Belajar Ilmu Waris #1


Belajar Faraidh #1

Kasus Pembagian Warisan 1

Sabda Rasulullah SAW :“Pelajarilah ilmu faraidh (ilmu tentang warisan), karena ia termasuk bagian dari agamamu dan setengah dari ilmu. Ilmu ini adalah ilmu yang akan pertama kali dicabut dari umatku”(HR. Ibnu Majah, al-Hakim, dan Baihaqi).

Pada artikel ini, aku tidak terlalu membahas masalah ilmu faraidh secara teoretis yang mungkin akan lebih rumit. Artikel ini lebih membahas pada tataran praktis dan teknis berdasarkan studi kasus tertentu yang didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan cara pembagian harta warisan secara islami yang diajukan oleh seseorang.

Sebagai pembelajaran pertama, ada sebuah kasus seorang laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan beberapa Ahli Waris (AW) ketika meninggal dunia. AW-nya yaitu: 2 orang saudari kandung perempuan, 1 orang saudara kandung laki-laki, dan seorang istri. Sementara itu, Bapak dan Ibunya si Pewaris sudah meninggal dunia. Si Pewaris pun juga tidak memiliki anak. Lalu, berapa jatah bagian masing-masing AW-nya?

Diketahui:

Dengan demikian, pada kasus di atas ada seorang Pewaris yang memiliki jumlah total Ahli Waris sebanyak 4 (empat) orang, yaitu:

  • 1 orang Istri
  • 1 saudara kandung
  • 2 saudari kandung

Jatah Bagian

1. Istri memperoleh jatah bagian ¼ Harta Warisan (HW) karena tidak memiliki anak.

Dasarnya: “...Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak….” (QS. An Nisa’ Ayat 12).

2. Saudara-saudara Pewaris berhak memperoleh sisa ¾ nya. Karena saudara kandung Pewaris terdiri dari saudara laki-laki dan saudari perempuan, maka berlaku pula kaidah bahwa “laki-laki memperoleh jatah dua bagian dari wanita”.

Cara Penghitungan

Cara menghitungnya, harta peninggalan pewaris setelah dikurangi dengan hutang dan biaya penguburannya serta hal-hal lainnya yang menjadi kewajiban si pewaris, diserahkan sebanyak ¼ bagian terlebih dahulu kepada istri pewaris yang ditinggalkan karena Pewaris tidak memberikan wasiat.

Untuk lebih memudahkan, kita asumsikan misalnya si Pewaris memiliki harta warisan sebesar Rp. 24 juta. Dengan demikian, maka istri berhak memperoleh harta warisan sebesar ¼ x Rp. 24 juta = Rp. 6 juta. Dengan demikian, sisa harta warisannya adalah tinggal Rp. 18 juta. Sisa harta itu dibagi kepada 1 saudara kandung dan 2 saudari kandung si Pewaris.

Cara menghitungnya, karena laki-laki memperoleh bagian 2x bagian wanita, maka kita tulis nilai pembanding bagi saudara laki-laki adalah 2 (dua). Selanjutnya, nilai pembanding untuk seorang saudari kandung adalah 1 (dua). Namun karena saudari perempuan si Pewaris ada 2 (dua), maka secara otomatis nilai pembanding keduanya adalah 2 (dua) juga.

Dengan demikian, jatah warisan si laki-laki adalah {2 : (jumlah nilai pembanding)} x Harta Warisan (sisa). Maka hasilnya adalah 2/4 x Rp. 18 juta = Rp. 9 juta.

Sedangkan untuk kedua saudari perempuan si Pewaris, mereka berhak atas 2/4 x Rp. 18 juta = Rp. 9 juta. Hanya saja, nilai Rp. 9 juta itu harus dibagi dua kepada masing-masing saudari perempuan si pewaris sehingga masing-masing dari saudari perempuan si Pewaris berhak atas HW sebesar Rp. 4,5 juta atau 1/2 dari perolehan saudara laki-laki Pewaris.

Kesimpulan

Kesimpulannya, masing-masing Ahli Waris memperoleh harta warisan sebesar sebagai berikut:

  • Istri Rp. 6 Juta;
  • 1 saudara kandung Rp. 9 Juta;
  • 2 saudari kandung Rp. 9 Juta;

Penutup

Akhir kata, aku mengharapkan semoga artikel ini sedikit sebanyak menambah minat kita untuk mempelajari ilmu ini (Faraidh)dengan bersungguh-sungguh sehingga menjadi seorang yang ‘alim dalam bidang mawaris dan seterusnya mengajarinya kepada masyarakat secara umum serta mengajari secara khusus kepada mereka yang menunjukkan minat untuk mempelajari ilmu ini agar ilmu ini terus kekal hingga kiamat tiba.

Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan hasil kajian Program Mawarits yang disiarkan oleh Radio Dakwah Syariah (RDS) Solo bersama Ust. Nur Hadi setiap hari Kamis pukul 10.30 WIB yang bisa diakses dan didengarkan di seluruh dunia melalui RDS Streaming. Kiranya ada kekeliruan dan kesalahan, mohon kiranya dapat memberikan koreksi. Syukran. Jazakumullah khairan katsira.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

8 Tanggapan

  1. wahahaha teringat dulu terakhir belajar “Mawaris” di SMA, hmmm luamyan mesti ngapalin formulanya,
    memamg ilmu ini penting banget, walaupun pada kenyataannya orang2 udah lupa,,, kadang ngebagiin warisan seenaknya 😀

    • @Desita: Ternyata klo dipraktekin bisa lebih simpel lho…
      mksudnya dipraktekin itungannya lho..
      klo dipraktekin bener2an ya agak susah.
      krn kadang harta khan susah ngitungnya, susah pula membaginya…

  2. Sering ada yang nanya warisan ini pas acara mamah dedeh jam 5. Menambah ilmu banget. 🙂

    • @Asop: Klo di Mamah Dedeh itu kurang jelas.. :_s

  3. kita punya ebook tentang ilmu waris
    mungkin seperti kata rasulullah:
    inilah ilmu yang pertama kali dilupakan umat islam
    bdw… insyaAllah bermanfaat

    sedj

    • @Sedjatee: Iya mbak… sekarang jg sudah ada Aplikasi Waris, namun seharusnya, meskipun sudah ada aplikasi seperti itu, kita tetep harus WAJIB berusaha belajar lmunya… jangan sekedar ngandalin pakai alatnya…

  4. nice..
    sudah dirasa cukup adil dan rasional 🙂
    sempatkan juga mengunjungi website kami di http://www.hajarabis.com
    sukses selalu!!

    • @Hajar: insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: