Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran


Suasana Antrian Pemesanan Tiket Lebaran 2011 di Gambir

Suasana Antrian Pemesanan Tiket Lebaran 2011 di Gambir

Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

Subuh hari, tanggal 27 Juli 2011, aku berangkat berjalan kaki menuju Stasiun Gambir setelah menunaikan Sholat Subuh dari kos. Jarak kos dengan Stasiun Gambir sekitar 1 KM atau 10 menit jalan kaki. Sengaja aku berangkat pagi-pagi ke Stasiun Gambir karena niat ngantri tiket kereta api untuk keperluan mudik lebaran.

Awalnya, aku sebenarnya merasa aras-arasen menuju Gambir untuk ngantri tiket kereta api. Pertama, aku memperkirakan Stasiun Gambir sudah dipenuhi oleh ratusan calon penumpang yang sudah mengantri lebih dahulu dari saya, bahkan tak sedikit diantara mereka yang rela menginap di stasiun. Kedua, aku memperkirakan akan berada di antrian belakang jauh dan sangat berpotensi tidak memperoleh tiket mudik. Karena dua alasan itulah aku sangat pesimis bakal berhasil mendapatkan tiket lebaran yang hendak kubeli.

Dominansi hati dan perasaan yang mengharapkan aku menyerah dengan keadaan sempat menghambatku untuk menuju Gambir. Beruntung, masih ada sedikit rasa optimis yang tersisa dalam tekadku yang memberi motivasi agar aku tidak menyerah berburu tiket lebaran. “Berusahalah semaksimal mungkin terlebih dahulu baru kemudian pasrahkan hasilnya. Ingat, menyerah itu hanya untuk manusia lemah,” barangkali demikian letupan-letupan motivasi kecil menyemangatiku.

Baiklah, bismillahirrahmanirrahim. Aku akan berusaha terlebih dahulu Ya Allah… hasilnya nanti bagaimana aku pasrah dan Ridho atas ketentuan-Mu,” ucapku dalam hati membulatkan tekad dalam tengah perjalananku menuju Stasiun Gambir.

Beberapa menit berselang, singkatnya aku sampai di Stasiun Gambir, di lokasi reservasi tiket. Sesuai perkiraanku, Stasiun Gambir dipenuhi pengantri tiket. Hanya saja tidak mencapai ratusan. Kuperkirakan jumlah pengantri hanya seratusan orang saja.

Tanpa pikir panjang, aku segera menuju meja di sudut ruang reservasi tiket Stasiun Gambir mengambil Formulir Pemesanan Tiket. Selanjutnya, aku memilih antrian yang paling pendek dari beberapa alternatif antrian loket yang tersedia. Tersedia 6 loket yang siap melayani penjualan tiket lebaran, yaitu loket 18, loket 19, loket 20, loket 21, loket 22, dan loket 23. Setelah kulihat-lihat, aku memutuskan memilih antrian pada loket 23. Aku berada paling belakang pada antrian loket 23, sekitar urutan ke-25.

Belum selesai aku mendudukkan pantat untuk duduk antri pada loket nomor 23, seorang petugas Satpam Stasiun Gambir mendatangiku dan mengatakan bahwa loket 24 juga akan melayani penjualan tiket lebaran. Secara reflek, aku langsung kembali berdiri dan berlari kecil menuju loket 24 yang masih kosong dari antrian. Beberapa orang yang sebelumnya antri di loket 23 dan 22 yang mendengar ucapan petugas Satpam itu juga ikut-ikutan menuju antrian loket 24. Alhamdulillah, aku berada di antrian nomor 2.

Muncul rasa optimisme yang meningkat tajam. Kali ini aku merasa lebih yakin untuk memperoleh tiket lebaran. Meskipun demikian, aku berusaha tetap mengerem rasa senangku agar tidak berlebih mengingat perjuangan berburu tiket lebaran belum usai. Sebagai pengantri tiket mudik yang cukup memiliki pengalaman, urutan antrian awal tidak memberikan jaminan seorang pengantri memperoleh tiket. Aku sangat menyadari hal itu meskipun aku berada di antrian urutan nomor 1 dan di hari pertama penjualan tiket.

Aku katakan antrian nomor 1 atau 2 sekalipun (apalagi 3, 4, dan seterusnya) belum tentu bisa memperoleh tiket lebaran, dikarenakan PT. KA menerapkan sistem penjualan online di seluruh pulau Jawa. Artinya, pelayanan penjualan tiket tidak hanya dilayani oleh stasiun pemberangkatan atau tujuan semata. Pelayanan penjualan tiket bisa dilayani di seluruh stasiun di seluruh pulau Jawa yang sudah memiliki jaringan yang mampu online dan untuk tujuan kemanapun yang tersedia. Tak hanya di Stasiun, pelayanan penjualan tiket kereta api juga bisa dilayani di Kantor Pos, Indomart, Travel Agent, serta melalui pemesanan via telepon. Artinya, hanya dalam waktu tak lebih dari satu menit, sangat mungkin terjadi puluhan sampai ratusan transaksi secara real time dan berbarengan. Persoalan akan bertambah jika jaringan koneksi di Stasiun Gambir tempatku mengantri tiket mengalami down atau disconnected, antrian nomor 1 atau 2 pun sudah pasti tidak banyak membantu.

 

Sekitar pukul 06.55 WIB, jendela seluruh loket dibuka. Aku segera menyiapkan uang pas sebanyak nilai tiket yang hendak kubeli. Karena aku berniat membeli 4 kursi tiket Senja Utama Solo, maka aku pun menyediakan uang sebanyak Rp. 880 ribu.

Tepat pukul 07.00 WIB, petugas loket mencoba mengakses konektivitas sistem penjualan online. Beberapa kali dicoba, kuperhatikan belum ada yang berhasil. Aku sempat deg-degan juga. Namun sekitar semenit kemudian, alhamdulillah seluruh loket sudah berhasil terkoneksi dengan sistem online. Seluruh pengantri urutan nomor 1 berhasil memperoleh tiket yang dipesan. Selanjutnya, dengan cepat, aku sodorkan formulir pemesanan tiketku beserta uang sebanyak Rp. 880 ribu. Mbak Pipit (nama petugas di loket 24 Stasiun Gambir) kemudian mengetikkan pemesanan tiketku. Dengan cukup cepat juga, mbak Pipit menghitung uangku. Setelah tepat jumlahnya, ia memencet tombol ‘Enter’ pada keyboard komputer di depannya. Satu lembar tiket dengan 4 kursi nomor 14A, 14B, 14C, dan 14D kereta kelas bisnis Senja Utama Solo untuk pemberangkatan tanggal 5 September 2011 dari Stasiun Balapan ke Stasiun Pasar Senen pun tercetak.

Alhamdulillah, perjuanganku berburu tiket lebaran tahun ini kembali berhasil seperti tahun-tahun sebelumnya,” ucap syukurku dalam hati berkali-kali.

Allah kembali memberikan ketentuan takdir-Nya kepadaku tetap memperoleh tiket mudik lebaran secara murni tanpa membeli dari calo ataupun ‘orang dalam’ PT. KA meskipun awalnya secara perkiraan, aku berkemungkinan besar tidak memperoleh tiket kereta lebaran.

 

*catatan: Seorang pemesan yang antri di sampingku pada urutan nomor 2 pada barisan loket 23 Stasiun Gambir yang berencana memesan tiket kereta api Gumarang tanggal 5 September 2011 tidak berhasil memperoleh tiket karena tiket Gumarang dinyatakan habis. Tidak sampai lima menit setelah loket dibuka. HEBAT KHAN PT. KA ????

__________

Pesan moralnya: Berusahalah semaksimal mungkin terlebih dahulu atas apa saja yang memang layak untuk diperjuangkan baru kemudian pasrahkan hasilnya kepada Allah SWT. Jangan pernah menyerah karena menyerah hanya untuk manusia lemah. 😀

Ahmed Fikreatif

 

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

 

Iklan

10 Tanggapan

  1. Jikalau tiket KA habis, tak mungkinkah menggunakan bus?

    • @Asop: bisa sih Sop, cuman masalahnya pasti bakalan macet dan akan lebih mahal…..
      :-s

  2. beruntunglah mas ahmed kalau begitu ya… 🙂
    soal transportasi massal ini memang agak rumit nampaknya, sementara jumlah penggunanya akan terus bertambah, semogalah ada solusi untuk masa depan.
    😦

    • @Mhd Wahyu: Solo insya Allah terdepan mas..
      asal dipegang oleh org yg bener.. 🙂

      Semoga bisa menular ke daerah mas Wahyu juga

  3. ternyata kondisinya gitu ya klu mudik naik kereta..

    • @Dian: gitu gimana lho Dian?

  4. wah wah wah……
    bersukur yg sudah dapat tiket mas..

    • @Mabruri: iya bos,,
      apalagi sy malah dapat untung 😀

  5. mantab wan , moga mudik besok lancar 😉

    • @Rasarab: Amiin Wan. mau nunggu sy d Tugu? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: