Peci dan kepala


Peci dan kepala

Suatu saat, ada seorang santri pesantren yang melihat peci putih yang dikenakannya terasa sempit. Ia coba beberapa kali, pecinya masih saja terasa sempit saat dikenakan. Akhirnya, tanpa pikir panjang, santri pesantren tersebut pun segera berangkat ke pasar. Ia pergi ke pasar untuk membeli peci baru yang pas dikenakan di kepalanya. Apa yang dilakukan oleh santri pesantren itu tentu saja benar. Ia memutuskan membeli peci baru untuk menggantikan peci lama yang dimilikinya karena sudah terasa sesak saat dikenakan. Akan kelihatan bodoh jika si santri justru mengecilkan kepalanya agar peci yang dikenakannya pas saat dipakai. Bukankah demikian?

Sementara itu, aku sering mendengar para tokoh berbicara di depan media dan publik yang menyatakan bahwa syariat Islam tidak bisa diterapkan di Indonesia karena Indonesia bukanlah Negara yang dihuni oleh umat Islam saja. Indonesia adalah Negara yang isinya plural sehingga tidak bisa diatur oleh Islam. Demikian kesimpulan pernyataan-pernyataan yang sering kudengar.

Selain itu, mereka juga beralasan bahwa Islam tidak pas dan tidak sesuai jika diterapkan di Indonesia. Karena Islam dianggap tidak pas dan sesuai, syariat Islam ditinggalkan begitu saja. Ia justru diganti dengan aturan-aturan lainnya yang sampai saat ini tidak bisa membuktikan Indonesia sebagai sebuah Negara yang sukses, yang aman, dan makmur.

Kasus penggantian peci oleh santri dan penolakan syariat Islam agaknya memiliki sedikit kemiripan analogi. Peci adalah buatan manusia, dan kepala adalah salah satu ciptaan Allah. Syariat Islam adalah sebuah perangkat aturan ang disediakan oleh Allah untuk umat manusia, sementara aturan selain Islam sudah pasti adalah peraturan-peraturan buatan tangan dan otak manusia. Hanya saja lucunya, dalam kasus ‘ketidakpasan’ keduanya berbeda perlakuannya. Pada kasus peci, si santri mau saja menggantinya dengan yang baru. Namun pada kasus syariat Islam, justru sebaliknya. Harusnya manusia lah yang mengepaskan diri agar semuanya pas dan tepat sesuai syariat Islam. Namun prakteknya justru sebaliknya. Syariat Islam hanya dijadikan sebagai peci saja. Asesoris pelengkap yang bisa dibutuhkan bisa pula dibuang. Ironis.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. jadi, baiknya bagaimana mas???

    • @Mabruri: baikknya ya kita yg mengikuti ketentuan-Nya
      masak ya kita mbalelo dr -Nya sih? :-s
      wallahu a’lam

  2. aturan hukum yg skarang ga ditegakan apalagi hukum islam… mental itu yg perlu diperbaiki!

    • @R10: Yup… dah mental g ada, apalagi hukum Allah nya
      amburadulll

  3. Paham plularisme itulah yang menghancurkan generasi islam muda (kebanyakan)

    • @Ehfazella: Setuju sekali
      org2 JIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: