Cuti Bersama, Menguntungkan Atau Merugikan?


Cuti Bersama, Menguntungkan Atau Merugikan?

Belum selesai kontroversi pemerintah menetapkan hari Senin, tanggal 16 Mei 2011 kemarin, sebagai hari cuti bersama, lagi-lagi pemerintah membuat kebijakan cuti bersama lagi. Kali ini, pemerintah menetapkan tanggal 3 Juni 2011 sebagai cuti bersama dengan alasan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan hari kerja di antara dua hari libur (baca: Hari Kejepit Nasional) melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, SKB Nomor 03/2011, Kep.135/MEN/V/2011 dan SKB/02/M.PAN-RB/05/2011.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Kantor Kemenkokesra, Jakarta, Senin (23 Mei 2011). Dia juga menambahkan cuti bersama ini akan meningkatkan kegiatan pariwisata dalam negeri yang mempunyai dampak peningkatan ekonomi. Cuti bersama tidak berlaku pada pelayanan umum yang bersifat strategis seperti pada rumah sakit, puskesmas, unit kerja yang memberikan pelayanan masyarakat, pemadam kebakaran, keamanan, ketertiban, perbankan dan perhubungan serta unit kerja pelayanan lain yang sejenis. Untuk lebih jelasnya silakan baca lengkap beritanya di Antara.

Apakah menurut kamu, kebijakan cuti bersama pada Harpitnas menguntungkan atau justru sebaliknya?

Dalam penjelasan pak Menteri itu, cuti bersama sebenarnya bukanlah hari libur di luar yang ditetapkan. Cuti bersama sebenarnya diambil dari cuti tahunan pegawai atau tenaga kerja. Artinya memang pada hakikatnya, cuti bersama adalah hak pegawai (PNS) atau tenaga kerja. Setiap pegawai (PNS) dan tenaga kerja / buruh yang tunduk pada turan ketenagakerjaan pada prinsipnya memiliki hak untuk melaksanakan cuti tahunan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Namun persoalannya, keberadaan cuti bersama sedikit berbeda dengan cuti tahunan pada umumnya. Selama ini, kita sudah bisa memahami jika kebijakan cuti bersama dilakukan pada hari-hari besar keagamaan khususnya umat Islam yaitu Idul Fitri karena pada saat itu jutaan orang melakukan tradisi mudik yang sudah turun temurun (kemudian hari cuti bersama juga diterapkan pada hari Natal). Sehingga jika diantara hari Idul Fitri tersebut disepakati sebagai cuti bersama, tentu saja hal itu tidal terlalu menjadi persoalan karena memang semua (bc: mayoritas) orang membutuhkannya.

Cuti tahunan sifatnya kalau menurutku adalah cuti yang bersifat opsional atau fakultatif. Seorang pegawai atau karyawan memiliki hak untuk cuti. Ia berhak mengambil cuti atau melepaskan hak cutinya itu begitu saja. Seorang pegawai bisa mengambil cuti tahunan ini kapan saja sekehendak dia jika ia membutuhkan waktu cuti, tentunya sesuai dengan aturan kepegawaian (PNS) atau ketenagakerjaan.

Sedangkan cuti bersama boleh dibilang kalau menurutku adalah cuti yang sifatnya kewajiban atau berbau ‘pemaksaan’ oleh pemerintah. Jika pemerintah menetapkan pada suatu hari adalah jatuh hari cuti, maka keputusan itu akan membawa dampak bahwa seluruh kantor baik instansi pemerintah, BUMN, atau perusahaan swasta akan tutup kantor (kecuali instansi pelayanan sebagaimana disebut pada paragraf kedua di atas). Mau tidak mau, mereka para pegawai dan karyawan itu harus libur. Hanya saja, liburnya itu bukanlah tambahan libur begitu saja. Liburnya di hari cuti bersama itu secara otomatis mengurangi jatah libur cuti tahunan yang menjadi hak-nya.

Sebagai gambaran teknisnya, cuti tahunan oleh peraturan perundang-undangan ditetapkan maksimal 12 hari dalam satu tahun dengan ketentuan dan syarat mengikuti. Jika selama tahun 2011 ini ada 5 hari cuti bersama (yaitu tanggal 16 Mei, 3 Juni, 29 Agustus, 1 September, dan 23 Desember), maka jatah cuti tahunan pegawai dan karyawan hanya tinggal 7 hari saja. Bagi sebagian pegawai atau karyawan, hal itu merugikan karena beraneka alasan yang bersifat personal. Bagi mereka, makin banyak cuti bersama ditetapkan pemerintah, maka hal itu berarti makin banyak pemaksaan pemerintah kepada mereka untuk melakukan libur pada hari yang tidak mesti mereka membutuhkan atau menginginkan hari libur tersebut.

Lebih jauh lagi, jika pada hari-hari kejepit nasional itu tidak ada cuti bersama dan pilihan cuti dikembalikan kepada hak pegawai atau karyawan yang bersangkutan sendiri sehingga pada hari kejepit nasional tersebut kantor-kantor tetap masuk, maka secara hitung-hitungan ekonomis, strategis dan lainnya tentu saja akan jauh lebih efektif daripada jika pada hari itu seluruh kantor benar-benar tutup.

Bagaimana pendapatmu kawan? Apakah menurut kamu, kebijakan cuti bersama pada Harpitnas menguntungkan atau justru sebaliknya?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

22 Tanggapan

  1. Walah, ini artinya saya harus siap2 nih, jangan ada jadwal ketemu dosen pas jumat 3 juni. 🙂

    • @Asop: iya sop…
      jangan sampai kecelek meneh

  2. lah saya sih ga terlalu ngaruh mas,,, mau cuti mau nggak,,, hehehe

    • @Mabruri: Lha kenapa ??

  3. Horeee… libur lagi 🙂

    • @Yuni: hayah. pendukung yg liibur nih.. :-s

  4. menguntungkan kang kalo mnurut saya…hehehe…kalo ama temen bisa hang-out bareng jg…kalo dimarahin sama2 juga…hahaha..
    slam kenal,
    http://www.hajarabis.com

    • @Hajarabis: salam balik….

  5. tergantung perspektif “menguntungkan”

    saya pernah ngobrol dengan seorang supervisor pada perusahaan ritel nasional, jawabnya adalah menguntungkan, toko jadi ramai pembeli, target tercapai dan itu berarti bonus buat mereka.

    bagi pegawai yg rajin dan disiplin, tentu ini juga bonus istirahat, penyegaran.

    buat pegawai yg malas²an dan lebih sering nongkrong di warung dari pada di kantor, maka tentu tidak ada bedanya. hahaha…

    saya kebetulanlah bukan pns, jadi tak masalah. ikut senang bagi yg senang. tetap senang kalau ada yg tidak senang. sudah ditetapkan ini. hahaha…

    • @Mhd Wahyu: Lha kerja dimana bang? NGO ya?

  6. saya sebagai buruh pemerintah, pegawai daerah, sangat menolak cuti bersama. negara ini terlalu banyak libur dan menghammburkan uang. saya gak percaya ama kebijakan2 penguasa. apalagi yang bisa dipercaya dari mereka

    • @Gururusydi: Alhamdulillah sy dapat pendukung.. hihihihi

      kenapa pak guru? apa alasannya?

  7. hore, harpitnas lagi… 😀
    semoga hal itu benar… 😆

    • @Agung: Insya Allah benar Gung..

  8. kasihan kepada PNS yg cuti tahunannya diambil paksa

    selamat buat para pedagang, krn cuti bersama berarti untung bersama alias omzet penjualan berpotensi naik 😀

    • @R10: hayyah….
      50-50 jadi nih??

  9. Untung bwt karyawan
    Rugi bwt perusahaan
    😀

    • @Aydachubby: belum tentu menguntungkan bg karyawan lho :-s

  10. Yaa kalu ane senengw an kalu libur gitu bisa nyepeda, sayang ane bukan PNS 😀

    • @Rasarab: Wan, tgl 2 juni gowes-an ke solo gmn Wan? kita Kopdar-an…

      gimana wan? PM ane wan klo deal…
      sy siap menjamu ente…

  11. saya yang ikut merasakan cuti bersama ini, tapi termasuk dalam golongan yang tidak setuju, harusnya ditetapkan di akhir tahun sebelumnya, bukan mendadak seperti dua cuti bersama terakhir ini, mengurangi produktivitas kerja

    • @Yandick: Iya mas setuju !!!
      sy jg termasuk yg cuti tp dr hati nurani yg dalam sbnrnya menolak 😦

      PNS kah mas?? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: