Sirene Tanda Berbuka Puasa di kota Solo


Sirene Tanda Berbuka Puasa di kota Solo

Dulu sekali, saat aku masih tinggal di kampung Batik Batik Kaoeman saat masih usia kanak-kanak, ada satu hal yang paling kutunggu-tunggu menjelang buka puasa. Yang kutunggu bukanlah azan maghrib dari menara langgar Winongan atau Sememen yang menjulang tinggi. Bukan pula suara azan yang berkumandang keras dari menara Masjid Agung Surakarta. Namun yang kutunggu di saat menjelang waktu berbuka itu adalah bunyi sirene yang meraung-raung sebagai tanda masuk waktu berbuka puasa Romadhon di kota Solo.

Bunyi sirene yang menjadi penanda waktu berbuka puasa itu sudah sejak lama berdiri dan setahuku sampai waktu terakhir kali aku di Solo masih berfungsi dengan baik. Aku terakhir mendengar bunyi sirene itu tahun 2009 pada waktu Sholat Idul Fitri, kalau tidak salah. Namun demikian, sepertinya bunyi sirene sebagai tanda waktu berbuka sudah lama ditinggalkan karena perkembangan waktu dan zaman.

Pada saat aku usia kanak-kanak, kisaran tahun 1990an, bunyi sirene di Solo bahkan juga dikumandangkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) kota Surakarta untuk disiarkan ke seluruh wilayah kota Surakarta dan daerah yang sewaktu dengan kota Solo.

Keberadaan sirene yang pernah berfungsi sebagai penanda waktu berbuka puasa di kota Solo itu sendiri sudah sejak masa penjajahan kolonial Belanda. Pada masa itu, di Solo dipasang lima buah sirene. Kelima alat itu dipasang di Taman Sriwedari, Jongke, Gading, Jagalan, dan kompleks rumah dinas Residen Surakarta, kawasan Banjarsari. Namun yang sampai saat ini masih berfungsi hanya tinggal satu, yaitu di Taman Sriwedari.

Sirine Taman Sriwedari yang hanya terdengar pada bulan puasa serta hari raya Idul Fitri dan Idul Adha itu merupakan peninggalan Sunan Paku Boewono (PB) X yang memerintah Surakarta Hadiningrat antara tahun 1800-1939. Alat itu itu dipasang di atas tower berketinggian sekitar 30 m.

Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, sirine itu digunakan sebagai pengatur jam kerja, jam istirahat dan jam pulang rakyat pribumi yang bekerja atas pengawasan petugas dari pemerintah Belanda. Namun pasca pemerintahan PB X, fungsinya berubah menjadi alat pemanggil para abdi dalem dan rakyat yang akan menyambut Lailatul Qodar. Seiring perjalanan waktu kemudian, setelah proklamasi kemerdekaan RI, fungsi sirine itu pun berubah menjadi sarana penentu waktu berbuka puasa.

Sebelum digunakannya bunyi sirine itu sebagai penanda waktu berbuka, waktu berbuka puasa di kota Solo menggunakan alat yang dikenal dengan istilah populer dul (semacam bunyi mercon atau meriam kecil) yang biasa dilakukan di Alun-alun Kidul dan di Masjid Tegalsari. Sampai sekarang, di kota Solo istilah waktu berbuka puasa masih populer dengan istilah dul. Tetapi karena mahal, maka dul itu kemudian diganti dengan bunyi sirine.

Perkembangan berikutnya, mulai tahun 1965 alat yang sebelumnya dikuasai oleh Komando Daerah Militer (Kodim) Surakarta, diserahkan pengelolaannya kepada PLN. Salah satu alasan penyerahan pengelolaannya kepada PLN lebih karena yang menguasai dan mempunyai listrik adalah PLN.

Pada tahun 2002, PLN kemudian menyerahkan pengelolaan sirene tersebut kepada Pemerintah Kota Surakarta.

Terakhir aku melihat, sirene di Sriwedari memang masih berfungsi, namun kondisinya memprihatinkan. Besi tower keropos. Bahkan ketika step down-nya diganti PLN karena terbakar, sirene di atas tower menjadi sarang burung.

Beginilah kurang lebih bunyi sirenenya.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. Hehehe, berbeda dari kota lain. 😀

  2. waktu imsak juga ms?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: