Ir. Soekarno


Soekarno

Empat puluh satu tahun silam, seorang tokoh besar yang sangat dikenal di negeri ini dan cukup dikenal di dunia meninggal dunia pada pukul 07.00 WIB. Orang yang meninggal dunia itu bernama Koesno Sosrodihardjo atau yang lebih dikenal dengan Ir. Soekarno atau Bung Karno, seorang tokoh proklamator Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia.

Semasa aku masih sekolah usia sekolah dasar, aku sangat mengagumi sosok Bung Karno. Pidato-pidatonya yang terdengar menggelegar serta selalu heroik penuh ketegasan menginspirasiku untuk menjadi seorang orator. Di depan cermin kamar, aku sering mengenakan peci hitam sambil berteriak-teriak seolah tengah berpidato dan berorasi di depan ribuan massa. Tak jarang aku ke masjid dan berdiri di atas mimbar membaca pidato seolah berada di depan massa. “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air! Kita sebagai bangsa yang merdeka, jangan pernah tunduk pada penjajahan-penjajahan oleh bangsa lain…!” kira-kira demikianlah aku berteriak-teriak di atas mimbar.

Namun ketika aku mulai banyak membaca buku-buku tebal di akhir sekolah dasar yang seharusnya dibaca oleh level-level mahasiswa atau setidaknya pelajar SMA, kekagumanku terhadap Soekarno mulai luntur. Buku-buku yang menceritakan pandangan-pandangannya tentang konsep nasakom yang menggabungkan prinsip nasionalisme, agama, dan komunisme menjadi satu sangat tidak masuk logika akalku di usia kelas 6 SD ketika itu. Mana mungkin agama yang meyakini adanya tuhan bisa bersatu dengan ajaran komunis atheis yang sama sekali tidak meyakini adanya tuhan?

Menginjak SMA, lebih banyak lagi buku-buku yang menceritakan tentang kisah kasinya dengan banyak wanita yang entah sampai berapa banyak jumlahnya. Semakin lama, aku semakin banyak memperoleh informasi tentang sosok Soekarno yang ‘hobi wanita’ sehingga memaksaku untuk melepaskan kekagumanku pada sosok proklamator ini, meski tidak 100%.

Aku masih mengagumi banyak hal dari karakter-karakter sosok Bung Karno yang cukup menonjol. Kecerdasannya di masa itu yang meluluskannya dari ITB hingga menggondol gelar insyinur dalam bidang Teknik Sipil merupakan salah satu buktinya. Barangkali, ia seperti sosok BJ. Habibie yang kondang kecerdasannya dan kerap menginspirasi banyak anak-anak Indonesia untuk bercita-cita sebagai seorang insinyur di tahun 1980-1990an. Ketegasannya dalam melawan kapitalisme dan imperialisme khususnya Amerika Serikat dan dunia barat tak banyak tokoh dan pemimpin yang bisa mengikuti dan mewarisinya.

Itulah Soekarno dalam selintas pandangku yang meninggal dunia pada 21 Juni 1970.

 

 

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

3 Tanggapan

  1. Saya juga suka pada gaya diplomatisnya..

    • @Mabruri: diplomasinya emang cukup keren…
      ga ada padanannya di zaman ini
      klo di zamannya, diplomat2 hebat masih banyak
      sosok yg paling top tentu saja KH. AGus Salim.
      beliau berani dan tegas memaksa Belanda duduk ke meja perundingan.

      Syahrir jg diantaranya

  2. pak soekarno kan hanya manusia biasa, jadi wajar donk ada hitam putihnya? toh, kita juga nggak baik kan kalau terlalu kagum sama seseorang, kalau itu terjadi pada saat kita mendengar hitam tentang dirinya akan berkurang, seperti yang terjadi pada diri anda (maaf sebelumnya) . jadi kita ambil saja positif nya. betul?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: