Pak Tani Mbeleh Kethek (Pak Tani menyembelih kera)


Petani (Sumber: Top A Photographer Club)

Petani (Sumber: Top A Photographer Club)

Pak Tani Mbeleh Kethek (Pak Tani menyembelih kera)

Permainan ini sebenarnya bisa dilakukan oleh minimal dua orang saja. Namun alangkah lebih seru jika permainan ini dilakukan oleh setidaknya 3 orang. Permainan dimulai dengan menunjukkan beberapa jari tangan secara bersama-sama oleh peserta permainan. Di saat masih usia SD dulu, biasanya diawali dengan kata-kata, “Sombyong…”.

Selanjutnya salah satu peserta menembangkan lagu dolanan dengan syair: pak Tani mbeleh kethek, ladinge gupak telek, sir gedebuk ceklek (kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Pak Tani menyembelih kera, pisaunya terkena kotoran, sir.. gubrak patah deh). Dalam setiap pengucapan satu suku kata nyanyian dolanan, salah satu yang ditunjuk sebagai pemimpin atau bandarnya menunjuk setiap jari yang ditunjukkan para peserta permainan.

Ketika lagu dolanan itu selesai dinyanyikan tepat pada akhir suku kata “ce-klek”, maka jari salah satu peserta permainan itu disembunyikan. Selanjutnya, diulang lagi lagu dolanan it uterus menerus sampai menyisakan satu jari yang masih muncul.

Aku agak lupa siapa diantara para peserta yang dinyatakan sebagai pemenangnya. Kalau tidak salah, seingatku, yang menjadi pemenang adalah yang paling terakhir mampu menunjukkan jarinya. Sebagai pemenang maka dia berhak menjadi Bandar / Pemimpin permainan yang menyanyikan lagu dolanan itu di putaran permainan berikutnya. Selebihnya, si pemenang bisa menghukum peserta lain yang kalah.

Hukuman bagi yang kalah dalam permainan bisa macam-macam tergantung kesepakatan di awal permainan atau diserahkan kepada si pemenang. Biasanya ada beberapa hukuman, antara lain: (1) dijenggung punggung tangannya. Kata dijenggung susah dicari padanan katanya. Mudahnya, arti kata dijenggung itu adalah memukul dengan posisi jari tangan menggenggam seperti gaya memukul menggunakan pukul besi. Pukulannya pun dilakukan dengan tidak terlalu keras dan tidak terlalu ringan. Tidak menimbulkan rasa sakit. Penjenggungan ini dilakukan dengan sambil menyanyikan lagu dolanan juga. Lagunya,Kontongmu kontong kiji, kiji-kiji kiro, kiro-kiro kilu, kilu-kilu kipat dst. Tepat saat penyebutan kata kiji, maka orang yang dijenggung dan menjenggung harus mengisyaratkan kodi suwit atau pingsut. Jika kode pingsut atau suwit antara keduanya sama, maka penjenggungan hanya dilakukan sebanyak satu kali karena kata kiji maksudnya siji atau satu. Jika tidak sama maka dilanjutkan terus sampai keduanya sama. Makna kiro = loro (dua), kilu =telu (tiga), kipat = papat (empat), kimo = limo (lima), kinem = enem (enam) dst.

Hukuman lain yang ke-(2) adalah biasa juga dilakukan dengan meminta peserta yang kalah disuruh memegang atau menyentuh benda tertentu yang dimintakan untuk disentuh oleh si pemenang. Hukuman ke-(3) biasa juga dilakukan dengan mencoreng muka peserta yang kalah dengan penghapus kapur putih, pati kanji putih, kapur, spidol, arang, dll. Selebihnya, persoalan hukuman bagi yang kalah bisa dilakukan dengan fleksibel sesuai dengan kesepakatan.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: