Bau Mulut dan Bau Kentut


 

Bau Mulut dan Bau Kentut


Suatu hari di sebuah toko buku Islam yang ramai dikunjungi banyak orang, nampak seorang office boy yang berkali-kali menyemprotkan wewangian ke setiap sudut ruangan. Pengharum ruangan otomatis sepertinya tidak mampu meng-handle aroma suasana toko buku yang dijejali pengunjung. Di tengah-tengah keramaian pengunjung, masuklah seorang pengunjung ke dalam toko buku. Sebutlah namanya Bejo. Namun tak terlalu lama kemudian, Bejo langsung bermaksud keluar kembali dari toko buku. Melihat gelagat Bejo, Manajer toko buku pun menghampiri Bejo. Sang Manajer tidak ingin kehilangan satu orang pengunjung tokonya. Ia ingin menjaga reputasi toko buku dan tentu saja pelayanan toko buuku di bawah kepemimpinannya. Ia berniat menghampiri Bejo karena ia seperti melihat ada hal yang salah dengan tokonya.

Manajer : “Maaf pak, barangkali ada yang bisa kami bantu pak? Kenapa buru-buru keluar dari toko buku kami pak?”

Bejo : “Ini toko buku atau septic tank sih? Tadinya aku berniat mencari buku, tapi belum juga aku masuk ke dalam toko baunya sudah kayak bau septic tank gini, aku memutuskan keluar saja dari tokomu.”

Manajer : “Owh, ini bulan Ramadhan pak. Siang hari pula. Barangkali bau nafas para pengunjung yang banyak ini menjadikan aroma ruangan toko kami terasa berbeda. Tetapi kami sudah berusaha menyemprotkan wewangian sepanjang waktu kok pak.”

Bejo : “Ah, wewangianmu tidak mampu mengalahkan bau mulut orang se-toko buku ini. Masak, bau mulut saja bisa mengalahkan bau kentut. Kentutku masih lebih wangi dari bau tokomu ini.”

Bejo pun menyudahi diskusi sambil menutup hidungnya. Ia segera beranjak meninggalkan toko buku.

Seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa jika bulan Ramadhan tiba, bau mulut orang-orang yang berpuasa akan mengeluarkan aroma yang ‘berbeda’ dari biasanya. Namun demikian, kewajaran itu jangan dijadikan alasan bagi kita untuk membiarkan begitu saja bau mulut kita saat berpuasa. Sebisa mungkin kita perlu meminimalisir aroma tidak sedap itu dengan gosok gigi atau bersiwak agar tidak mengganggu orang-orang di sekitar kita.

Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak beberapa kali hingga tidak dapat kuhitung banyaknya, meskipun saat itu beliau sedang berpuasa.”HR. Tirmidzi no. 725 dan Ahmad 3/445

Ahmed Fikreatif

 

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. bloger mati meninggalkan postingan…kalo tikus mati meninggalkan bau……hehehe..salam kenal..

  2. Ah, bau mulut saya gak segitunya kok. 😆
    Saya hanya sikat gigi pas sebelum subuh dan malam sebelum tidur. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: