Menunggu Kematian…


Batu karang di tengah lautan

Disapu badai dihempas ombak

Maut datang, tak tunggu kesiapan

Pasti sampai, tak bisa ditebak

Hari Senin, ketika itu tanggal 7 Juli 2008, aku dikabari seorang kawan yang menginformasikan bahwa kawan kami bernama Silman yang masih duduk kuliah di bangku semester 6 Jurusan Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret telah meninggal dunia sehari sebelumnya, atau tepatnya pada Ahad, 6 Juli 2008.

Aku pun terkaget tak percaya dan kuanggap bahwa lelucon murahan ini sudah keterlaluan. “Eh, kalau ente bercanda jangan keterlaluan dong!” kataku.

“Saya ngga bohong mas, ini serius. Mas Silman kemaren meninggal kecemplung dam sedalam empat meter. Ia ndak bisa renang, mas!” tegasnya.

Seolah tak percaya, namun itulah faktanya. Adik tingkat ku yang masih berada dalam semester 6 meninggal dalam usia muda. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sesunggunya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nya pula (semuanya) kembali.

Ia meninggal dunia setelah terpeleset dan kemudian terperosok masuk ke dalam sebuah dam (bendungan) sedalam empat meter. Ia tidak bisa berenang. Sementara itu, seorang kawannya yang bermaksud menolongnya pun juga ikut terbawa tenggelam dan akhirnya meninggal dunia. (baca lebih lengkap di sini-silakan klik)

Sekitar satu bulan sebelumnya, seorang kawan SMA juga dikabarkan meninggal dunia. Namanya Putri Ira. Ia meninggal dunia seketika setelah terpeleset di kamar mandi. Aku tidak terlalu tahu karena sebab apa pastinya ia meninggal dunia. Mungkin kepalanya terbentur benda keras yang membuatnya mengalami pendarahan dalam di kepala atau sebab yang lain aku tidak tahu. Namun yang pasti, ia telah meninggal dunia dalam usia yang terbilang masih muda. Usianya tak beda jauh denganku karena ia adalah teman satu angkatan kala masih duduk di bangku SMA. Saat ini usiaku 22 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sesunggunya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nya pula (semuanya) kembali.

********************

Ketika ditanya tentang apa yang ia cari dalam hidup ini. Maka ada seseorang yang menjawab ”Wahai saudaraku, apa lagi yang kita cari dalam hidup ini selain kematian?”

Ketika kebanyakan orang lain mencari kehidupan, orang tersebut justru mengatakan bahwa ia justru mencari kematian. Tertegun sesaat aku terbengong dan terbingung mendengarnya. Ternyata, kematian yang ia katakan di atas bukanlah kematian dalam makna yang hakiki. Bukanlah ia bermaksud mengatakan bahwa ia ingin bunuh diri untuk menemui maut yang dikatakannya di atas. Maksud kalimat yang ia ucapkan itu adalah bahwa dalam perjalanan hidup di dunia ini pastilah akan menemui ujung perjalanannya. Dan ujung perjalanan sebuah kehidupan adalah sebuah kata yang kita kenal dengan kematian. Sebagaimana ketika seseorang pergi ke suatu daerah maka ia tentunya bertujuan ke suatu tempat yang penting di daerah itu. Maka, ia berusaha mencari kematian itu dengan tujuan bahwa sebelum ia sampai ke ujung perjalanan nantinya, ia telah mengenal dengan baik dan menjabat erat kematian tersebut. Ketika perjalanannya sampai pada ujung kematian itu, maka ia merasa sudah tidak kaget dan terkejut karena telah mempersiapkannya.

Seringkali kita berpikir bahwa hidup kita akan berlangsung sesuai dengan keinginan kita. Bahkan dalam setiap pesta-pesta perayaan ulang tahun, sebagian diantara kita tak lupa berdoa dan mendoakan untuk panjang umur. Kematian yang seringkali mengingatkan kita bahwa jatah usia kita semakin menipis justru kita lupakan. Tak sedikit diantara kita yang menyangka bahwa jatah hidup kita adalah sesuai dengan keinginan kita sehingga dengan penuh detailnya, kita menyiapkan agenda-agenda dan tahapan-tahapan tertentu sejak kita belia hingga dewasa dan tua. Namun sekali lagi, kita melupakan kematian dalam agenda kita.

Sebagian orang menganggap bahwa kematian adalah sebuah proses biasa selayaknya seorang siswa yang apabila telah lulus SD, maka ia akan masuk ke SMP, SMU, dan seterusnya. Maka kita menganggap bahwa kematian adalah proses biasa yang harus kita lalui jika kita telah berada di batas kehidupan kita. Selanjutnya kita akan melanjutkan ke tahapan berikutnya yang kita kenal dengan akhirat. Dan kehidupan sesudah mati itu kita sangka akan memberikan kebaikan dan kegembiraan saja kepada setiap orang yang telah menemui kematian. Tidak ada kehidupan yang susah payah sesudah kematian. Semuanya happy ending.

Sebagian yang lain menganggap kematian adalah proses biasa selayaknya sebuah barang yang apabila telah rusak maka kita tinggal mencampakkan atau menguburkannya sehingga suatu saat akan menjadi tanah dan selesai tanpa proses berikutnya. ”Sebuah proses biologis biasa”, demikian kata mereka.

Sebagian kecil diantara kita mungkin juga ada yang menganggap kematian adalah sebagai sebuah tamu istimewa sehingga selayaknya diperlukan persiapan-persiapan khusus untuk menyambutnya. Mereka menganggap bahwa kematian tidak bisa ditunggu kepastian kehadirannya. Maka dari itu, mereka senantiasa menyiapkan kematiannya selaksananya menyambut sang tamu istimewa. Ketika kematian mengetuk pintu jiwanya, ia ingin berada dalam keadaan yang sehat dan baik. Senyumnya terkembang saat sang maut berpamitan pulang membawa roh lembut dari pintu rumah kehidupan mereka.

Bagaimanakah kita menilai makna kematian? Kita memiliki persepsi masing-masing diantara kita. Bagaimanakah kita menyambut dan menghadapi kematian tidak bisa lepas dari bagaimana kita menilai dan mengenal kematian. Namun yang pasti, kematian tidak menunggu kesiapan kita. Kematian juga tidak mampu terdeteksi oleh alat apapun sebagai alarm sinyal sehingga mampu kita tebak kedatangannya.

Lebih dari itu, kematian adalah sebuah keniscayaan. Ia pasti datang dan sampai pada kita cepat atau lambat.

Selamat menunggu kematian! (fikreatif)

Ahmed Fikreatif

 

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

 

 

Iklan

18 Tanggapan

  1. rasah ditunggu teko dewe nda..wes kroso po!!!

    • @Yahya: :-s dongane elek ig

  2. innalillahi… semua akan kembali kepada-Nya

    • @alief; betu betul betul sekali

  3. serem lihat gambarnya… >_<

    • @Lizarajalu: kita nanti juga bakal kayak gitu kok bro 😦

  4. Setuju ama Pak Jalu. Serem liat gambarnya! >_<
    Tpi emang yg namanya kematian hanya menjadi rahasia Ilahi. Setahun yg lalu, ayah saya yg awalnya segar bugar, tiba2 dipanggil sang pemilik nyawa. Siap tidak siap, emang harus siap! Itulah kematian.

    • 😀

  5. CMIIW

    kullu nafsun dzaa iqatul maut
    Setiap yang bernyawa akan merasakan mati

    yups.. dunia ini hanya persinggahan sementara..

    • @Alief: iya…. bene@Bocipalz: benerr sekali

  6. jadi inget almarhumah adik saya mas… smoga dia ditempatkan di tempat yg mulia di sisiNya.. juga buat saudara2 kita yang telah mendahului kita… aamiin..

    • @Mabruri: kenapa dengan adiknya Brur?
      amiin

      • kan sudah mendahului kita mas…

      • @Mabruri: owh tak pikir apa.
        iya kalau itu sudah tahu
        waktu bc postingmu
        amiin

  7. Hidup siapa yang tahu akan berakhir… Kita hanya bisa menjaga nyawa ini sebaik-baiknya. Pasrah pada kehendak Ilahi.

    • @Asop: iya Sop, semoga dimatikan semua kita semua dalam keadaan khusnul khotimah

  8. Kita semua hanya bisa pasrah karna maut ada di tangan tuhan dan kita tidak tahu kapan dia akan mengaambil kita untuk kembali kepadanya,,,

    • @Forex: hu um

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: