Apakah Setelah Idul Fitri, Kita Benar-Benar Kembali Suci?


Apakah Setelah Idul Fitri, Kita Benar-Benar Kembali Suci?

Seringkali kita mendengar pada Khotbah-khotbah Iedul Fitri mengatakan bahwa kedatangan hari Idul Fitri berarti seluruh umat Islam sudah kembali kepada suci dan bersih dari dosa dan noda. Mereka mengatakan demikian karena mengartikan IDUL FITRI sebagai hari kembali kepada fitroh kesucian layaknya bayi yang terlahir tanpa dosa. Benarkah IDUL FITRI sedemikian artinya?

Menurut tinjauan bahasa, lafad FITHRU/ IFTHAAR artinya menurut bahasa = BERBUKA . Jadi IDUL FITHRI artinya HARI RAYA BERBUKA PUASA. Yakni kita kembali berbuka setelah sebulan kita berpuasa. Sedangkan FITHRAH tulisannya sebagai berikut (FA-THAA-RA-) ditambah (TA MARBUTHOH) bukan (FA-THAA-RA). Hurufnya saja sudah berbeda, apalagi artinya. Nah lho?!

Dari sisi syariat, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis, disebutkan redaksional mengenai Idul Fitri antara lain sebagai berikut:

انَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. رواه البخاري

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat ‘Idul Fithri, sehingga Beliau makan beberapa kurma”. [HR Al Bukhari].

Pada redaksi hadis tersebut di atas (dan hadis-hadis lainnya seputar Idul Fitri) penulisan redaksionalnya adalah FITRI (Fa-Tha-Ra) tanpa huruf ta’ marbutah. Sehingga dengan demikian, Idul Fitri yang dimaksud di dalam Islam adalah kembali FITRI, bukan kembali Fitrah (suci). Fitri artinya BERBUKA (dari puasa). Dengan demikian IDUL FITRI artinya lebih tepat diartikan HARI RAYA KEMBALINYA BERBUKA bukan HARI RAYA KEMBALI SUCI.

Pemaknaan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari kembali berbuka sangat berkesuaian dengan adanya syariat Zakat (Shodaqoh) Fitri. Sebagaimana kita ketahui, Zakat Fitri (atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Zakat Fitrah) adalah zakat berupa makanan pokok yang diberikan maksimal sebelum didirkannya Sholat Idul Fitri. Dari sini, terjadilah hubungan antara Zakat Fitri dengan Sholat Idul Fitri dan sunah makan sebelum sholat Idul Fitri. Pelajarannya, kewajiban zakat fitri berupa bahan makanan pokok kepada fakir miskin adalah agar seluruh umat Islam (tanpa terkecuali) bisa merayakan Idul Fitri sebagai HARI RAYA BERBUKA. Menjadi tidak berhubungan jika IDUL FITRI diartikan dengan ‘Kembali Suci’ 😀 Wallahu a’lam.

Dari sini pula, menjadi penjelas bahwa tahniyah ucapan Minal Aidin Wal Faizin (Semoga kita tergolong orang-orang yang kembali (setahu saya maknanya diartikan kembali suci_pen) dan orang-orang yang memperoleh kemenangan) tidak tepat disamping juga karena tidak berdasar dari kalimat Nabi SAW. Hal ini berbeda dengan tahniyah ucapan Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima puasa dan ibadah-ibadah lainnya diantara kita) yang diucapkan Nabi SAW.

Jadi, masihkah kita menganggap diri kita KEMBALI SUCI saat IDUL FITRI datang?

NB: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan berhadap ganjaran dari Allah SWT maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih) à Semoga Allah menerima puasa kita sehingga dosa-dosa kita diampuni-Nya (pen).

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Amin…. semoga Allah menerima puasa kita semua dan mengampuni dosa2 kita semua 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: