Merekam S[e]isi Dunia Dalam Kamera


Memotret Kehidupan Dengan Kamera

Memotret Kehidupan Dengan Kamera

Memotret S[e]isi Dunia dalam Kamera

Beberapa bulan lalu, aku diajakin salah seorang sobatku yang berprofesi sebagai seorang fotografer untuk menghadiri sebuah pameran fotografi di sebuah kampus swasta di kawasan Meruya, Jakarta Barat. Kebetulan penanggungjawab pamerannya adalah teman sobatku itu yang merupakan dosen di kampus tersebut.

Singkatnya, mereka berdua terlibat pembicaraan hangat tentang Fotografi dengan ditemani sebungkus rokok. Awalnya mereka membahas tentang pameran fotografi di kampus itu. Pameran fotografinya sendiri adalah pameran yang berisi karya-karya para mahasiswa Seni (aku lupa apakah mahasiswa seni rupa murni atau desain komunikasi visual) kampus swasta itu. Para mahasiswa berusaha membuat karya berbasis foto yang selanjutnya diedit sedemikian rupa meniru iklan reklame sebuah contoh iklan. Mudahnya, para mahasiswa itu diminta menciptakan karya dengan menjiplak sebuah karya iklan reklame. Bila ada model, maka mereka harus memotret sang model, bila ada gambar wujud produknya, mereka harus memotret produknya.

Meskipun karyanya adalah karya ‘jiplakan’, sang dosennya itu mengharapkan kepada para mahasiswanya agar suatu saat nanti mereka bisa menciptakan karya orisinil mereka sendiri. Karya jiplakan itu hanya untuk memotivasi para mahasiswa bahwa ternyata mereka sebenarnya bisa menciptakan sebuah karya seperti karya-karya mereka yang menghiasi reklame jalanan ibukota. Lebih dari itu, sang dosen ingin memberikan sebuah wacana ektrem bahwa fotografi tidaklah sekedar memotret dengan kamera.

Bertolak dari wacana itulah, kemudian sobatku dan sang dosen yang sama-sama menekuni sebuah profesi berbasis fotografi itu terlibat sebuah diskusi yang hangat. Sementara aku karena tidak terlalu memahami apa itu fotografi hanya memilih diam menyimak sambil mendengarkan mereka berdiskusi. Secara mendasar, sebenarnya mereka lebih banyak membicarakan tentang apa itu batasan fotografi. Apakah dalam dunia fotografi itu meng-HARAM-kan rekayasa digital (baca: editing photoshop)? Apakah fotografi itu hanya murni memaksimalkan kemampuan membidik sebuah objek dengan media bernama kamera semata?

Pada akhir pembicaraan keduanya, aku merasa telah memperoleh sebuah kesimpulan bahwa fotografi is not just a DSLR. Fotografi juga bukan sekedar aktivitas shutting. Mereka menyepakati bahwa seorang fotografer berbeda dengan seorang pemotret. Seorang fotografer harus memiliki basic skill tentang beberapa hal seperti pengetahuan komposisi, pengetahuan warna, pengetahuan tata cahaya, pengetahuan kecepatan cahaya, dan lain-lainnya. Sementara seorang pemotret adalah orang yang menggunakan media berupa kamera dan membidikkannya ke arah suatu objek lalu memencet tombol. Lebih dari itu, jika seseorang memiliki kemampuan merekayasa gambar, maka seorang fotografer tidak dilarang untuk menggunakan alat berupa Photoshop untuk memaksimalkan hasil bidikan kameranya. Sang dosen beralasan, segala bentuk Tools yang ada di Photoshop merupakan bagian Tools yang bisa pula ditemui dalam kamera.

Pendapat mereka yang menyatakan bahwa fotografi tidak sekedar DSLR dan membidik, sebenarnya lebih terkait mudahnya seseorang kini memperoleh kamera SLR. Asal seseorang memiliki ‘modal duit’ yang besar, maka ia bisa membeli kamera model SLR macam apa pun lengkap dengan jenis lensanya. Jika seseorang mampu membeli kamera yang mahal itu, boleh dibilang asal jepret saja yang bersangkutan sudah mampu menghasilkan sebuah foto yang menurut kebanyakan orang disebut bagus. Padahal yang bagus bukan orangnya, bukan man behind the camera-nya, namun yang hebat adalah kameranya itu sendiri. Lain halnya dengan seseorang yang memiliki kamera seadanya, namun dengan kemampuannya mengatur pencahayaan, mengatur komposisi warna dan lain-lainnya, ia bisa menghasilkan sebuah hasil yang mendekati bidikan kamera mahal. Di sinilah aku belajar tentang pentingnya sebuah proses daripada hasil.

Di akhir diskusi, aku sebenarnya menanyakan keherananku pada kawanku kenapa lebih suka memotret daripada membuat video? Foto adalah sebuah gambar mati dua dimensi yang tidak bergerak. Sementara video, merupakan sebuah gambar hidup yang bisa bergerak. “Bukankah lebih menarik video?” tanyaku.

Sobatku pun menjawab, “Kamu pernah melihat air yang dituangkan dari teko ke dalam cangkir?”

Pernah. Sering malahan,” jawabku.

Tak ada yang istimewa khan? Coba bayangkan jika kamu melihat air yang sedang dituangkan itu berhenti mengalir saat tengah dituangkan! Indah kan? Itulah keindahan fotografi. Nilai seni-nya tinggi,” ujarnya.

Kamu bisa memotret sisi dan seisi dunia ini dengan kamera sehingga muncul sebuah tampilan gambar yang menyampaikan ribuan bahkan jutaan pesan,” pungkasnya.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

13 Tanggapan

  1. Gimana dong, bagi saya kamera baru sekedar mengambil gambar saja.
    Belum sampai ke ranah seni, karena belum sempat belajar………..

    • @Ded: sama bro.. sy juga sampai hr ini br sekedar untuk media pengambil gambar saja. 😀
      belum smpai ke ranah seni..

  2. bersepakat dengan tulisan ini.
    ketika mau afdruk foto, si mbak malah nanya,”Mas, kok masih pake begini (film 35) sih?”

    hmmm… “belum tau rasanya ya 🙂

    • @Namakuananda: Ya dimaklumi sajalah mas…..
      kalupun kita jelasin mendetail, dia jg paling2 akan mlongo ga paham atau malah g ndengerin sama sekali. 😀

  3. saya pengen belajar fotografi,,,, cos hobi saya juga jeprat-jepret… 😀

    • @Mabruri: silakan mas… silakan nyari guru . jangan ke saya, sy bukan siapa2… 😀

  4. senang sennag di potret namun belum bisa memotret dengan hasil yang bagus, fokus nay masih jelek 😦

    • @Saptriyawati: Kalo sekedar motret mah, gak harus aneh2..
      gak fokus jg gak papa.. 😀
      namanya juga belajar.. 😀

  5. Haha saya suka banget percakapan yang terakhir. 😆

    • @Asop: dan karena itu juga lah Sop, aku pun akhirnya menyadari bahwa motret itu asyik…

  6. ternyata kamu pinter nulis… ajarin donk 🙂

    • @Yuni: kok bisa sih mbak?? Ajarin gimana? :-s :”> 😕 :-/

  7. memang foto memfoto mengasyikan gan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: