Main Mercon


Mercon

Mercon

Main Mercon

Main mercon atau petasan. Jika datang bulan Ramadhan, permainan ini tidak mungkin kulewatkan begitu saja. Tak hanya aku, kawan-kawan sebayaku dulu saat aku masih usia-usia SD, juga demikian. Sebuah permainan yang secara umum hanya populer pada saat bulan Ramadhan saja. Setelah bulan Ramadhan, permainan ini seperti langsung kehilangan ruh-nya.

Peringatan orangtua atau larangan guru sekolah serta adanya informasi orang-orang yang terluka saat main mercon di koran-koran tak menyurutkan nyali kami bermain mercon. Bahkan terkadang berita-berita di koran tentang mercon yang memakan korban justru menjadi tantangan kami untuk menaklukkannya. Bukan lelaki jika tak berani bermain mercon. Kira-kira demikian ledekan diantara sesama anak laki-laki jika ada yang tidak berani bermain mercon. Terprovokasi oleh kata-kata itu, aku pun terpancing untuk menjadi seorang ‘Lelaki Sejati yang Pemberani’ untuk menaklukkan mercon.

Ada berbagai macam jenis mercon yang kukenal selama masa kecilku di Solo. Yang paling mudah memainkan dan enteng resikonya tentu saja mercon jenis lombok/cabe. Selanjutnya, aku mengenal mercon Putih (mercon putihan) yang ukurannya sebesar setengah ibu jari orang dewasa. Dan yang paling fenomenal dan terkenal di masa itu sebagai mercon yang agak berat resikonya adalah mercon LEO. Selain jenis-jenis mercon itu, aku juga mengenal mercon busi dan mercon bumbung. Kedua jenis mercon terakhir ini pembuatannya agak rumit karena tidak diperjualbelikan di warung-warung.

Aku agak lupa-lupa ingat kapan pertama kali berani bermain mercon. Seingatku, aku bermain mercon jenis cabe pertama kalinya saat duduk di kelas 2 SD. Mercon jenis cabe ini ukurannya kecil tidak lebih besar dari ukuran sedotan. Bentuknya dan ukurannya seperti lombok cabe rawit. Karena itulah mercon ini disebut mercon lombok. Biasanya warnanya merah. Meskipun ada juga yang berwarna putih. Dulu harganya hanya Rp. 50,- atau Rp 100,- saja per bungkus. Satu bungkus ada lima buah mercon. Dengan harga yang sangat terjangkau, membeli mercon lombok meski masih umur kelas 2 SD cukup mengandalkan dari sisa uang saku sekolah.

Menginjak kisaran kelas 4 – 5 SD, aku mulai berani coba-coba bermain mercon jenis putihan. Mercon putihan ini ukurannya biasanya setengah ibu jari orang dewasa. Disebut putihan karena mercon ini berwarna putih kertas. Gulungan pembungkus obat mercon-nya pun hanya kertas putih bekas fotokopi atau koran. Daya ledaknya juga tentu saja lebih besar dari mercon lombok. Karena daya ledaknya lebih besar, harganya sedikit lebih mahal dari mercon lombok. Kalau tidak salah ketika harga mercon lombok Rp. 100,- per bungkus, maka harga mercon putihan ini Rp 200,- atau Rp. 250,- per biji.

Pada saat itu, ada sebuah klaim tentang mercon yang paling keras dan dahsyat daya ledaknya. Merconnya bermerk LEO. Pembuatnya katanya orang-orang Tionghoa. Ukurannya sedikit lebih besar dari mercon putihan. Namun harganya cukup mahal. Hanya saja aku lupa berapa pastinya karena aku jarang bermain mercon LEO ini. Anak-anak seusiaku (usia SD) pada saat itu tidak ada yang berani menyalakan mercon LEO dengan dipegang. Biasanya mercon digantungkan di pohon atau ditaruh di batu, lalu kami menyalakannya dalam jarak tertentu mengunakan bantuan media bambu kecil yang ujungnya ada nyala obat nyamuk batang. Menurut cerita dari mulut ke mulut diantara anak-anak sebaya saat itu, kebanyakan orang yang menjadi korban ledakan mercon disebabkan oleh mercon jenis LEO ini. Ada yang hanya kena percikan api, ada yang sampai abuh mlenthung, kena luka bakar ringan, dan yang paling parah jarinya prothol (mungkin bahasa Indonesianya jarinya patah_pen).

Selain jenis-jenis mercon bahan karbit di atas, ada juga mainan mercon hasil kreativitas anak pedesaan, yaitu mercon bumbung (bambu) dan mercon busi (busi bekas motor). Untuk mercon bumbung bahan dasarnya adalah bambu berlubang besar yang di Jawa biasa disebut bambu bumbung yang diisi dengan minyak tanah. Sedangkan mercon busi tentu saja berbahan dasar busi bekas yang diisi bubuk pada pentolan korek api. Kapan-kapan kalau ada waktu akan kubahas lebih dalam tentang mercon bumbung dan mercon busi ini karena jenis kedua mercon ini sangat berbeda konsepnya dengan mercon berbahan karbit dibungkus gulungan kertas.

Kira-kira demikianlah tradisi permainan sepanjang bulan Ramadhan di kala masih usia anak-anak dulu. Hampir sepanjang hari di bulan Ramadhan selalu dihibur dengan bunyi-bunyi ledakan mercon. Namun waktu yang paling favorit untuk bermain mercon adalah ba’da sholat subuh hingga menjelang waktu dhuha dan sore hari menjelang waktu berbuka. Prinsipnya tiada hari tanpa bermain mercon setiap hari di sepanjang bulan Ramadhan. 😀

Apa tradisi main mercon masih bertahan sampai saat ini di kampung-kampung dan kota-kotamu kawan?

NB: Pada posting ini saya memang tidak membahas jenis mercon-mercon seperti mercon Roket, ses dor, atau jenis mercon-mercon lainnya yang mekanisme ledaknya tidak secara langsung meledak saat dinyalakan karena kalau dirinci satu per satu masih banyak jenis mainan mercon lainnya. 😀

 

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. Iya jadi teringat masa lalu, pernah bermain mercon. Mungkin yang jadi korban mercon hanya naas belaka ya nggak…

  2. masih ada sih yang main, apalagi anak kecil, biasanya habis sahur mereka main petasan di lapangan~ :roll:masih ada sih yang main, apalagi anak kecil, biasanya habis sahur mereka main petasan di lapangan~ 🙄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: