Let’s Read !!!


Hidup Tanpa Membaca Adalah Hampa

Hidup Tanpa Membaca Adalah Hampa

Let’s Read !!!

Membaca adalah sebuah aktivitas yang sangat positif bagi pengembangan pribadi dan karakter diri. Melalui membaca, manusia berpotensi menjadi tahu atas segala sesuatu yang belum dan tidak diketahui sebelumnya. Tak ada manusia di dunia ini dari sejak zaman Adam hingga saat ini bahkan sampai nanti di hari kiamat mampu pandai tanpa melalui proses membaca. Oleh karena itulah, aku berusaha mempertahankan salah satu hobiku selama ini, membaca.

Membaca merupakan kegiatan yang sangat diistimewakan dan dijunjung tinggi dalam agama dan keyakinanku, Dinul Islam. Begitu istimewanya, kalimat Allah yang pertama kali turun kepada Muhammad SAW sebagai wahyu adalah “Iqra’” yang memiliki arti “Bacalah!”.

Allah SWT berfirman, ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5).

Iqra’ yang diartikan dengan bacalah, sejatinya, diambil dari kata qira’atanyang arti asalnya menghimpun. Sehingga, dari arti asal ini dapat dipahami bahwa membaca memanglah tidak mengharuskan adanya teks atau aksara tertulis yang dibaca. Begitupun, tidak pula harus diucapkan hingga terdengar oleh orang lain.

Salah satu dari objek yang dibaca adalah objek berwujud aksara atau tulisan. Buku, demikian kita biasa menyebutnya. Dikarenakan aku memiliki hobi membaca dan termotivasi oleh keinginan untuk menjadi manusia seutuhnya yang berpengetahuan luas serta dikarenakan perintah langsung dari Sang Maha Pencipta maka aku menjadikan buku sebagai salah satu perantara untuk mewujudkan impian dan cita-citaku.

Tak kupungkiri bahwa membaca tidak melulu berorientasi pada buku semata. Membaca bisa kita lakukan dengan menjadikan beraneka macam objek di sekitar. Membaca alam, membaca langit, membaca perilaku, dan membaca-membaca lainnya. Dan buku hanya salah satu cara dalam membaca.

Ketika masih usia Sekolah Dasar, aku sangat bersyukur memiliki orangtua yang membiasakanku untuk mencintai buku. Setiap kali liburan Catur Wulan (sekarang istilahnya liburan semester), aku diajak ke toko buku atau kios belakang taman Sriwedari (mburi Sriwedari atau disingkat Bu Sri) yang merupakan pusat kios orang jualan buku murah baik yang baru maupun bekas. Barangkali kalau di Jakarta, Bu Sri itu seperti Kwitang atau Shopping Center kalau di Yogyakarta. Biasanya, setelah berkeliling lokasi Bu Sri, kami memborong puluhan buku bacaan dan majalah bekas yang akan menjadi temanku selama liburan dan waktu-waktu luang.

Memasuki usia Sekolah Menengan Pertama, kebiasaanku mendatangi Bu Sri ketika tiba masa liburan sekolah sudah menjadi tradisi tersendiri. Sebagai pengembangannya, ayahku mengenalkanku dengan Perpustakaan Islam Surakarta yang terletak di Kartopuran. Di Perpustakaan inilah aku makin banyak membaca buku-buku yang lebih berbobot dan lebih berat.

Menginjak masa Sekolah Menengah Umum (Atas), aku lebih suka mengunjungi toko buku. Saat itu di Solo, hanya ada dua toko buku besar yang kukenal. Pertama yaitu toko buku Sekawan. Kedua adalah toko buku Budhi Laksana. Kedua toko buku ini sudah lama eksis. Saat itu Gramedia belum masuk kota Solo. Di toko buku, aku lebih bisa meng-update judul-judul buku terbaru dibanding dengan buku-buku koleksi perpustakaan. Di toko buku, awalnya aku hanya menghabiskan waktu untuk membaca saja tanpa membelinya. Maklum, masih sayang dengan uang saku yang terbatas. Namun demikian, aku mewajibkan pada diriku untuk membeli setidaknya satu buah buku setiap satu bulan sekali.

Satu buku sebulan bagiku saat itu sudah cukup membutuhkan perjuangan penghematan uang saku yang terbatas mengingat harga buku yang relatif mahal untuk ukuran uang sakuku. Maka itu, aku harus benar-benar pintar memilih dan menyeleksi buku yang hendak kubeli agar tak salah membeli. Setiap buku yang menarik, kubaca terlebih dahulu secara skimming. Biasanya ada puluhan buku. Nah, diantara puluhan itu kupilih satu saja yang akan kubeli. 😀

Saat terjun di dunia kampus perkuliahan, kota Solo sudah memiliki beberapa toko buku besar. Uang sakuku pun sudah mulai banyak. Kebiasaanku membeli buku minimal satu setiap satu bulan tetap kupertahankan. Apapun bukunya selama menarik, aku akan membelinya untuk selanjutnya dibaca di rumah. Tak ada hari tanpa membaca benar-benar sudah meresapi otak dan hatiku.

Aku makin ‘gila’ membaca ketika menyadari bahwa para ulama, ilmuwan, cendekiawan, pemimpin besar, dan tokoh-tokoh berpengaruh dunia rata-rata adalah seorang pembaca sejati. Buku adalah ibarat senjata bagi tentara yang senantiasa ditenteng kemanapun juga. Aku sangat terkesan ketika mendengar bahwa seorang ulama masyhur sahabat Imam Abu Hanifah bernama Al-Hasan Al-Lu`lu`I Al-Kufi yang selama 40 tahun tak pernah istirahat siang, tidur malam, ataupun berbaring melainkan di atas dadanya ada buku.

Aku makin takjub mendengar Al-Mustanshir billah Abul Ash Al-Hakam bin Abdurrahman Al-Umawi (Sang Penakluk Andalusia) yang gemar sekali membaca dan mengoleksi buku. Hampir sebanyak 200.000 buku yang ia miliki dan sudah dibaca.

Mereka tidak sekedar mempraktekkan slogan tiada hari tanpa buku dan membaca. Lebih dari itu, mereka sudah menganggap buku adalah bagian dari dirinya. Seperti bagian dari ruhnya. Subhanallah. So, berapa buku yang kamu baca kawan? 😀

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

8 Tanggapan

  1. cerita yg menarik, saya juga sudah mulai membaca buku. salam

    • @ANdi: Alhamdulillah lanjutGANNNNN

  2. Buku oh buku, saya tak mau buku digantikan oleh ebook… 😦

    • @Asop: sama Sop
      lbh asyik buku

  3. read more books than blogs campaign: http://bookshelfporn.com/post/772477548

    tinggalkan blogmu om 😛

    • @Dianids: Ngawur itu yg bikin campaign

  4. weww, saya juga kemaren menulis tentang membaca mas, yg intinya membaca tidak selalu berorientasi pada tulisan/buku. Tapi alam sekitar juga harus bisa pandai membacanya… 😀

    oke, mari membaca.. 😀

    • @Mabruri: iya, membaca memang tdk selalu berorientasi pd buku sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: