Upacara SD dan Mars Lagu NDM


Satu hal yang tak terlupa di zaman SD dulu adalah saat upacara, baik upacara bendera setiap hari Senin atau upacara hari-hari besar nasional seperti hari Kartini, hari Pendidikan Nasional, hari Kebangkitan Nasional, dan lain-lain. Hampir setiap upacara, pasti ada saja murid-murid yang di-strap di halaman depan lapangan upacara. Itulah yang bikin upacara (khususnya upacara bendera setiap hari Senin) sebagai pengalaman mengesankan sekaligus menjengkelkan yang tak terlupakan.

Sudah merupakan sebuah aktivitas rutin kala itu bagi segenap warga sekolah dasar Islam NDM, pada setiap hari Senin pagi tepat pada pukul 07.00, diadakan upacara bendera di halaman sekolah berukuran sedang. Sebagaimana halnya perilaku dan tingkah polah anak SD pada umumnya, perlu dikomandoi bu guru dan pak guru dengan teriakan dan ancaman pecutan penggaris kayu atau rotan terlebih dahulu barulah kami -para murid-murid- bisa berbaris rapi dan diam.

Regu kelas 6 berada di sisi sebelah selatan halaman. Sementara kelas 5 berada di sisi sebelah barat halaman paling ujung selatan. Kemudian berturut-turut di sisi sebelah utaranya diikuti regu kelas 4 dan kelas 3. Kelas 1 dan kelas 2 berada di sisi sebelah utara halaman. Sedangkan sisi sebelah timur diperuntukkan kepada Bapak / Ibu guru serta para petugas upacara. Khusus bagi yang terlambat, diminta membuat barisan kelompok sendiri di sela-sela antara kelompok kelas 3 dan kelas 2. Terkadang, siswa yang terlambat disuruh berada di luar sekolah menunggu pintu gerbang dibuka seselesainya upacara.

Upacara dimulai dengan pembukaan dan pembacaan urutan acara serta tata tertib upacara oleh petugas protokol setelah semua peserta upacara berbaris rapi dan diam (meskipun terpaksa). Selanjutnya, pemimpin upacara memasuki lapangan upacara dilanjutkan kemudian dengan masuknya pembina upacara ke lapangan upacara didampingi petugas pembawa teks Pancasila yang berdiri di sebelah kanan pembina. Pembacaan doa dilangsungkan sesudahnya oleh petugas dilanjutkan dengan Hening Cipta. Acara kemudian berlanjut dengan pengibaran bendera merah putih oleh tiga orang petugas. Saat bendera di-kerek atau ditarik untuk dikibarkan, semua peserta upacara diminta hormat oleh pemimpin upacara sambil diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya (entah versi yang mana; 3 atau 2 stanza. Aku tidak paham). Selesai pengibaran bendera, acara dilanjutkan dengan pembacaan pembukaan UUD 1945 oleh petugas (dulu aku sampai hafal di luar kepala saking seringnya dengar meskipun panjang) dan pembacaan Pancasila oleh pembina upacara diikuti seluruh peserta upacara. Setelah peserta upacara diistirahatkan di tempat, acara bersambung dengan amanat pembina upacara.

Pada sesion amanat pembina upacara ini biasanya diisi dengan nasehat-nasehat, motivasi-motivasi, atau pesan-pesan positif dari Bapak / Ibu guru yang bertugas. Bagi kami waktu itu, inilah inti upacara karena biasanya memakan waktu antara 10-20 menit. Selesai membacakan amanat, pembina meninggalkan lapangan upacara diikuti dengan pemimpin upacara yang juga meninggalkan lapangan upacara.

Acara berikutnya adalah ”hiburan”. ”Hiburan” yang kami maksud bagi kami ketika itu adalah acara Lagu Wajib. Aku dan kawan-kawan saat itu paling senang jika sampai pada sesion ini karena rata-rata anak-anak suka nyanyi. Khusus bagiku, acara nyanyi ini menjadi media untuk berteriak sekencang-kencangnya sambil bermain-main (baca: celelekan_jawa). Lagu-lagu yang kami nyanyikan terdiri dari 2 jenis. Pertama, lagu wajib nasional (aneka lagu-lagu jadul nasional seperti Bangun Pemuda-Pemudi, Maju Tak Gentar dll) dan kedua lagu Mars NDM.

Teks lirik lagu Mars NDM ketika itu (entah sekarang sudah ganti atau belum) kalau tidak salah (mohon koreksi) sebagai berikut:

pelajar NDM semua….

putra-putri yang sanggup belajar,

marilah kita maju bersama-sama

mengorbankan tenaga

bekerja seia sekata

untuk nusa dan bangsa kita

berjuang dengan tanpa bimbang

terus sambil berdoa (terus tampil ke muka)

majulah, majulah pelajar NDM..!!!

jaga sungguh namamu

pegang teguh AGAMAmu

ingatlah kewajibanmu

Selesai menyanyi maka upacara ditutup. Namun, Sebelum petugas protokol / MC menutup upacara, biasanya ada acara pengumuman-pengumuman jika memang ada pengumuman penting yang akan disampaikan. Jika tidak ada, maka acara berikutnya penutupan dan ”eksekusi” peserta upacara yang ”tidak disiplin”.

Acara eksekusi inilah yang dulu sering menghantui kami, murid-murid. Kategori tidak disiplin yang harus memperoleh sanksi / hukuman / eksekusi antara lain jika murid peserta upacara terlambat atau tidak lengkap emblem-emblem seragamnya atau saltum (salah kostum seragam).

Emblem-emblem yang wajib dipenuhi dan dipakai setiap murid peserta upacara adalah mengenakan hem putih dan bawahan merah dilengkapi badge berlogo SD yang menempel di depan kantong saku sebelah kiri serta badge lokasi di sisi kanan lengan kemeja hem. Tak cukup itu, murid juga harus mengenakan dasi dan topi serta sabuk dan sepatu hitam lengkap dengan kaos kaki putih.

Jika tidak memenuhi syarat-syarat tersebut maka harus bersiap distrap atau dieksekusi di depan halaman sekolah (lapangan upacara di depan seluruh peserta upacara). Aku tidak terlalu ingat hukuman apa saja yang diterima jika tidak disiplin itu karena aku hampir tidak pernah melanggar. Seingatku, beberapa hukuman itu mulai sekedar nasehat dan peringatan, menulis teks tertentu, menjadi petugas upacara untuk upacara selanjutnya, memakai kantong plastik atau kresek jika tidak mengenakan kaos kaki, memakai tali rafia sebagai pengganti sabuk jika tidak mengenakan sabuk, push up, sit up, lari keliling halaman, dijenggit, dijewer, atau hafalan surat pendek. Entah hukuman itu mendidik atau tidak, aku tidak terlalu paham karena aku bukan pengamat pendidikan dan peneliti pendidikan. Silakan kawan-kawan menilai sendiri.

Demikianlah upacara yang selalu kuingat. Penuh kesan dan pesan. Sehabis itu, upacara bagiku bukanlah hal yang mengesankan lagi. Kini jika disuruh upacara, dengan berbagai alasan aku selalu mencoba menghindar mengikutinya. Terakhir kali aku hormat bendera pada saat upacara 17 Agustus kelas 3 SMA. Sedangkan terakhir kali menyanyikan lagu Indonesia Raya pada saat acara widusa Sarjana di dalam auditorium UNS, tanggal 2  Desember 2008 (sempat salah ucap teks dua kali karena sudah tidak hafal). Upacara ditutup, peserta dibubarkan. Bubaar Jalan!

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. Alhamdulillaah, selesai juga upacaranya,
    panas banget tauu….. 😀

    sama mas, saya terahir ikut upacara waktu kelas 3 SMA,, sekarang setiap 17 agustus saja ga pernah ikut upcaranya, paling ikut lomba2nya tok… 😀

    • @Mabruri: lomba pun skg dah ga ada soalnya pas puasa 😀

      • Agustus kali ini juga msh bulan puasa lagi .. 😀

      • @Mabruri: iyup

  2. hmm~
    jadi kangen sama masa SD~ 😳

  3. @agung: sd mu mana Gung? ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: