Akhir Pekan Terakhir Sang Bujang Sebagai Lajang


Akhir Pekan Terakhir Sang Bujang Sebagai Lajang

Sabtu, Pukul 13.00 an, ada sebuah telepon masuk di ponsel. Dari Fadly, kawanku yang berprofesi sebagai fotografer dan sobat diskusi menarik dalam ‘kesepian’ kota Jakarta. Ia mengajakku agar menemaninya ke Bandung untuk bantu-bantu pindahan dari kos-nya di Bandung. Aku mengiyakannya asal berangkat malam hari, setidaknya selepas waktu maghrib karena siang itu aku masih harus menyelesaikan kerja lembur di kantor.

Singkat cerita, setelah kerjaan lembur tuntas kukerjakan, sekitar pukul 20.00 WIB, ku telepon Fadly. Dari ujung ponsel ia menjawab baru sampai rumah dan beberapa menit lagi akan segera menjemputku. Pukul 20.30 WIB, ia sampai di depan kantorku dengan mobil Nissan hitamnya. Karena kami belum makan malam dan perut sudah keroncongan, kami segera menuju ke kawasan Kebon Sirih untuk makan nasi kambing kebuli.

Setelah makan malam, Fadly mengajukan opsi waktu berangkat ke Bandung. Malam itu juga atau esok hari selepas sholat subuh. Karena aku melihat mata Fadly nampak merah dan aku sendiri juga lumayan kecapekan, aku memilih opsi berangkat keesokan hari selepas sholat subuh. Akhirnya kami sepakat berangkat keesokan hari selepas sholat subuh.

Keesokan harinya setelah sholat subuh, kami mandi terlebih dahulu dan mempersiapkan persiapan sederhana sebelum berangkat. Pukul 06.00 WIB, kami berangkat ke Bandung dengan tujuan pertama adalah kos Fadly di kawasan Buah Batu. Kami sempat mampir sebentar di rest area entah di kilometer berapa untuk sarapan. Pilihan kami jatuh di Hoka-Hoka Bento (Hokben).

Sarapan Hoka-Hoka Bento

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami baru keluar jalur tol di gerbang Pasteur untuk masuk Bandung. Dikarenakan sedikit kemacetan Bandung karena kegiatan Car Free Day, kami sampai di kos Fadly sekitar pukul 10.00 WIB.

Kos Fadly - Buah Batu (Kosnya di lantai dua pojok)

Kos Fadly - Buah Batu (Kosnya di lantai dua pojok)

Agenda di kos Fadly adalah mengepak barang-barangnya untuk dibawa pulang ke Jakarta. Mulai dari pakaian, meja, lipat, tripod, lensa, kamera, dan segala macam barang-barangnya dimasukkan ke mobil. Pukul 12.00 WIB, hampir seluruh barang-barangnya sudah masuk di mobil. Tujuan berikutnya adalah ke kampus Fadly.

Di kampus STISI Telkom, Fadly ingin mengambil dan membawa pulang karya Tugas Akhir-nya. Karya tugas akhirnya adalah sebuah karya seni rupa yang memadukan antara karya lukisan dan media digital. Barangkali itu yang kutangkap dari hasil karyanya. Meskipun ia berasal dari jurusan Seni Rupa Murni yang selama ini lebih kulihat membuat karya-karya seni murni tanpa adanya unsur-unsur digital, namun ia justru mampu memadukan karya seni murni dengan menggunakan media digital atau komputer dengan baik. Itulah setidaknya persepsi yang kuperoleh.

STISI Telkom

STISI Telkom

Selesai mengambil tugas akhir, tujuan utama kami berikutnya adalah ke kos Ferry di kawasan kampung dekat lapangan Gasibu. Fadly menemui Ferry karena ingin melakukan briefing singkat seputar pemotretan acara pernikahannya di Solo dan mengembalikan beberapa properti fotografi milik Ferry yang dipinjamnya. Ferry juga seorang fotografer yang terhitung baru saja menyatakan diri terjun di bisnis fotografi dengan memutuskan keluar dari pekerjaan dan lebih fokus menekuni bisnis baru yang sebenarnya tidak terlalu asing karena ia lulusan Desain Komunikasi Visual. Di bawah payung bendera MaxiLight, Ferry merintis bisnis ini.

Ferry - Fadly

Ferry - Fadly

Ketemuan dengan Ferry adalah tujuan utama terakhir di Bandung. Selanjutnya, agenda kami lebih bebas entah mau kemana. Namun sebelum memutuskan agenda berikutnya, kami menuju ke Masjid Salman ITB terlebih dahulu untuk sholat jamak dhuhur dan asar serta mengganjal perut dengan cemilan-cemilan khas kantin Salman.

Di Salman

Di Salman

Setelah sholat, kami mencari tempat makan siang karena perut memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Setelah muter-muter nggak karuan, Fadly memutuskan berhenti di sebuah food-court. Aku lupa nama jalan atau nama food court-nya. Aku cuman ingat di lantai satu ada Pizza Hut dan Hanamasa. Nah, kami makan yang di lantai 2 dengan menu-menu makanan yang lebih ‘tradisional’. Aku memesan nasi rames. Karena lapar, aku sampai habis dua porsi. 😀 He3x.

Setelah perut merasa wareg (kenyang_pen), Misi berikutnya adalah jalan-jalan dari satu toko (baca: Factory Outlet) satu ke FO yang lain. Seingatku lebih dari sepuluh FO yang kami masuki. Meskipun sudah masuk ke belasan Outlet, tapi tak satupun barang yang ‘berhasil’ kami bawa keluar (baca: beli). Kalau Fadly aku tidak tahu alasannya kenapa tak berhasil menggondol meskipun hanya satu saja. Tapi kalau aku, ketidakberhasilan menggondol satupun pakaian dari belasan outlet yang kumasuki karena harga-harganya mahal menurut itungan Akuntansiku. 😀

Dari sore hingga menjelang waktu isya, kami hanya berjalan kaki dari satu pintu ke pintu yang lain. Khusus aku, berharap sangat besar ada perubahan tarif harga yang drastis sehingga barangkali aku merasa tertarik untuk membeli sebuah Jaket. Sayang seribu sayang, ratusan mantra yang saya baca agar harga Jaket bisa berubah sambil membayangkan Stephen Cow saat menjadi God of Gambler ternyata gagal. 😀 Sampai menjelang waktu isya’, aku hanya membawa rasa capek saja. 🙂

Untuk melepas rasa capek, setelah isya’, Fadly menawariku untuk berelaksasi di Dago Atas dengan menikmati seduhan teh atau secangkir kopi sambil melihat pemandangan kota Bandung dari perbukitan di waktu malam. Dengan tanpa ragu-ragu, aku mengiyakannya.

Sekitar pukul 20.00 WIB, kami sampai di sebuah kedai atau cafe. Namanya aku agak lupa. Kalau tidak salah sih Lisung. Kalau benar itu nama kedainya, aku tidak tahu apa maknanya. Yang jelas di kedai itu, aku bisa melihat beautiful view kota Bandung di malam [tak] mencekam di bawah sinar rembulan dan kilau bintang karena malam itu cuaca Bandung cukup cerah. Tidak seperti sebelum-sebelumnya saat aku beberapa kali ke Bandung dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.

Bandung Dari Dago

Bandung Dari Dago

Sekitar pukul 22.00an, barulah kemudian kami memutuskan kembali pulang ke Jakarta karena keesokan harinya aku sudah harus masuk kembali ke kantor. Malam itu adalah malam terakhir bagi Fadly menikmati akhir pekan sebagai seorang lajang karena sepekan setelahnya ia akan menyandang status sebagai seorang suami dari Ririn. Insya Allah. Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fi khair.

Nruput Wedang

Nruput Wedang

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

12 Tanggapan

  1. menyenangkan, dan betapa indahnya persahabatan…

    • @Mabruri: alhamdulillah jika kita memiliki sahabat yg baik
      yg bs bersama2 ke surga-Nya

  2. selamat bersenang-senang di bandug

    • @Agus: he3x. hnya refresh kok pak
      g seneng2 bgt

  3. wah senengnya jalan jalan ya

    • @Volhverhank: Pokoknya seneng susah sebisa mungkin dibawa seneng om 😀

  4. wew.. aktivitas yang menyenangkan diakhir pekan.. :d

    • @Aydachubby: yup…..
      km ndiri gmn? pas di akhir pekan

  5. nice present from a nice person…..sukron

    • @Fadlun: Afwan 😛

  6. Wih enak tw jalan2nya

    • @rumah dijual: enak dong :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: