maaf lahir dan bathin yaaa…
    lebaran tahun ini agak aneh karena tgl merah pada tgl 30 dan 31 tapi kenapa malah tgl 31 penetapannya… membuat bingung semua orang… btw pasang link aku yaaa… aku udah pasang link kamu 😉

  6. Hidup di negara Indonesia ya ikutan yang diumumkan oleh pemerintah saja. semoga saja tidak terjadi lagi seperti lebaran kemarin dimanakah kerukunan umat beragama??

  7. saya mah ikut pemerintah saja, kapan pun lebarannya.
    Btw met lebaran ya mas, mohon maaf lahir batin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: