[HIDUP MANUSIA] Antara Mengisi Cangkir dengan Kerikil atau Pasir?


Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Kita seringkali melihat pada diri kita betapa kita telah sempurna atau mendekati sempurna. Segala cita-cita yang kita raih seolah-olah semakin menambah kebanggan pada pencapaian kita dan kesempurnaan itu. Bagi seorang pelajar, memperoleh nilai maksimal pada mata pelajaran atau ujian atau memperoleh peringkat 10 besar bahkan terbaik menjadi kebanggan tersendiri tentunya. Bagi seorang mahasiswa, kesempurnaan itu mungkin bisa terlihat dari betapa cepatnya kita lulus kuliah dengan nilai yang memperoleh predikat summa cumlaude.  Dan bahkan kemudian langsung melanjutkan untuk studi S2 bahkan S3.  Sementara bagi seorang karyawan atau pegawai, kesempurnaan itu mungkin dikesankan dengan kedisplinan berangkat pagi dan pulang petang meskipun hanya membawa penghasilan pas-pasan. Atau bagi sementara karyawan lain bisa saja diartikan dengan jabatan yang kita terima serta gaji yang lebih dari cukup untuk kebutuhannya bersama keluarganya.

Demikianlah mungkin sebagian orang ketika telah melakukan sesuatu sebagaimana hal di atas merasa bahwa dirinya telah sempurna. Si A, seorang mahasiswa yang sangat berprestasi dengan peroleh IPKnya yang tak pernah kurang dari 3,5. Aktivitasnya pun tak kurang dengan ikutbeberapa organisasi kegiatan mahasiswa. Asisten dosen merupakan sambilannya di sela-sela prosesnya menyelesaikan skripsi. Ia paun terbilang berasal dari keluarga yang cukup kaya serta memiliki paras yang cukup cantik. Seolah-olah si A atau orang-orang di sekitarnya melihat bahwa ia seperti Cangkir yang penuh dengan pasir.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Anggapan dan dugaan bahwa yang bersangkutan telah mengisi cangkirnya dengan pasir ternyata tidak begitu-begitu amat. Setiap manusia , sesempurna-sempurnanya (kecuali para Nabi) tetaplah tidak mampu mengisi cangkir dengan pasir. Kita tetaplah seorang manusia yang hanya bisa memenuhi sebuah cangkir dengan kerikil saja, bukan pasir.

Pada hakikatnya, sesempurna-sempurnanya kita bekerja di dunia ini pastilah ada lubang-lubang yang membuat celah di dalam cangkir yang terisi kerikil sebagaimana yang kuungkapkan di atas. Cangkir ibarah kehidupan dunia, sementara kerikil adalah kegiatan-kegiatan yang kita lakukan. Bagaimanapun juga, kerikil yang dimasukkan ke dalam cangkir sepenuh apapun, di dalamnya pasti ada celah-celah lubang yang membuat kerikil itu pada hakikatnya tidak memenuhi cangkir 100%.

Si A yang menyangka dirinya sempurna tadi, ternyata memiliki lubang di kehidupan rumahnya. Karena terlampau padatnya aktivitasnya di kampus, maka ia pun tidak bisa banyak memberikan warna pada kegiatan-kegiatan di rumah tempat tinggalnya, apalagi lingkungan sekitarnya. Membantu orang tua dalam kegiatan “remeh-temeh” sehari-hari pun tidak mampu rutin ia laksanakan kendatipun di kampus ia dibilang “mahasiswa sempurna”.

Si A barangkali juga tidak salah dengan aktivitasnya itu. Mungkin itu juga sebuah pilihannya. Sedangkan orang lain mungkin ada yang justru berbalik arah dengan si A. Di rumah ia “berprestasi”, namun di kuliah ia lebih menjadi pribadi yang pasif. Sebetulnya, orang itu pun juga sedang mengisi cangkir kehidupannya dengan kerikil agar mampu penuh. Tentunya kerikilnya juga berbeda dengan kerikil si A.

Begitulah hidup di manusia di dunia. Ketidaksempurnaan itu menjadi sebuah hal lumrah dan manusiawi serta kepastian yang ada. Pada titik tertentu, hidup dengan mengisi cangkir dengan pasir adalah model kehidupan yang mustahil bagi manusia. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, kehidupan sempurna manusia tetaplah seperti mengisi Kerikil di dalam cangkir. Manusia tak mampu sempurna 100%. Itulah kenapa sebagai manusia kita hendaknya tidak berlaku sombong kepada siapa dan apa saja. Baik kepada manusia, binatang, apalagi kepada Allah SWT. Potret manusia yang berambisi penuh mengisi cangkir dengan pasir hingga penuh meluap, justru perlu dikhawatirkan karena pada hakikatnya ia tengah tergelincir pada sebuah ambisi untuk menjadi pribadi yang menyombongkan diri. Wallahu A’lam.

Mohon koreksi dan tanggapan kawan-kawan jika kurang tepat dalam membuat ungkapan. Teriring salam penuh cinta kepada anda. 😀

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

10 Tanggapan

  1. menurutku,kesempurnaan bagi seorrang manusia itu adalah ketika dia mampu bersyukur dan terus bersyukur terhadap segala nikmat,setrta tabah dalam menghadapi ujian yang diberikan tuhan

    • @Pelintas: terimakasih pendapatnya mas,,,
      menambah pencerahan hari ini

  2. Bahkan ketika cangkir itu diisi pasir, tetap saja akan ada celah-celah lubang yang membuat pasir itu pada hakikatnya tidak memenuhi cangkir 100%.

    Lebih baik diisi semen+air… aduk sampai rata, dan biarkan mengering… hehe

    • @Puri: wah Puri pengalaman menjadi tukang batu ya??
      😀

  3. Ungkapan yang bagus, hidup adalah pencapaian demi pencapaian dan usaha yang luar biasa. Namun namun kalau kita menyadari betapa pencapaian yang sebenarnya masih jauh dari harapan kita…

    • @Om Mahesa: iya pakdhe….
      Harapan yang menjadi fatamorgana mungkin…

      jd ya ga tercapai-capai

  4. Benar… apakah ini artinya tidak bisa ada seorang mahasiswa yang mantab di universitas seperti si A, dan sekaligus mantab “prestasi”nya di rumah? Bisa sih, asal bisa membagi waktu. 🙂
    Tapi memang jangan sampai kita menganggap diri ini sempurna. Sudah masuk fase berbahaya kalo seseorang udah berpikiran begitu. 😐

    • @Asop: bukan pak,,,
      maksudnya bhw manusia itu tdk mungkin bisa menjadi sempurna. Sesempurna-sempurnanya apapun. dan sehebat-hebatnya seperti apapun. Oleh karenanya, janganlah kita yg berasal dr tanah dan air hina ini menyombongkan diri..

  5. Iya.. ketidaksempurnaan manusia membuatnya tak mampu memenuhi 100% “cangkirnya”
    sekarang tinggal sepintar-pintarnya kita untuk menyusun kerikil-kerikil itu agar tidak terlalu banyak celah kosong dalam cangkir kita

  6. klu bahasannya celah (antara kerikil dan pasir), pasir juga memiliki celah, bahkan kadang ada kerikilnya, kadang ada kerang2nya juga, menurutku gak tepat jika mengibaratkan pasir sebagai kesempurnaan, nanti ada lagi kekhususan dgn jenis2 pasir, pasir pantai, pasir sungai, pasir gurun, pasir yang besar2, pasir yang kecil2 butirannya, pasir hitam, pasir putih, kan beda2.. jadi tergantung kacamata kita dalam menentukan standar pasir.. maka persepsinya juga nanti berbeda dalam menentukan standar kesempurnaan..
    kenapa gak pake air aja sih? kan ada zam2, mata air terbaik seantero jagad.. pas lagi dengan fungsi cangkir sebagai wadah air, bukan wadah pasir.. imho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: